Bikin game itu kayak nyusun skripsi sambil dikejar deadline nikahan. Idenya sih seluas Samudra Hindia, tapi eksekusinya seringkali kandas di tengah jalan. Konon, bermodal semangat membara dan secuil ide cemerlang sudah cukup untuk merajai industri game di Afrika. Realitanya? Kebanyakan developer berakhir gigit jari, proyek mangkrak, dan dompet menjerit.
Bikin Game Ternyata Lebih Susah daripada Bikin Mie Instan
Feranmi Oladosu, CEO dan pendiri Fer Factor, buka-bukaan soal pahit getirnya bikin game di ajang Gamathon 25. Sesi bertajuk 'Bikin game itu lebih susah daripada yang kamu kira' ini jadi oase kejujuran di tengah gurun pasir motivasi. Oladosu, yang lagi sibuk garap Tossdown, game roguelike tentang kurir super ribet, menegaskan bahwa meski susah minta ampun, prosesnya tetap doable alias bisa diusahakan.
Kata Oladosu, kalau Afrika kebanjiran game jadi, lapangan kerja bakal tumbuh subur, mentor bertebaran, dan siklus positif terus berputar. Resepnya? Bikin game kecil sebanyak mungkin, lalu tuntaskan! Setiap game kecil yang dirilis itu ibarat kuliah S3, selalu ada ilmu baru yang nggak diajarin di game sebelumnya.
Jangan Ngarep Bikin GTA Versi Lokal, Mending Bikin Tamagotchi Rasa Rendang
Oladosu juga mewanti-wanti para pembuat game agar nggak kemaruk ide bombastis. Nggak usah malu comot aset sana-sini. "Jangan ngejar ide yang kelewat ambisius. Ini kontroversial banget di sini, di mana semua orang pengen bikin GTA atau Call of Duty versi Afrika," ujarnya. Padahal, kata Oladosu, dua sampai empat tahun hidup bisa ludes cuma buat ngejar mimpi setinggi langit itu. Mending bikin sesuatu yang kecil tapi bikin hati bergetar.
Sebagai contoh, Oladosu nyebut Rocket League itu pada dasarnya sepak bola pakai mobil. Fortnite itu PUBG yang dikasih filter kartun. Bahkan, PUBG sendiri itu hasil remix DayZ: Battle Royale. Intinya, "Every game is a remix", nggak ada yang benar-benar orisinal. Dia mengajak para developer game Afrika buat manfaatin ide-ide sederhana yang ada di sekitar.
Masalahnya, banyak ide sederhana yang terlewatkan. Padahal, ide itu ibarat jodoh, ada di dekat kita, tapi seringkali nggak kelihatan. "Ada banyak ide sederhana yang kita kenal tapi nggak ada yang mau eksplor," kata Oladosu. "Cari game yang udah ada, tambahin sentuhan unik." Bayangin, game ular tangga dijadiin battle royale. Atau, monopoli yang mata uangnya diganti pakai pulsa. Kedengarannya absurd, tapi siapa tahu malah jadi hits?
Game Itu Ibarat Skripsi: Revisi Tiada Henti Sampai Wisuda
Bikin game itu memang nggak semudah bikin status galau di media sosial. Butuh dedikasi, ketekunan, dan mental baja. Belum lagi masalah pendanaan, koneksi, dan pasar yang nggak selalu ramah. Tapi, bukan berarti nggak mungkin. Oladosu percaya bahwa dengan fokus pada hal-hal kecil dan berani keluar dari zona nyaman, developer game Afrika bisa bersaing di kancah global.
Analoginya gini, bikin game itu kayak ngerjain skripsi. Idemu mungkin brilian, tapi tanpa riset yang matang, kerangka yang jelas, dan revisi yang nggak kenal ampun, skripsimu nggak bakal kelar-kelar. Sama kayak bikin game, tanpa perencanaan yang matang, eksekusi yang solid, dan testing yang teliti, game-mu cuma bakal jadi pajangan di hard disk.
Coding Itu Seni, Bug Itu Inspirasi
Buat para developer game, ingatlah kata-kata bijak Oladosu: jangan ngejar ide yang kelewat ambisius, manfaatkan ide-ide sederhana di sekitar, dan jangan takut buat remix game yang udah ada. Anggap setiap game kecil yang kalian bikin itu sebagai latihan, sebagai batu loncatan menuju proyek yang lebih besar. Jangan berkecil hati kalau banyak bug, anggap aja itu sebagai inspirasi buat bikin fitur yang lebih unik.
Intinya, bikin game itu bukan cuma soal coding dan desain. Ini soal seni, soal kreativitas, dan soal keberanian buat mewujudkan ide-ide gila jadi kenyataan. Jadi, tunggu apa lagi? Buruan buka laptop, siapin kopi, dan mulai bikin game-mu sendiri. Siapa tahu, game buatanmu yang sederhana itu bisa jadi GTA atau Call of Duty versi Afrika di masa depan.
Mimpi Bikin Game AAA? Nabung Dulu, Deh…
Memang sih, semua orang pengen bikin game AAA dengan grafis memukau, cerita yang mendalam, dan gameplay yang adiktif. Tapi, bikin game sekelas itu butuh modal gede, tim yang solid, dan waktu yang nggak sebentar. Jadi, buat para developer pemula, mendingan fokus bikin game yang realistis dengan sumber daya yang ada. Ingat, Roma nggak dibangun dalam semalam.
Banyak developer game sukses yang mulai dari nol, dari game-game kecil yang sederhana. Mereka belajar dari kesalahan, beradaptasi dengan perubahan, dan nggak pernah berhenti berinovasi. Jadi, jangan minder kalau game buatanmu belum sempurna. Teruslah belajar, teruslah berkarya, dan teruslah bermimpi. Siapa tahu, suatu saat nanti, game buatanmu bisa sejajar dengan game-game AAA yang kamu idolakan.
Daripada Bikin Game Mirip GTA, Mending Bikin Game yang Bikin Ketagihan Ngopi
Di era digital yang serba cepat ini, perhatian orang gampang banget teralihkan. Makanya, bikin game yang adiktif itu jadi kunci buat sukses. Tapi, adiktif di sini bukan berarti bikin game yang bikin orang lupa waktu dan kewajiban. Adiktif di sini berarti bikin game yang bikin orang pengen main lagi dan lagi, yang bikin orang penasaran dengan kelanjutannya, yang bikin orang ketagihan kayak ngopi di pagi hari.
Gimana caranya bikin game yang adiktif? Pertama, bikin gameplay yang seru dan menantang. Kedua, bikin cerita yang menarik dan bikin penasaran. Ketiga, bikin karakter yang relatable dan bikin orang simpati. Keempat, bikin grafis yang menarik dan bikin mata nggak bosen. Kelima, bikin musik yang asyik dan bikin semangat. Intinya, bikin game yang bikin orang terhibur dan ketagihan buat main lagi.
Jadi, Kapan Mau Mulai Bikin Game Sendiri? Keburu Kiamat, Lho…
Jadi, setelah baca artikel ini, apa yang kalian tunggu? Jangan cuma jadi penonton, ayo jadi pemain! Jangan cuma jadi konsumen, ayo jadi produsen! Jangan cuma jadi kritikus, ayo jadi kreator! Bikin game itu susah, tapi bukan berarti nggak mungkin. Dengan semangat membara, ide cemerlang, dan sedikit sentuhan Mojok, kalian bisa bikin game yang bikin dunia gempar. Ingat, kesempatan nggak datang dua kali. Keburu kiamat, lho…



