Berita

Laut China Selatan: Pelayaran Maut, Nasib Buruh Tambang yang Terlupakan

Laut China Selatan: Pelayaran Maut, Nasib Buruh Tambang yang Terlupakan
Laut China Selatan: Pelayaran Maut, Nasib Buruh Tambang yang Terlupakan

Bayangkan ini: baru berbulan-bulan di lautan, niatnya cari cuan dari hasil tangkapan tuna, eh malah ketemu ajal duluan. Bukan gara-gara badai atau hiu ganas, tapi karena diet menu kapal yang isinya 'umpan' rasa basi dan air minum keruh yang bikin merinding. Beginilah nasib Abdul dan kawan-kawannya di kapal Tia Xiang 5, di mana panggilan laut berubah jadi panggilan alam baka akibat kelalaian yang luar biasa.

Awalnya sih cuma Abdul, yang masih lugu di pelayaran pertamanya Februari 2025. Kakinya bengkak, badannya lemas, tapi dibilang cuma 'lemah' dan 'kebanyakan drama'. Mau nggak mau, terus aja mejeng di dek kapal, padahal kayak mau pingsan. Kapal Tiongkok ini, yang katanya milik Shandong Zhonglu Oceanic Fisheries, ternyata jadi saksi bisu penderitaan kru lainnya. Gejala serupa menghantui: anggota tubuh nyeri membengkak, badan lemah tak berdaya, sampai sesak napas yang bikin panik. Tapi, jangankan pertolongan medis yang layak, istirahat dari rutinitas 16 jam kerja sehari aja susah didapat. Gaji 4,6 juta rupiah (sekitar Rp 3 jutaan) per bulan kayak nggak sepadan sama nyawa yang dipertaruhkan.

Soal asupan gizi, jangan ditanya. Cuma diberi ikan 'umpan' yang sudah nggak segar, rasanya pun ngeselin. Sayuran? Langka. Air minum pun jadi pertanyaan besar. Konon didistilasi dari air laut, tapi saat mesinnya ngadat, rasanya jadi kelewat asin. Kadang juga airnya berwarna kuning atau keruh, bikin curiga campur aduk antara haus dan was-was.

Kematian di Tengah Lautan: Dari Beri-beri Hingga Kelalaian Fatal

Perlahan tapi pasti, kondisi kru yang sakit makin memburuk. Abdul menyaksikan sendiri bagaimana teman-temannya satu per satu tak mampu bertahan. Isko, nelayan asal Filipina, jadi yang pertama. Dia dibilang 'berani' karena berani menantang kapten dan mengaku tidak sanggup bekerja. Alih-alih dikasihani, dia malah 'dihukum': dikucilkan dan dipaksa tidur di dek kapal, hanya beralaskan terpal yang tak mampu melindungi dari terik matahari maupun guyuran hujan. Sungguh perlakuan yang melampaui batas kemanusiaan.

Joko, 34 tahun, teman Abdul dari kota yang sama di Jawa Barat, menambahkan bahwa tidak ada alas tidur yang layak. "Cuma selimut," keluhnya. Parahnya lagi, kapten disebut-sebut tidak mengizinkan Isko kembali ke kamarnya selama empat hari penuh. Bayangkan, dalam kondisi sakit, malah diperlakukan seperti sampah. Padahal, Isko cuma minta haknya untuk istirahat dan mendapatkan perawatan yang semestinya.

Meskipun ada permohonan dari Isko yang sakit, kapten kapal tetap bergeming. Tidak ada niat untuk kembali ke pelabuhan, apalagi mengizinkan Isko pulang. Ironisnya, Isko akhirnya meninggal dunia empat hari kemudian, seperti yang diklaim Joko. Sebuah akhir yang tragis bagi seorang pejuang rupiah di lautan.

double quotation mark

Ini adalah kasus yang brutal, namun kenyataan pahitnya adalah ini tipikal dari apa yang terjadi di seluruh armada laut Tiongkok yang beroperasi jauh.Steve Trent, EJFMenurut kesaksian berbagai kru yang diwawancarai oleh Environmental Justice Foundation (EJF) dan dikonfirmasi oleh The Guardian, total ada tiga nelayan yang meninggal dalam pelayaran tersebut. Semuanya karena penyakit yang tidak terdiagnosis dengan baik. Gejala-gejala yang dialami kru sangat mirip dengan beri-beri, penyakit akibat defisiensi vitamin yang sering ditemui pada nelayan migran akibat diet yang tidak memadai. EJF pun angkat bicara, menyuarakan keprihatinan mendalam atas kejadian ini.

Perjuangan di Laut, Kehilangan di Darat

Abdul, yang sebelumnya bekerja di binatu dan tak pernah punya pengalaman melaut, merasa sangat sedih atas kepergian teman-temannya. "Selama delapan bulan itu, meski beda negara, kami bersama," tuturnya, ayah satu anak ini. "Saat teman-teman pergi, aku merasa sedih. Aku menangis. Mereka punya rencana, tentang apa yang akan dilakukan dan ke mana akan pergi. Mereka hilang begitu saja." Perasaan kehilangan yang mendalam, bercampur dengan ketakutan akan nasibnya sendiri. Ia khawatir giliran selanjutnya adalah dirinya.

