Game

RoV: Skandal Cheat Pemain Top Thailand, Banned Seumur Hidup & Dampaknya di SEA Games

RoV: Skandal Cheat Pemain Top Thailand, Banned Seumur Hidup & Dampaknya di SEA Games
RoV: Skandal Cheat Pemain Top Thailand, Banned Seumur Hidup & Dampaknya di SEA Games

Dunia esports lagi rame nih. Bukan karena jagoannya menang terus, tapi justru karena drama yang lebih seru dari sinetron azab. Kali ini, giliran pemain RoV (Realm of Valor) asal Thailand yang kena getahnya. Ceritanya, doi dituduh curang sampai didiskualifikasi dari SEA Games dan dibanned seumur hidup. Wah, nggak kaleng-kaleng hukumannya!

Tokyogurl: Dari Ratu RoV Jadi Pesakitan Esports

Namanya Naphat Warasin, tapi lebih dikenal dengan nickname Tokyogurl di dunia RoV. Dia ini bukan sembarang pemain, lho. Kabarnya, Tokyogurl adalah salah satu yang terbaik di Thailand. Tapi, ketenarannya mendadak redup setelah dituduh pakai cheat saat pertandingan SEA Games ke-33 melawan Vietnam. Katanya sih, dia mainnya dibantu orang lain lewat software remote control. Ih, kayak film mata-mata!

Kejadiannya waktu Final Upper Bracket. Tokyogurl kelihatan mencurigakan dan sempat kepergok kasih jari tengah ke kamera. Setelah kalah telak 0-3, tuduhan demi tuduhan mulai berdatangan. Netizen—yang maha benar dan maha tahu—ramai-ramai menuduh Tokyogurl pakai software ilegal. Tapi, apa iya seorang pro player sekelas Tokyogurl butuh bantuan cheat?

TeamViewer dan Ghost Coaching: Modus Operandi Ala Esports?

Rumor yang beredar makin liar. Ada yang bilang, seorang wasit Thailand curiga karena gerakan jari Tokyogurl nggak sinkron sama aksi karakternya di game. Si wasit ini kemudian menemukan aplikasi TeamViewer di HP-nya Tokyogurl. Nah, TeamViewer ini diduga dipakai buat “ghost coaching” alias screen sharing. Jadi, ada coach atau pro player lain yang ngawasin layar Tokyogurl dari jauh dan ngasih arahan taktis. Kayak main catur online, tapi lebih canggih!

Singkat cerita, Tokyogurl dinyatakan bersalah melanggar aturan 9.4.3 Esports Technical Handbook. Federasi Esports Thailand (TESF) langsung mengeluarkan pernyataan resmi soal diskualifikasinya. Nggak cuma itu, klubnya, Talon Esports, juga langsung memecatnya. Puncaknya, Garena—sang penerbit RoV—memberinya banned seumur hidup dari semua kompetisi RoV. Sakitnya tuh di sini!

Tragisnya, kasus ini seolah jadi bukti bahwa dunia esports pun nggak lepas dari praktik-praktik kotor. Padahal, katanya esports itu menjunjung tinggi sportivitas dan fair play. Tapi, kok ya ada aja yang nekat curang demi sebuah kemenangan? Atau jangan-jangan, ini cuma salah paham?

"Kalo Gue Cheat, Harusnya Gue Menang Dong!": Pembelaan Ala Tokyogurl

Sebelum akun Facebook-nya lenyap ditelan bumi—akibat hujatan netizen—Tokyogurl sempat membela diri. Dia bilang, dia main sendiri dan nggak pakai cheat sama sekali. “Kalo gue cheat, harusnya gue menang dong!” ujarnya. Dia juga bilang, dia cuma gugup dan panik saat pertandingan, sampai akhirnya masuk rumah sakit. Soal TeamViewer, dia ngakunya cuma nyambungin HP ke internet pakai kabel. Nggak ada tuh screen sharing segala!

Soal jari tengah yang viral, Tokyogurl punya pembelaan sendiri. Dia bilang, dia cuma iseng nge-prank temannya. Dia kira kamera lagi fokus ke pemain lain, makanya dia berani kasih jari tengah. Eh, ternyata malah kena sorot kamera. Ngenes!

