Tech

<p><strong>Tech 2025: DJI Diblokir, Pajak EV Dihapus, dan Nasib Suram Konsumen AS</strong></p>

<p><strong>Tech 2025: DJI Diblokir, Pajak EV Dihapus, dan Nasib Suram Konsumen AS</strong></p>
<p><strong>Tech 2025: DJI Diblokir, Pajak EV Dihapus, dan Nasib Suram Konsumen AS</strong></p>

Dunia teknologi itu kadang kayak sinetron azab, ada aja yang ketiban apes. Tapi, alih-alih nangisin nasib, mending kita ketawa bareng sambil nyimak siapa aja sih yang masuk daftar "Loser Terbesar 2025" versi Engadget. Siap-siap, karena mungkin aja, kita termasuk di dalamnya. Ups!

DJI dan Mimpi Drone yang Tertunda

Buat para penggemar drone di Amerika Serikat, siap-siap gigit jari. Pasalnya, semua drone buatan DJI—yang notabene menguasai 75% pasar—bakal susah ditemuin. Alasannya klasik: dicurigai jadi mata-mata China. Padahal, drone DJI ini terkenal bandel dan canggihnya minta ampun. Pemerintah AS kayaknya lebih memilih warganya pakai drone yang nggak jelas daripada ambil risiko. Ironis, kan?

Masalahnya, DJI ini udah kayak Indomie di dunia perdronan. Keberadaannya terlalu dominan, dan begitu hilang, pasar jadi oleng. Padahal, DJI udah mohon-mohon minta di-review keamanannya. Tapi, kalau pemerintah AS tetap kekeuh, ya wassalam. Pilihan drone di AS bakal menciut drastis, kayak dompet akhir bulan.

TMA
Engadget

Jadi, buat kalian yang pengen beli drone DJI di AS, siap-siap aja nyari di pasar gelap atau pindah negara. Atau, ya sudahlah, nabung aja buat beli tiket pesawat, biar bisa lihat pemandangan dari atas awan langsung. Nggak kalah keren, kan?

Mobil Listrik: Antara Harapan dan Kenyataan Pahit

Di saat penjualan mobil listrik (EV) di seluruh dunia melonjak 25%, dan Jerman mencetak rekor dengan satu dari lima mobil baru adalah EV, Amerika Serikat malah bikin ulah. Gara-gara kebijakan Trump yang mencabut insentif pajak EV, penjualan mobil listrik di AS langsung nyungsep. Ford, misalnya, sampai merugi 60% year-over-year. Ini namanya maju kena, mundur juga kena.

Kebijakan ini, kata Sam Rutherford, sama aja kayak nambahin polisi tidur di jalan menuju mobil listrik murah. Investasi jadi seret, dan produsen mobil AS makin ketinggalan dari pesaingnya di negara lain. Padahal, potensi EV ini gede banget, bisa mengurangi polusi dan bikin kita nggak ketergantungan sama bensin. Tapi, ya sudahlah, mungkin pemerintah AS lebih suka lihat kita batuk-batuk di jalanan.

Xbox dan Nasibnya yang Nggak Seberuntung PlayStation

Siapa bilang konsol game cuma buat hiburan? Nyatanya, persaingan di dunia konsol ini lebih sengit dari sinetron perebutan warisan. Xbox, sayangnya, belum berhasil merebut hati para gamer. Padahal, Microsoft udah jor-joran investasi dan bikin game eksklusif. Tapi, tetap aja, PlayStation masih jadi primadona.

Mungkin, Xbox kurang greget dalam berinovasi atau kurang peka sama selera pasar. Atau, bisa jadi, Sony memang terlalu jago dalam bikin konsol yang bikin nagih. Yang jelas, Xbox harus kerja keras kalau nggak mau terus-terusan jadi underdog. Atau, mungkin, mending fokus aja bikin Windows yang nggak bikin emosi.

Grok: Ambisi AI yang Belum Kesampaian

Di tengah gegap gempita dunia kecerdasan buatan (AI), ada satu nama yang kurang bersinar: Grok. Proyek AI ambisius ini digadang-gadang bakal jadi pesaing berat ChatGPT, tapi nyatanya, masih jauh panggang dari api. Grok masih sering ngasih jawaban yang ngaco, nggak relevan, atau bahkan berbahaya. Ini namanya, cita-cita setinggi langit, realita sebatas awan mendung.

Masalahnya, dunia AI ini udah kayak balapan Formula 1. Kalau nggak ngebut dan inovatif, ya bakal ketinggalan. Grok harus segera berbenah diri, belajar dari kesalahan, dan bikin terobosan yang bikin geleng-geleng kepala. Atau, mungkin, mending fokus aja bikin meme yang lucu dan nggak nyakitin hati.