Sebuah video yang cukup mengerikan, diperoleh EJF dan dilihat oleh The Guardian, memperlihatkan sosok mendiang Isko terbaring di koridor kapal. Sang perekam berusaha membangunkannya, lalu melakukan gestur yang diduga sebagai ritual pemakaman Islam. Rekaman itu kemudian beralih ke bawah dek, di mana kru lainnya tampak sibuk menjaring ikan. EJF telah memverifikasi video tersebut, mencocokkannya dengan rekaman lain dari kapal dan kru, termasuk cincin pelampung bertuliskan 'Tia Xiang 5'.

Joko menggambarkan suasana pasca-kematian Isko sebagai momen yang membuat mati rasa. "Setelah selesai kerja, kami ke atas," katanya. "Semua yang sudah selesai kerja ikut membantu." Mereka merakit peti mati darurat dari palet kayu, membungkus Isko dengan selimut, dan memasukkan jenazahnya ke dalam freezer kapal. Sebuah pemandangan yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Kembali ke Darat, Beban Hutang Menanti

Kematian Isko memicu ketakutan yang meluas di antara kru yang sakit. Namun, kapal baru kembali ke Singapura setelah nelayan ketiga yang sakit memburuk kondisinya. Tragisnya, nelayan tersebut meninggal dalam perjalanan menuju daratan, menurut keterangan kru yang diwawancarai EJF. Abdul sendiri baru bisa turun kapal dengan kondisi kaki yang membengkak luar biasa, bagai 'kaki gajah', hingga harus menggunakan kursi roda di bandara Singapura.

Sesampainya di Jakarta, ia langsung dilarikan ke rumah sakit dan didiagnosis menderita penyakit limfatik. Butuh waktu dua hingga tiga bulan dan biaya pengobatan tambahan yang tidak sedikit untuk pulih sepenuhnya dari trauma fisik dan mental. Pendapatannya selama delapan bulan di laut, setelah dipotong berbagai biaya termasuk 6,5 juta rupiah untuk pengobatan, hanya menyisakan 11,9 juta rupiah. Sungguh sebuah ironi pahit.

Seruan Transparansi di Industri Perikanan

Abdul, yang bersedia nama depannya digunakan, berharap kisahnya dapat mendorong perbaikan kondisi kerja bagi para pekerja migran. Steve Trent, CEO dan pendiri EJF, menyebut insiden di Tia Xiang 5 sebagai "kasus penelantaran ekstrem yang tidak dapat dimaafkan" dan "serangan brutal terhadap hak asasi manusia". Ia menambahkan bahwa situasi ini sangat umum terjadi di armada perikanan Tiongkok yang beroperasi di perairan jauh.

EJF telah mengumpulkan ratusan kesaksian kru, yang diverifikasi dengan kontrak, paspor, dan pelacakan satelit. Trent menegaskan bahwa kondisi kerja yang mengerikan ini memaksa kru untuk terus bekerja alih-alih diturunkan ke darat. Tiga kematian dalam satu pelayaran adalah fakta yang tidak dapat ditoleransi.

Ikan yang ditangkap oleh kru ini berpotensi masuk ke pasar Uni Eropa. EJF mengetahui bahwa Shandong Zhonglu memiliki akses ke pasar Jepang, Uni Eropa, Korea Selatan, dan Inggris. Produk laut yang berasal dari praktik eksploitatif ini bisa saja berakhir di piring masyarakat. Oleh karena itu, EJF menyerukan Inggris dan negara-negara lain untuk meratifikasi Global Charter for Transparency. Laporan tahun lalu menemukan bahwa pemeriksaan kritis terhadap produk laut yang masuk ke Inggris menurun drastis sejak negara itu keluar dari Uni Eropa.

Setiap tahun, Inggris menerima sekitar 1.000 sertifikat tangkapan dari Tiongkok, setara dengan rata-rata 58.000 ton produk laut. Namun, terlepas dari rekam jejak armada tersebut yang buruk dalam penangkapan ilegal dan pelanggaran hak pekerja, Inggris hanya menolak empat pengiriman produk laut dari Tiongkok sejak 2012. Ini menunjukkan bahwa impor tersebut tidak disaring dengan benar, menurut Koalisi untuk Transparansi Perikanan.

Nelayan di kapal tuna longline memang rentan terhadap jam kerja berlebihan karena proses pemasangan dan penarikan jaring yang memakan waktu lama. Ben Harkins dari International Labour Organization (ILO) menyatakan bahwa ini adalah tantangan global besar. Titik awal yang krusial adalah adanya kerangka hukum mengenai kondisi kerja. Sayangnya, konvensi ILO untuk kapal perikanan, standar kerja internasionalnya, belum diratifikasi oleh sebagian besar negara Asia Tenggara, kecuali Thailand.

Meskipun ada banyak kendala legal dan praktis bagi nelayan migran untuk berserikat, pengalaman menunjukkan bahwa pengorganisasian dapat menjadi kekuatan pendorong untuk perbaikan upah dan kondisi kerja. Shandong Zhonglu Oceanic Fisheries, perusahaan perekrut, dan kedutaan besar Tiongkok di Inggris telah dihubungi untuk dimintai komentar mengenai dugaan pelanggaran ini.

Redaksi Tujuhcahaya

Media house digital independen yang mengeksplorasi jurnalisme investigatif, teknologi, kultur urban, musik, dan dinamika sosial masyarakat modern berpedoman pada standar jurnalisme berkualitas.