Ketika Rekan Setim Lebih Pilih Sherlock Holmes daripada Percaya Teman

Tapi, penjelasan Tokyogurl ini nggak sepenuhnya dipercaya sama rekan setimnya. Beberapa anggota tim curiga sama gerak-gerik Tokyogurl sejak dua hari sebelum final. Mereka bahkan sempat nanya langsung ke Tokyogurl, apakah dia curang atau nggak. Katanya sih, Tokyogurl langsung ngamuk dan minta maaf. Setelah diskusi sama coach, tim akhirnya memutuskan buat kasih Tokyogurl kesempatan, karena nggak ada bukti yang kuat.

Demi Nama Baik Bangsa, Tim RoV Putri Pilih Mundur dari SEA Games

Untuk menjaga nama baik bangsa, Asosiasi Esports Thailand (EAT) mengambil keputusan yang cukup drastis. Mereka menarik seluruh tim putri dari kompetisi SEA Games. Padahal, saat itu mereka lagi unggul 1-0 lawan Laos di final lower bracket. Tokyogurl langsung di-banned dari semua event yang diselenggarakan Garena, dan Talon Esports langsung memecatnya. Berat banget konsekuensinya!

"Hati Kami Hancur": Curhatan Pilu Tim RoV Putri Thailand

Setelah kejadian ini, beberapa pemain tim RoV putri Thailand mengungkapkan penyesalan mereka. Mereka bilang, mereka udah kerja keras banget buat kompetisi ini. Kapten tim, Jomkhon Pumsinil alias “Givemeakiss,” bilang, “Kami nggak tahu apa-apa soal tuduhan kecurangan ini. Hati kami hancur, dan kami minta maaf kepada masyarakat atas kejadian ini.”

Dalam sebuah wawancara di acara talk show terkenal, Hone Krasae, tim dan coach mengakui bahwa Tokyogurl memang pemain terbaik di Thailand. Dia juga memegang peran penting sebagai “carry” dalam tim. Hilangnya Tokyogurl jelas jadi pukulan berat buat tim.

RoV: Lebih dari Sekadar Game, tapi Industri yang Digandrungi di Thailand

Di Thailand, RoV bukan cuma sekadar game. RoV udah jadi fenomena budaya yang masif. Liga profesionalnya bahkan bisa nyaingin olahraga tradisional dalam hal jumlah penonton. Sejak diluncurkan tahun 2016, RoV jadi game mobile paling populer di Negeri Gajah Putih. Versi Thailand dari Arena of Valor ini diterbitkan oleh Garena Online (Thailand).

RoV bahkan diakui sebagai olahraga profesional oleh pemerintah Thailand. Tim-tim Thailand juga sering menangin gelar juara internasional, kayak AIC (Arena of Valor International Championship) dan APL (Arena of Valor Premier League). Jadi, nggak heran kalo kasus Tokyogurl ini jadi perhatian publik.

Carry: Jantungnya Tim RoV yang Rentan Diserang

Dalam RoV, “Carry” (atau sering disebut AD Carry alias Marksman) adalah sumber utama damage fisik jarak jauh yang berkelanjutan. Carry sangat penting di late game, karena bisa jadi pemain paling berbahaya kalo pertandingan berlangsung cukup lama. Makanya, carry sering jadi target utama tim lawan. Ibaratnya, carry itu jantungnya tim. Kalo carry-nya mati, timnya bisa kolaps.

Esports: Ketika Fair Play Diuji dan Drama Lebih Menarik dari Gameplay

Kasus Tokyogurl ini jadi tamparan keras buat dunia esports. Di satu sisi, esports menawarkan kesempatan bagi para gamer buat jadi atlet profesional dan berpenghasilan besar. Di sisi lain, godaan buat curang juga makin besar. Apalagi, persaingan di dunia esports makin ketat dan hadiahnya makin menggiurkan. Jadi, gimana caranya kita menjaga sportivitas dan fair play di dunia esports? Atau jangan-jangan, kita lebih tertarik sama dramanya daripada gameplay-nya?

Redaksi Tujuhcahaya

Media house digital independen yang mengeksplorasi jurnalisme investigatif, teknologi, kultur urban, musik, dan dinamika sosial masyarakat modern berpedoman pada standar jurnalisme berkualitas.