Musik

John Fogerty: Album Baru, Lagu Klasik Creedence, dan Masa Kelam

John Fogerty: Album Baru, Lagu Klasik Creedence, dan Masa Kelam
John Fogerty: Album Baru, Lagu Klasik Creedence, dan Masa Kelam

Mungkin kamu pernah mendengar lagu "Proud Mary" di radio dan berpikir, "Wah, lagu lawas tapi catchy banget!" atau malah mengira itu lagunya Tina Turner. Nah, di balik lagu-lagu klasik Creedence Clearwater Revival (CCR) ternyata ada cerita panjang yang lebih seru dari episode reality show drama keluarga. John Fogerty, sang frontman, baru saja merekam ulang lagu-lagu hits CCR dalam album terbarunya, Legacy: The Creedence Clearwater Revival Years. Ini bukan sekadar cover, tapi sebuah perjalanan panjang untuk merebut kembali hak atas karya-karyanya.

Dulu, Fogerty terlibat dalam serangkaian pertarungan hukum yang melelahkan dengan mendiang eksekutif musik Saul Zaentz, yang memiliki katalog lagu-lagu CCR. Bahkan, Zaentz pernah menggugat Fogerty karena dianggap menjiplak lagunya sendiri, "Run Through the Jungle," dengan lagu "Old Man Down the Road" yang dirilis tahun 1984. Can you believe it? Gugat diri sendiri lewat lagu?

Dua tahun lalu, bak petir di siang bolong, Fogerty akhirnya berhasil mendapatkan kembali hak penerbitan lagu-lagu CCR. Ini adalah kemenangan besar baginya, setelah puluhan tahun merasa seperti "tahanan perang." Tapi, bagaimana perjalanan panjang itu memengaruhi pandangannya tentang musik, warisan, dan bahkan...kematian? Mari kita bahas.

Rebut Kembali Lagu, Rebut Kembali Diri Sendiri

Fogerty mengakui bahwa ia sangat bangga dengan lagu-lagu yang ditulisnya, meskipun banyak hal dalam aspek hukum dan finansial justru berbalik melawannya. Bahkan, ia merasa kurang dikenal secara luas di Eropa, padahal ia adalah orang yang menamakan bandnya Creedence Clearwater Revival! Ini seperti punya warung kopi hits tapi malah orang lebih kenal logonya daripada pemiliknya.

Setelah CCR bubar dan masalah mulai berdatangan, Fogerty merasa hancur. Ia bahkan memberikan gitar Rickenbacker kesayangannya kepada seorang anak laki-laki. Gitar itu adalah saksi bisu lahirnya lagu-lagu hits seperti "Up Around the Bend" dan momen bersejarah di Woodstock. Ia berpikir dengan memberikan gitarnya, ia bisa membuang semua masalahnya dan memulai dari awal. Spoiler alert: ternyata tidak semudah itu.

Menjelajahi Masa Lalu Lewat Musik

Saat merekam ulang lagu-lagu CCR, Fogerty menyadari betapa dalamnya ia harus masuk ke dalam proses kreatifnya. Ia tidak hanya menyanyikan "Proud Mary" setiap malam. Ia mencoba menjadi dirinya yang berusia 23 tahun, mengingat suasana radio, mengingat apa yang terjadi di dunia, dan memahami mengapa dan bagaimana ia menulis "Proud Mary". Proses ini membantunya menghidupkan kembali jiwa dan pikirannya ke masa lalu.

Istrinya, Julie, bahkan bisa melihat perubahan di wajahnya saat ia melakukan proses kreatif itu. Fogerty menyadari bahwa di tahun 1968 atau 1969, ia melakukan sesuatu yang mirip dengan The Beatles, tetapi ia melakukannya sendirian. Tanpa bantuan penulis lagu lain. Salute!

Ledakan Kreativitas Tahun 1969: Resep Rahasia?

Tahun 1969 adalah tahun yang luar biasa bagi Fogerty. Ia merilis tiga album klasik dalam satu tahun: Bayou Country, Green River, dan Willy and the Poor Boys. Bagaimana ia bisa melakukan itu? Jawabannya adalah: kerja keras dan obsesi.

Ia mengaku menjadi "maniacally obsessed" dan bekerja lebih keras dari siapa pun yang ia kenal. Ia begadang setiap malam, menulis lagu sepanjang hari, dan terus memikirkan apa yang terbaik untuk bandnya. Ia bekerja seperti orang yang memiliki dua atau tiga pekerjaan sekaligus. Dedikasi tingkat dewa!

