Pernah nggak sih, lo ngerasa kayak Indiana Jones tapi lagi nyari promo cashback alih-alih artefak kuno? Nah, sama! Dunia modern ini emang absurd. Tapi di tengah hiruk pikuk disrupsi, ada oasis bernama Dunhuang yang mencoba menyeimbangkan tradisi dan inovasi. Bayangin, lo lagi asyik dengerin musik EDM, eh tiba-tiba ada yang nyodorin teh dari abad ke-7. Bingung, kan?
Dunhuang, kota yang dulunya jadi persimpangan penting Jalur Sutra, kini kembali bersinar lewat Eighth Silk Road (Dunhuang) International Cultural Expo. Lebih dari 1.200 peserta dari berbagai negara tumplek blek di sana. Mulai dari pejabat, seniman, sampai anak sekolahan ikut meramaikan acara ini. Tujuannya? Nggak cuma melestarikan warisan budaya, tapi juga bikin inovasi yang menarik perhatian dunia.
Tapi, tunggu dulu. Apa hubungannya Jalur Sutra sama musik *fiddle* ala Amerika? Ternyata, ada benang merahnya, bro! Kyle Dillingham, musisi folk dari Oklahoma, jauh-jauh dateng ke Dunhuang karena terinspirasi oleh sejarah panjang Jalur Sutra. Menurutnya, tanpa Jalur Sutra, musik *fiddle* tradisional Amerika nggak bakal ada. Soalnya, alat musik gesek itu asalnya dari Asia Tengah, terus nyebar ke Eropa lewat Jalur Sutra.
Dillingham bukan cuma sekali ini aja dateng ke Dunhuang. Dia udah enam kali bolak-balik ke sana. Salah satu alasannya adalah karena Gansu, provinsi tempat Dunhuang berada, punya hubungan persahabatan dengan Oklahoma. Dari situ, dia terinspirasi untuk nulis lagu berjudul "Old Friend". Liriknya nyeritain tentang pasang surut kehidupan, tapi pada akhirnya, kita semua adalah teman lama yang menatap masa depan yang cerah.
Jalur Sutra: Dulu Unta, Sekarang… *Cashback*?
Expo ini nggak cuma soal pertukaran barang dagangan kayak zaman dulu. Lebih dari itu, ini adalah tentang pertukaran ide dan budaya. Booth Thailand, misalnya, nggak jualan apa-apa. Mereka justru fokus menampilkan dimensi lain dari negaranya yang selama ini dikenal dengan pantai dan kulinernya. Ada pameran tentang drama topeng *khon*, festival Songkran, pijat *nuad* Thai, dan tari *nora*.
Sekretaris Permanen Kementerian Kebudayaan Thailand, Prasop Riangngoen, bilang kalau agama Buddha yang membentuk budaya Thailand saat ini, juga ikut nyebar lewat Jalur Sutra. Jadi, bisa dibilang, Jalur Sutra itu kayak *WiFi* zaman dulu. Sinyalnya nyebar ke mana-mana, menghubungkan berbagai peradaban.
Seniman Bangladesh, Mong Mong Sho, juga punya cerita menarik. Dia ikut serta dalam rombongan 20 seniman dari 12 negara untuk menelusuri Jalur Sutra di Gansu. Dua lukisannya yang dipamerkan di expo nyritain tentang perpaduan antara masa lalu dan masa kini, lokal dan global. Dia terinspirasi banget sama lukisan dan patung di Gua Mogao, Dunhuang. Katanya, dia merasa kayak lagi ngobrol sama jiwa-jiwa kuno.
Gua Mogao: Antara Mural Kuno dan *Virtual Reality*
Pengunjung yang dateng ke area pameran Dunhuang Studies nggak cuma belajar tentang pelestarian warisan budaya. Mereka juga bisa ngerasain gimana teknologi baru dipake buat melindungi dan merestorasi relik kuno. Bayangin, lo bisa jalan-jalan di replika Gua Mogao yang penuh mural dan patung. Atau, lo bisa nyobain eksplorasi digital lewat *virtual reality*. Jadi, lo bisa "ngeliat" gua-gua yang selama ini ditutup untuk umum.
