Berita

Gempa Kīlauea 1975: Pelajaran dari Masa Lalu, Kesiapsiagaan Masa Depan untuk Generasi Z dan Milenial

Gempa Kīlauea 1975: Pelajaran dari Masa Lalu, Kesiapsiagaan Masa Depan untuk Generasi Z dan Milenial
Gempa Kīlauea 1975: Pelajaran dari Masa Lalu, Kesiapsiagaan Masa Depan untuk Generasi Z dan Milenial

Bayangkan begini: bumi bergetar, rumah bergoyang, dan kopi tumpah. Bukan karena mantan ngajak balikan (duh, trauma), tapi karena gempa bumi. Nah, tim ilmuwan dari U.S. Geological Survey Hawaiian Volcano Observatory (HVO) ini nggak cuma diem ngopi sambil nungguin gempa reda. Mereka justru asyik ngulik data, bikin hipotesis, dan—taraaa!—nemuin sesuatu yang menarik soal Kīlauea, gunung berapi paling aktif di Hawaii.

Dulu Gempa, Sekarang... Apa?

Jadi gini, dulu banget, tepatnya tahun 1975, Hawaii diguncang gempa bumi dahsyat. Para ilmuwan HVO curiga, jangan-jangan Kīlauea punya andil. Mereka mulai ngumpulin data dan bikin teori konspirasi—eh, hipotesis maksudnya—bahwa sisi selatan Kīlauea ini bisa jadi sumber gempa besar berikutnya. Ibaratnya, Kīlauea ini kayak bom waktu yang siap meledak kapan aja. Untungnya, mereka berhasil mencetak temuan tersebut sebelum gempa 1975 benar-benar terjadi.

Sebelumnya, gempa bumi besar kayak tahun 1868 itu disalahin ke sebuah patahan horizontal (décollement) yang letaknya di antara kerak samudra purba dan lava-lava yang dimuntahin Mauna Loa dan Kīlauea. Patahan ini paling dalem di bawah Pulau Hawaiʻi dan makin dangkal kalo deket pantai. Tapi, data gempa Kalapana nunjukkin kalo gerakan utamanya juga ada di patahan décollement ini, meskipun kejadian tahun 1975 itu lebih rumit. Ada juga pergeseran vertikal di atas tebing-tebing (pali) di sisi selatan Kīlauea. Nah, pali ini adalah ekspresi permukaan dari sistem patahan Hilina. Dari situ, para ilmuwan mulai mikir, jangan-jangan sistem patahan Hilina ini nyambung langsung ke patahan décollement?

Mitos Hilina: Terhubung atau Tidak Terhubung, Itulah Pertanyaannya

Setelah 50 tahun ngumpulin data tambahan, ternyata skenario itu nggak kejadian, gengs. Salah satu buktinya adalah serangkaian profil refleksi seismik lepas pantai yang dipublikasi tahun 2000. Teknik ini kayak MRI buat ngeliat isi perut bumi. Hasilnya nunjukkin kalo kepala patahan sistem Hilina itu melengkung ke bawah dan nggak cukup dalem buat ketemu sama décollement. Ini artinya blok patahan Hilina lebih kecil dari yang dikira dan dua struktur itu nggak nyambung langsung. Jadi, kayak cinta kamu sama dia: keliatannya deket, tapi ternyata nggak bisa bersatu. Nyesek.

GPS: Mata-Mata yang Nggak Pernah Tidur

Setelah gempa 1975, HVO dan University of Hawaiʻi di Mānoa langsung pasang alat GPS di sisi selatan Kīlauea. Alat ini berfungsi buat ngerekam gerakan sisi selatan yang terus geser ke arah laut dengan kecepatan sekitar 5 cm per tahun. Bayangin, gunung aja bisa move on, masa kamu nggak? Tapi, gerakan ini nggak selalu stabil. Setiap 2-3 tahun, sisi gunung ini kayak ngebut selama 2-3 hari dalam fenomena yang disebut slow slip event. Kejadian ini ngelepas energi yang setara sama gempa magnitudo 6, tapi kejadiannya pelan banget jadi nggak ada guncangan yang ngerusak.

Slow Slip Event: Bukan Cuma Milik Hawaii

Slow slip event ini ternyata nggak cuma kejadian di Hawaii. Fenomena ini juga ditemuin di patahan lain di seluruh dunia, termasuk patahan San Andreas dan zona subduksi Cascadia. Penemuan slow slip event di Kīlauea ini penting banget buat nunjukkin kalo kejadian ini nggak cuma ada di perbatasan lempeng tektonik, tapi juga hasil dari gesekan patahan yang bisa kejadian di mana aja dengan kondisi gesekan yang pas. Jadi, kayak kamu yang nemuin chemistry sama temen se-geng: nggak harus jadian, tapi tetep seru.