Kekuatan Sebuah Band dan Sentuhan Biologi

Meskipun memiliki banyak perselisihan dengan mantan anggota band CCR, Fogerty mengakui bahwa ada sesuatu yang istimewa tentang mereka. Ia tidak yakin bisa mencapai kesuksesan yang sama dengan musisi lain. Ia memberikan contoh saat kedua putranya bergabung dengan bandnya. Sinergi langsung terasa. Menurutnya, itu adalah "biologi".

Ia juga mengakui bahwa mendiang Tom Fogerty, Doug Clifford, dan Stu Cook memiliki peran penting dalam menciptakan suara khas CCR. Keempat orang itu menciptakan rekaman yang unik dan tidak terulang lagi dalam sejarah. Mereka semua memiliki tujuan yang sama: mencapai "tempat misterius di langit".

Blues, Ras, dan "Proud Mary"

Sebagai seorang anak, Fogerty berfantasi menjadi seorang pria kulit hitam. Ia terinspirasi oleh musik R&B dan musisi kulit hitam. Rasisme terasa asing baginya. Semua pahlawan atletik dan musiknya cenderung berkulit hitam. Lalu, apakah ia pernah mempertanyakan haknya untuk menyanyikan blues atau lagu seperti "Cotton Fields"?

Fogerty sadar bahwa ia adalah seorang pria kulit putih kelas menengah. Ia merasa penting untuk menyanyi dengan tulus dan jujur. Ia tidak ingin dianggap pandering atau bodoh. Saat menulis "Proud Mary", ia spontan menggunakan gaya bahasa yang mengingatkannya pada Howlin' Wolf. Ia merasa itu tidak masalah asalkan dilakukan dengan ketulusan.

Warisan, Kematian, dan "Diarrhea and Death"

Fogerty yakin bahwa lagu-lagunya akan hidup selamanya. Bagaimana hal itu memengaruhi pandangannya tentang kematian? Ia tertawa dan bercerita tentang iklan obat-obatan yang menyebutkan efek samping "diare dan kematian". Ia bahkan berencana membuat lagu dengan judul itu.

Ia mengakui bahwa saat mencapai usia 80 tahun, ia merasa sedikit takut. Namun, ia selalu tahu bahwa lagu-lagunya akan bertahan lama. Bahkan, saat menulis "Proud Mary", ia langsung menyadari bahwa ia telah menciptakan sebuah lagu klasik. Keyakinan yang powerful!

Jangan Lupa Jaga Vokal!

Bagaimana Fogerty bisa menjaga suaranya tetap prima setelah bertahun-tahun bernyanyi dengan gaya screaming grit? Rahasianya adalah: lakukan screaming dengan cara yang terkontrol dan tanpa paksaan. Jangan melampiaskan masalah mental ke dalam vokal.

Selain itu, ia juga menjaga pola makannya dan berusaha tetap tenang. Ia menyadari bahwa stres dan reflux dapat merusak pita suara. Ia belajar dari pengalaman dan menyesuaikan gaya hidupnya agar tetap bisa bernyanyi dengan baik. Ini penting, guys! Jaga kesehatan!

Legasi: Lebih dari Sekadar Musik

John Fogerty ingin dikenang sebagai musisi yang mencintai musik dan berusaha menghormatinya sepanjang hidupnya. Ia tidak ingin menyembunyikan kesalahan dan masa lalunya yang kelam. Ia pernah menjadi seorang pecandu alkohol dan merasa sengsara.

Pertemuannya dengan istrinya, Julie, adalah kunci kebangkitannya. Ia berhasil mengatasi masa-masa sulitnya dengan bantuan orang yang luar biasa. Ia merasa beruntung telah hidup cukup lama dan bertemu dengan orang yang tepat. Baginya, kehidupan nyata lebih penting daripada karier. Dan Julie adalah bagian penting dari kehidupan dan kariernya. So sweet!

Jadi, apa pelajaran yang bisa kita petik dari kisah John Fogerty? Bahwa keberhasilan merebut kembali hak atas karya tidak hanya tentang aspek hukum, tetapi juga tentang merebut kembali diri sendiri, menghargai masa lalu, dan tetap bersemangat untuk berkarya di masa depan. Jangan biarkan siapapun merenggut hakmu dan teruslah berkarya! Siapa tahu, lagumu bisa jadi evergreen kayak "Proud Mary"!

Redaksi Tujuhcahaya

Media house digital independen yang mengeksplorasi jurnalisme investigatif, teknologi, kultur urban, musik, dan dinamika sosial masyarakat modern berpedoman pada standar jurnalisme berkualitas.