Streaming TV: Ketika Pilihan Terlalu Banyak Bikin Bingung

Dulu, nonton TV itu gampang. Tinggal nyalain TV, pilih channel, dan nikmatin acaranya. Sekarang, dengan hadirnya berbagai platform streaming TV, pilihan jadi terlalu banyak. Netflix, Disney+, HBO Max, Amazon Prime Video, dan masih banyak lagi. Akibatnya, kita jadi bingung mau nonton apa dan akhirnya malah scroll terus sampai ketiduran. Ini namanya, kebebasan memilih yang berujung pada kebingungan abadi.

Selain itu, biaya langganan streaming TV ini juga nggak murah. Kalau langganan semua, bisa-bisa gaji sebulan habis buat bayar tagihan. Padahal, ujung-ujungnya, kita cuma nonton beberapa acara aja. Jadi, mending pilih yang paling penting aja atau langganan bareng teman biar lebih hemat. Atau, ya sudahlah, balik aja nonton TVRI, gratis dan nggak bikin pusing.

Ketika AI Malah Bikin Kesalahan di Acara TV Sendiri

Amazon punya ide brilian: bikin rekap acara TV Prime Video pakai AI. Tapi, hasilnya malah bikin geleng-geleng kepala. Rekap musim pertama serial Fallout penuh dengan kesalahan. Latar waktu Los Angeles di-setting pada tahun 1950-an, padahal seharusnya 2077. Lebih parah lagi, AI-nya salah paham sama akhir musim pertama. Ini namanya, niatnya bantu, malah bikin malu.

Ini jadi bukti kalau AI itu belum sempurna. Masih butuh banyak pelatihan dan pengawasan manusia biar nggak bikin kesalahan yang fatal. Jadi, buat kalian yang mau pakai AI, hati-hati ya. Jangan sampai AI malah bikin hidup kalian makin ribet. Atau, mungkin, mending serahin aja semua sama ahlinya, biar hasilnya nggak bikin sakit kepala.

The Game Awards 2025: Clair Obscur Sapu Bersih Penghargaan

Kalau kamu ketinggalan The Game Awards 2025, berarti kamu melewatkan momen bersejarah. Clair Obscur: Expedition 33 dari Sandfall Interactive menyapu bersih hampir semua kategori. Game berlatar Belle Epoque ini bahkan meraih Game of the Year dan memecahkan rekor sebagai game dengan kemenangan terbanyak dalam sejarah acara ini.

Selain itu, ada juga trailer dan pengumuman game baru yang menarik. Ada Resonant, sekuel dari Control, Star Wars: Fate of The Old Republic yang digarap veteran Mass Effect, dan Larian Studios yang kembali ke seri Divinity setelah sukses dengan Baldur’s Gate 3. Intinya, kalau mau menang di The Game Awards, ajak Jennifer English buat jadi pengisi suara karakter utama. Dia ada di BG3 dan Clair Obscur, lho!

Disney dan OpenAI: Kolaborasi yang Menggiurkan

Disney mengumumkan kerja sama selama tiga tahun dengan OpenAI untuk membawa lebih dari 200 karakter miliknya, termasuk dari Star Wars dan Pixar, ke aplikasi Sora dan ChatGPT. Artinya, pengguna OpenAI bisa bikin gambar dengan karakter Disney, lengkap dengan kostum, properti, kendaraan, dan lingkungan yang ikonik. Disney juga bakal investasi $1 miliar di OpenAI, dengan opsi untuk beli saham tambahan di masa depan. Ini namanya, simbiosis mutualisme yang bikin iri.

MasterClass: Belajar dari Ahlinya dengan Diskon Gede

Buat kalian yang lagi bingung cari kado liburan, MasterClass lagi diskon gede-gedean, sampai 40%. Dengan MasterClass, kalian bisa belajar langsung dari ahlinya, mulai dari tenis sama Serena Williams sampai musik sama John Legend. Lumayan buat nambah ilmu atau sekadar ngisi waktu luang. Tapi, ingat, jangan sampai lupa perpanjang langganan kayak saya. Ups!

Jadi, Siapa yang Paling Apes di Tahun 2025?

Dari daftar di atas, bisa disimpulkan kalau tahun 2025 ini penuh dengan kejutan dan ironi. Ada yang cita-citanya ketinggian, ada yang kebijakannya bikin rugi, dan ada juga yang teknologinya malah bikin repot. Tapi, yang jelas, hidup ini memang kayak roda berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Yang penting, tetap semangat dan jangan lupa ketawa. Karena, dengan ketawa, semua masalah jadi terasa lebih ringan. Setuju?

Redaksi Tujuhcahaya

Media house digital independen yang mengeksplorasi jurnalisme investigatif, teknologi, kultur urban, musik, dan dinamika sosial masyarakat modern berpedoman pada standar jurnalisme berkualitas.