Gempa 2018: Konfirmasi Hipotesis

Gempa magnitudo 6.9 tahun 2018 juga ngasih pencerahan baru soal gempa 1975. Waktu gempa ini terjadi, nggak ada bukti gerakan di pali. Dengan semua yang udah dipelajarin soal struktur sisi selatan Kīlauea selama 50 tahun terakhir, kemungkinan besar ini karena gempa 2018 lebih kecil dari tahun 1975. Guncangan kuat selama gempa 1975 mungkin jadi penyebab gerakan di sistem patahan Hilina, sebuah proses yang disebut pemicuan dinamis. Kayak efek domino, satu kejadian bisa nyebabin kejadian lain.

Zona Penyangga: Rem untuk Hilina

Tapi, meskipun ada gempa besar, gerakan zona patahan Hilina tetep ada batasnya. Profil refleksi seismik yang dipublikasi tahun 2000 nunjukkin kalo patahan décollement ini bikin zona kerak yang keangkat (toe) pas deket permukaan. Zona ini berfungsi kayak penyangga buat sisi gunung, ngelindungin dari gerakan yang terlalu besar. Ibaratnya, kayak kamu yang punya temen yang selalu ngingetin buat nggak kebablasan. Thanks, bestie!

Warisan Gempa 1975: Pemahaman yang Lebih Baik

Pemahaman yang lebih baik soal kelakuan sisi selatan Kīlauea ini adalah warisan dari gempa 1975. Kita jadi lebih ngerti soal ukuran gempa yang bisa dibangkitin di patahan décollement. Intinya, siap siaga itu penting banget. Informasi soal cara bikin rumah dan keluarga siap menghadapi gempa bisa diliat di https://www.ready.gov/earthquakes. Jadi, jangan sampe kayak SpongeBob yang panik pas ada gempa. Stay safe, gengs!

Update Aktivitas Gunung Berapi

Kīlauea udah erupsi beberapa kali di dalam puncak kaldera sejak 23 Desember 2024. Level siaga USGS Volcano ada di WATCH. Erupsi Episode 37 terjadi selama 9 jam pada 25 November. Puncak gunung mengembang lagi dan pijar keliatan dari ventilasi selatan di malam hari. Episode erupsi lain kayaknya bakal terjadi, tapi paling cepet seminggu lagi menurut model perkiraan. Nggak ada aktivitas aneh di Zona Celah Timur atau Zona Celah Barat Daya Kīlauea.

Mauna Loa nggak erupsi. Level siaga USGS Volcano ada di NORMAL.

Ada tiga gempa bumi yang kerasa di Kepulauan Hawaii selama seminggu terakhir: gempa M3.4 25 km (15 mi) timur laut Hala‘ula di kedalaman 4 km (2 mi) pada 26 November pukul 4:24 pagi HST, gempa M4.6 15 km (9 mi) selatan-tenggara Fern Forest di kedalaman 5 km (3 mi) pada 25 November pukul 11:49 malam HST, dan gempa M3.2 15 km (9 mi) timur-selatan-timur Waikoloa di kedalaman 30 km (18 mi) pada 20 November pukul 3:43 sore HST.

HVO terus mantau Kīlauea dan Mauna Loa dengan ketat.

Kunjungi website HVO buat artikel Volcano Watch sebelumnya, update Kīlauea dan Mauna Loa, foto gunung, peta, info gempa terbaru, dan lainnya. Kirim pertanyaan ke askHVO@usgs.gov.

Kīlauea: Lebih dari Sekadar Tumpukan Lava

Kīlauea mungkin cuma gunung berapi bagi sebagian orang. Tapi, buat para ilmuwan HVO, gunung ini kayak pacar yang penuh misteri. Ada aja kejutan yang bikin penasaran. Dari gempa bumi sampe slow slip event, Kīlauea terus ngasih pelajaran berharga soal bumi dan seisinya. Jadi, lain kali kalo kamu denger soal Kīlauea, inget ya, gunung ini nggak cuma tumpukan lava. Ada cerita seru di baliknya!

Redaksi Tujuhcahaya

Media house digital independen yang mengeksplorasi jurnalisme investigatif, teknologi, kultur urban, musik, dan dinamika sosial masyarakat modern berpedoman pada standar jurnalisme berkualitas.