Berita

Kekerasan Terhadap Perempuan: WHO Ungkap Dampak Mengerikan & Mendesak Tindakan Nyata

Kekerasan Terhadap Perempuan: WHO Ungkap Dampak Mengerikan & Mendesak Tindakan Nyata
Kekerasan Terhadap Perempuan: WHO Ungkap Dampak Mengerikan & Mendesak Tindakan Nyata

Dunia ini memang penuh drama, tapi tahu nggak sih yang lebih dramatis dari episode terakhir sinetron azab? Yap, angka kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan yang nggak kunjung turun. Padahal, udah banyak kampanye, seminar, sampai orasi di Bundaran HI, tapi kok ya masih banyak kasus aja? Ini bukan sinetron, ini realita yang lebih bikin nyesek dari notif "kuota internet habis" di tengah ranked game.

Data WHO: Kekerasan Masih Jadi Musuh Abadi Perempuan

Data terbaru dari WHO (Organisasi Kesehatan Dunia, bukan Warung Hokky Online ya) menunjukkan bahwa hampir satu dari tiga perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan seksual atau kekerasan dari pasangan selama hidupnya. Angka ini nggak jauh beda dari tahun 2000. Artinya? Usaha kita selama ini kayak farming di early game, hasilnya belum signifikan buat nge-push tower kekerasan.

Kekerasan ini bukan cuma bikin memar fisik, tapi juga mental. Dampaknya bisa panjang, mulai dari depresi, trauma, sampai kesulitan buat berkembang di masyarakat. Ibaratnya, perempuan itu hero yang di-nerf habis-habisan sebelum bisa nunjukkin potensinya.

Mirisnya Situasi di Asia Pasifik: Lebih Parah dari yang Kita Kira?

Di wilayah WHO Pasifik Barat, lebih dari seperempat perempuan pernah mengalami kekerasan dari pasangan atau kekerasan seksual. Angka ini bikin kita mikir, ini Pasifik apa lautan air mata? Kekerasan dari pasangan memang bervariasi antar negara, tapi tetep aja, satu dari lima perempuan di wilayah ini kemungkinan besar pernah ngalamin kekerasan dari orang terdekatnya.

Beberapa negara kepulauan di Pasifik malah punya angka yang lebih ngeri, sampai satu dari dua perempuan pernah jadi korban kekerasan. Ini udah kayak boss battle yang nggak ada cheat code-nya. Ironisnya, pulau-pulau yang seharusnya jadi surga, malah jadi neraka buat sebagian perempuan.

Dr. Piukala: "Kekerasan itu Pelanggaran HAM yang Serius!"

Menurut Dr. Saia Ma’u Piukala, Direktur Regional WHO untuk Pasifik Barat, kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan adalah pelanggaran hak asasi manusia yang paling parah dan ancaman serius bagi kesehatan. Kata-kata beliau ini kayak nuke yang nyadarin kita, bahwa masalah ini udah darurat banget. Pemerintah dan masyarakat harus gercep bikin kebijakan yang lebih kuat, ningkatin upaya pencegahan, dan investasi di sistem kesehatan.

Sistem Kesehatan: Udah Siap Jadi Tameng?

Sebenarnya, ada secercah harapan dari survei WHO tentang kesiapan sistem kesehatan dalam menanggapi kekerasan interpersonal. Banyak negara udah mulai masukin strategi pencegahan kekerasan ke rencana nasional mereka. Mereka sadar, sistem kesehatan punya peran penting dalam ngadepin masalah ini. Tapi, kayak main MMORPG, rencana doang nggak cukup, implementasinya juga harus GG (good game)!

Tapi... Masih Banyak PR yang Harus Dikerjain

Survei WHO juga nemuin banyak tantangan dalam implementasi strategi ini. Misalnya, masih banyak celah dalam ketersediaan layanan penting dan kekuatan sistem data di berbagai wilayah. Ibaratnya, kita udah punya item bagus, tapi skillnya belum di-upgrade.

Contohnya, layanan untuk korban kekerasan dari pasangan dan perawatan pasca-pemerkosaan belum merata. Padahal, layanan ini penting banget buat bantu korban pulih. Selain itu, data tentang kekerasan terhadap perempuan juga masih minim, jadi susah buat mantau dan bikin kebijakan yang efektif.

Data itu Nyawa, Jangan Dianggap Angka!

Dr. Hiromasa Okayasu, Direktur Divisi Lingkungan Sehat dan Populasi di Kantor Regional WHO untuk Pasifik Barat, bilang bahwa setiap data itu mewakili satu orang. Setiap statistik bantu kita buat ngerti, di mana tindakan kita bakal berdampak paling besar. Ini kayak map yang nunjukkin lokasi loot terbaik, tapi kalo nggak diambil, ya percuma.

Dr. Okayasu juga ngajak sektor kesehatan buat jadi garda terdepan dalam mencegah dan menanggapi kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan. Caranya? Pastiin layanan yang berpusat pada korban dan bikin tenaga kesehatan lebih peka tentang peran penting mereka. Pemerintah dan pembuat kebijakan juga harus perkuat mekanisme hukum dan kebijakan yang melibatkan sektor kesehatan.

WHO Nggak Cuma Ngomong, Tapi Juga Ngasih PR

WHO ngasih beberapa rekomendasi buat negara-negara anggota dan mitra, di antaranya:

  • Integrasi pencegahan dan penanganan kekerasan berbasis gender ke semua kebijakan kesehatan dan pembangunan.
  • Tangani kekerasan dari pasangan dan kekerasan seksual secara komprehensif, termasuk perawatan pasca-pemerkosaan dalam rencana nasional.
  • Bikin panduan untuk sistem kesehatan dalam menanggapi kasus kekerasan terhadap perempuan, sesuai dengan standar hak asasi manusia internasional dan pedoman WHO.
  • Pastikan perawatan pasca-pemerkosaan tersedia di semua fasilitas kesehatan dan di setiap wilayah.
  • Perluas pelatihan tenaga kesehatan, sistem pengawasan, dan intervensi berbasis bukti.
  • Kumpulin data terpilah tentang kekerasan terhadap perempuan secara rutin buat bikin kebijakan yang lebih baik.

Ayo, Ubah Data Jadi Aksi Nyata!

Dr. Piukala nutup dengan pesan yang ngena banget: "Mengubah data menjadi aksi berarti mengubah informasi menjadi akuntabilitas, dan akuntabilitas menjadi pencegahan." Setiap komitmen yang dibuat, kebijakan yang diperkuat, dan layanan yang diberikan, ngebawa kita lebih deket ke dunia di mana semua perempuan dan anak perempuan aman, sehat, dan berdaya buat berkembang. Bangun masa depan yang lebih aman dimulai dari keputusan yang kita buat hari ini.

Saatnya Naik Level: Bikin Dunia Nyata Nggak Kalah Seru dari Game!

Intinya, kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan itu bukan cuma masalah individu, tapi masalah kita semua. Ini kayak bug di sistem yang harus segera diperbaiki sebelum ngerusak seluruh program. Jadi, mari kita sama-sama jadi gamer yang nggak cuma jago main game, tapi juga jago bikin dunia nyata jadi tempat yang lebih aman dan nyaman buat semua orang, terutama buat para perempuan yang seringkali jadi target empuk kekerasan. Siap level up?

Redaksi Tujuhcahaya

Media house digital independen yang mengeksplorasi jurnalisme investigatif, teknologi, kultur urban, musik, dan dinamika sosial masyarakat modern berpedoman pada standar jurnalisme berkualitas.