Gambar-gambar dari gua juga banyak dipajang di aula sebelah. Di sana, lo bisa ngeliat gimana budaya tradisional Dunhuang dilestarikan dan gimana inovasi kreatif muncul dengan memanfaatkan media dan motifnya. Ada pengrajin yang ngejual bongkahan mineral yang digiling jadi pigmen buat ngelukis mural gua. Ada juga kipas kayu bakar yang dihias dengan ikon-ikon khas Dunhuang, kayak kuda Hexi dan unta bordir jerami gandum.
Tapi, yang lebih menarik lagi, ada nunchucks, keyboard, dan skateboard yang dihias dengan simbol-simbol Dunhuang. Ada rusa sembilan warna, Guanyin seribu tangan, dan apsara terbang yang lagi metik *pipa* (alat musik lute) dengan posisi yang unik. Ini kayak ngeliat perpaduan antara budaya kuno dan modern yang nggak terduga.
Inovasi ala Dunhuang: Dari Lukisan Gua ke Skateboard
Presiden Akademi Pariwisata China, Dai Bin, memuji kreasi budaya yang inovatif kayak gini. Menurutnya, ruang budaya dan skenario pariwisata baru yang diciptain sama pengusaha muda dan tim kreatif, dapet pujian sekaligus populer di kalangan warga lokal dan wisatawan. Dunhuang Printing House, misalnya, nawarin pengalaman seni dan kerajinan *do-it-yourself*.
Pengunjung bisa ngisi buku catatan dengan stempel tinta yang temanya Dunhuang. Stempel karetnya dihubungin sama katrol langit-langit ke bohlam kaca yang diisi pasir warna-warni. Jadi, pas lo nge-stempel kertas, pasirnya ikut goyang-goyang kayak lagi nari. Tamu juga bisa bikin barang-barang kayak tatakan keramik, cetakan timbul, dan barang pernis dengan harga yang lumayan.
Dai Bin ngejelasin kalau toko buku dan workshop kayak gini makin banyak bermunculan karena pengunjung nyari pengalaman yang lebih dari sekadar ngunjungin tempat wisata. Dulu, orang biasanya cuma dateng ke Gua Mogao, reruntuhan Xuanquan, Bukit Pasir Bernyanyi, dan Danau Bulan Sabit. Tapi sekarang, selain tempat-tempat bersejarah itu, ada banyak pertunjukan wisata yang nawarin pengalaman mendalam tentang kekayaan budaya Dunhuang.
Masa Depan Dunhuang: Street Dance atau E-Sports?
Dai Bin berharap para kreator yang lagi ngembangin industri budaya bisa mikir lebih *out of the box*. Dia ngasih pertanyaan yang menggelitik, "Bisakah Dunhuang Expo mendiversifikasi bentuk seninya? Simfoni dan tari itu bentuk seni, tapi gimana dengan *street dance*? Gimana dengan *e-sports* sebagai tren modern?"
Dia juga muji masuknya panel anak muda di acara tahun ini sebagai kompas yang nunjukin arah masa depan. "Setiap usaha atau industri yang gagal narik minat anak muda nggak punya masa depan. Expo tahun ini menyoroti anak muda, yang sangat praktis dan bisa bantu ningkatin kualitas platform," katanya. "Buat narik minat anak muda, kata kunci kayak 'fashion', 'vitalitas', dan 'masa depan' itu penting."
Intinya, Dunhuang lagi nyoba buat ngubah citranya dari sekadar kota kuno jadi destinasi wisata yang relevan dengan zaman sekarang. Mereka nggak cuma ngelestariin warisan budaya, tapi juga berani berinovasi dan ngembangin hal-hal baru yang menarik perhatian generasi muda. Pertanyaannya sekarang, apa artinya semua ini buat Dunhuang di masa depan? Ya, cuma waktu yang bisa jawab.



