Game

Faker dan Legenda Esports: Kilas Balik 15 Tahun LoL Worlds yang Ikonik

Faker dan Legenda Esports: Kilas Balik 15 Tahun LoL Worlds yang Ikonik
Faker dan Legenda Esports: Kilas Balik 15 Tahun LoL Worlds yang Ikonik

Faker, sang dewa League of Legends, kembali meramaikan jagat esports. Prestasi segudangnya bikin kita bingung mau membandingkannya dengan siapa. Michael Jordan? LeBron James? Lionel Messi? Kayaknya semua kurang pas. Mungkin, satu-satunya perbandingan yang akurat adalah... dirinya sendiri di masa depan?

Sang Legenda dan Ambisi Three-Peat

Lee Sang-hyeok, alias Faker, kini berusia 29 tahun dan siap mengukir sejarah baru di Chengdu, China. Timnya, T1, bakal berhadapan dengan kt Rolster dalam final League of Legends World Championship (LoL Worlds) 2025. Bukan sekadar gengsi, hadiah sebesar 5 juta dolar AS dan jatah dari penjualan skin khusus menanti sang juara.

LoL Worlds tahun ini terasa spesial karena menandai 15 tahun perhelatan akbar ini. Dari turnamen "basement vibes" hingga panggung megah, LoL Worlds telah bertransformasi menjadi fenomena global. The Athletic pun mengajak Faker dan legenda esports lainnya untuk bernostalgia tentang momen-momen terbaik mereka.

Faker: Antara Konsistensi dan Evolusi

Dengan lima gelar juara dunia (2013, 2015, 2016, 2023, dan 2024), sulit bagi Faker untuk memilih satu momen favorit. "Semua momen di Worlds sangat berkesan bagi saya," ujarnya via email. Ibaratnya, suruh dia milih anak kesayangan, kan susah.

Meski sempat terseok-seok di musim reguler, Faker dan T1 berhasil melaju ke final Worlds tahun ini. Rahasianya? Evolusi tanpa henti. Emily Rand, seorang analis dan mantan jurnalis esports, menyebutkan bahwa anggapan Faker selalu menjadi yang terbaik itu keliru. Justru, naik turunnya performa inilah yang bikin kisahnya makin menarik.

Resiliensi ala Faker: Bangkit dari Keterpurukan

“Ada resiliensi dalam menghadapi titik terendah dalam karier dan mampu bangkit kembali, mengubah gaya bermainmu lagi, seiring munculnya pemain-pemain muda di sekitarmu. Saya rasa itu sangat menginspirasi,” kata Rand. Mau juara atau tidak, Faker tetaplah sumber kebanggaan bagi negaranya. Sikap rendah hati dan jiwa kompetitifnya bikin banyak orang kagum.

Marc Merrill, co-founder Riot Games, menambahkan bahwa Faker adalah pilihan yang tepat untuk menjadi anggota perdana LoL Hall of Legends pada tahun 2024. "Faker itu kaliber yang berbeda. Dia rendah hati, disukai, keren, dan seorang rekan tim yang baik. Apakah akan ada yang seperti dia lagi? Dia satu-satunya, dan itu indah," puji Merrill.

Uzi dan Doublelift: Legenda dengan Cerita Sendiri

Selain Faker, Jian “Uzi” Zi-Hao juga diabadikan sebagai legenda. Meski tak pernah juara Worlds, Uzi punya peran penting dalam mempopulerkan esports di Tiongkok. "Momen yang paling berkesan adalah saat pertama kali masuk final," kenang Uzi. Atmosfer, sorak sorai penonton, dan semangat juang bersama tim membuatnya semakin yakin dengan pilihannya.

"Everyone Else is Trash": Semangat Kompetitif Doublelift

Di Amerika Utara, ada Yiliang “Peter” Peng alias Doublelift yang dikenal dengan pernyataan kontroversialnya: "Everyone else is trash." Momen favoritnya adalah saat Team Liquid mengalahkan DWG di babak grup tahun 2019. "Saya merasa performa saya mencapai puncak saat itu," ujarnya. Sayang, Team Liquid gagal melaju lebih jauh.

“Tidak ada yang bisa dibandingkan dengan perasaan bermain melawan yang terbaik di dunia dan mengalahkan mereka, dan juga tidak ada yang bisa dibandingkan dengan perasaan menghabiskan sepanjang tahun bekerja menuju tujuan dan gagal,” kata Doublelift. "Itulah pedang bermata dua dari kompetisi, dan saya sangat berterima kasih telah mengalaminya."

Dari "Basement Vibes" ke Stadion Megah: Evolusi LoL Worlds

LoL Worlds pertama pada tahun 2011 hanya disaksikan oleh 1 juta orang. Tahun lalu? Hampir 50 juta! David “Phreak” Turley, komentator LoL Worlds pertama, menyebut bahwa turnamen itu berawal dari "basement". Padahal, Phreak nggak punya basement. Tapi, "Phreak's Basement" jadi simbol dari perjalanan panjang LoL Worlds.

Venue Dreamhack saat itu jauh dari kata mewah. "Itu seperti hanggar pesawat yang fungsional," kata Phreak. "Gelap, minim cahaya. Benar-benar basement vibes." Komentarnya pun direkam dari ruang konferensi yang "bergema dan minim budget." Tapi, keterbatasan itu justru bikin momen selanjutnya makin istimewa.

"Wow, We're Up to 20,000 People Watching It": Lahirnya Fenomena Global

Saat Phreak dan Rivington Bisland III membahas jumlah penonton, mereka kaget bukan main. "Folks, we have 8,000 people watching this," ujar Phreak. Lalu, dia melanjutkan, "Wow, we're up to 20,000 people watching it. Thank you all for being here. … Oh, we're up to 40,000 people …" Angka itu terus meroket hingga 1 juta, menandakan bahwa "Phreak's Basement" bakal jadi penthouse.

Emily Rand juga punya cerita menarik. Dulu, dia "sangat buruk" dalam bermain LoL. Teman-temannya menyuruhnya untuk menonton liga profesional agar jago. Akhirnya, dia kecanduan nonton, bahkan punya tim favorit: kt Rolster. "Mereka itu lelucon abadi karena cukup bagus untuk membuatmu berharap, lalu menghancurkannya," kata Rand. Relate banget sama tim sepak bola kesayangan, ya?

Momen Epik: Naga Virtual dan Duel Sesama Alumni

Rand pun berkembang dari pemain menjadi blogger, jurnalis, hingga komentator. Dia menyaksikan sendiri bagaimana Worlds makin besar dari tahun ke tahun. Pada Worlds 2017, para finalis diperkenalkan dengan upacara pembukaan yang menampilkan naga virtual raksasa. "Itu masih menjadi salah satu momen penting dalam sejarah esports," kata John Needham, presiden Riot Games.

Merrill mengenang masa-masa awal Riot Games bersama Brandon Beck. "Jika saya bisa kembali ke masa lalu dan bertemu dengan diri saya saat kuliah, saya pasti akan ditendang keluar," ujarnya. "Itu terlalu фантастический, terlalu mustahil. Kami hanya dua teman yang suka bermain game dan bahkan tidak tahu apa yang ingin kami lakukan dalam hidup."

Deft vs. Faker: Drama Ala Anak Sekolahan

Final Worlds 2022 antara Deft dan Faker jadi salah satu momen paling dramatis. Kim Hyuk-kyu alias Deft berhasil membawa DRX meraih kemenangan atas T1 di San Francisco. "Itu adalah momen kompetitif favorit saya dalam sejarah League of Legends," kata Needham. Apalagi, Faker dan Deft adalah teman sekolah yang dulunya pemalu dan pendiam. Plot twist banget, kan?

Kisah mereka berdua bikin kompetisi semakin emosional. Needham berharap, LoL Worlds tahun ini bisa menyajikan cerita yang nggak kalah menarik. Mampukah Faker meraih three-peat? Atau kt Rolster yang akan membuat kejutan? Yang jelas, kita semua penasaran dengan episode selanjutnya dari drama esports ini.

Redaksi Tujuhcahaya

Media house digital independen yang mengeksplorasi jurnalisme investigatif, teknologi, kultur urban, musik, dan dinamika sosial masyarakat modern berpedoman pada standar jurnalisme berkualitas.