Pernah nggak sih, lagi asyik dengerin musik metal, tiba-tiba kepikiran, "Ini musik kok kayak lagi demo masak di neraka ya?" Nah, kalau pikiran itu pernah lewat di benakmu, berarti kita senasib. Dan kalau kamu cari band yang bisa mewujudkan imajinasi absurd itu jadi kenyataan, Biolence siap menggebrak gendang telingamu dengan album terbaru mereka, Violent Obliteration.
Ketika Death Metal Ketemu Thrash: Lahirlah Biolence
Biolence, kuartet maut dari Vila Nova de Gaia, Portugal, ini bukan band metal biasa. Mereka mencampuradukkan death metal yang brutal dengan thrash metal yang agresif, menciptakan koktail dahsyat yang siap meledakkan speaker-mu. Bayangkan saja, Sodom lagi nge-jam bareng Dark Angel, terus vokalisnya kesurupan Sanguisugabogg. Hasilnya? Kekacauan sonik yang bikin nagih.
Violent Obliteration adalah bukti nyata bahwa Biolence nggak main-main dengan musik mereka. Album ini penuh dengan riff-riff gitar yang tajam, bassline yang bikin bergetar, dan drum yang menghancurkan. Vokalis César juga nggak kalah gila, dengan scream, growl, dan bellow yang menggambarkan kengerian dunia modern dengan sempurna.
Riff Maut yang Bikin Ketagihan
Gitaris David dan bassist Daniel Marage adalah mesin penghasil riff yang nggak ada matinya. Mereka bekerja sama dengan sangat baik, menciptakan melodi yang kompleks dan harmonis. Sementara itu, Marage memberikan bassline yang beratnya bisa bikin Giles Corey minder, dan David mengancam akan mencabut anggota tubuhmu dengan riff-riff setajam gergaji mesin. Bayangin aja, lagi santai dengerin musik, tiba-tiba ada gergaji mesin nyamperin. Ngeri!
Tapi yang paling mencuri perhatian adalah drummer baru mereka, Miguel Sousa. Dia adalah konduktor psikotik yang mampu menekuk tempo dan vibe sesuai keinginannya. Dengan hook dan fill yang presisi, dia menggarisbawahi setiap umpatan yang dilontarkan César. Sousa ini kayak lagi nge-carry tim MLBB, beban tapi jago.
Dunia dalam Kacamata Biolence: Suram tapi Cerdas
Lirik-lirik Biolence nggak kalah menarik. Mereka membahas isu-isu sosial dan lingkungan dengan nada sinis dan sarkastik. Mulai dari kebobrokan industri makanan sampai kehancuran planet, semua nggak luput dari sasaran kemarahan mereka. Tapi yang bikin beda, mereka nggak cuma marah-marah nggak jelas. Ada pesan yang ingin mereka sampaikan, meskipun dikemas dengan cara yang brutal dan ekstrem. Ibaratnya, lagi dikasih petuah sama orang tua, tapi sambil digebukin.
Album ini juga nggak cuma berisi lagu-lagu yang ngebut dan brutal. Ada juga momen-momen yang lebih melodik dan emosional. Solo-solo gitar yang mournful dan bluesy menyuarakan keputusasaan dan kemarahan atas perang dan korupsi agama. Marage juga memberikan sentuhan unik dengan bassline 90-an-nya yang punchy dan dystopian.
Ketika Kesempurnaan Terdistraksi oleh Eksperimen
Violent Obliteration memang album yang dinamis dan menarik, tapi Biolence kadang-kadang terlalu bersemangat dalam bereksperimen. Ada beberapa momen ketika mereka mencampuradukkan elemen-elemen yang nggak nyambung. Misalnya, di lagu "Extermination through Mutation", ada lead gitar ala Sodom yang keren banget, tapi kok malah diselipin di antara bagian-bagian slam death yang berat? Jadinya agak maksa, kayak makan nasi padang pakai saus bolognese.
F.U.B.A.R.: Puncak Kegilaan yang Bikin Merinding
Salah satu highlight dari album ini adalah lagu "F.U.B.A.R." (Fucked Up Beyond All Recognition). Lagu ini adalah contoh sempurna dari kemampuan Biolence dalam menciptakan musik yang brutal, teknis, dan catchy sekaligus. Sousa menunjukkan kelasnya sebagai drummer yang gila, sementara César meludahkan lirik-lirik yang penuh dengan kemarahan dan frustrasi. Lagu ini kayak lagi naik roller coaster tanpa rem, seru tapi bikin deg-degan.
Intro dan Outro: Kurang Greget, Bos!
Sayangnya, album ini punya beberapa kelemahan kecil. Bagian intro dan outro terasa agak membosankan dan nggak terlalu penting. Terutama outro-nya, yang terasa anticlimactic setelah lagu "F.U.B.A.R." yang sangat kuat. Kayak lagi makan sate taichan enak banget, terus dikasih es teh tawar. Kan nggak nyambung.
Beberapa solo gitar juga terasa kurang greget dan kehilangan arah. Selain itu, interlude ambient di lagu "Heavy Artillery" juga terasa terlalu panjang dan nggak relevan. Tapi secara keseluruhan, Biolence berhasil menciptakan album yang solid dan menghibur. Ini kayak lagi nonton film horor yang seru, tapi ada beberapa adegan yang skipable.
Biolence: Metal yang Nggak Cuma Berisik
Secara keseluruhan, Violent Obliteration adalah album yang bagus dari band metal yang punya potensi besar. Biolence adalah band yang berbakat dan energik, baik secara individu maupun sebagai grup. Meskipun ada beberapa kekurangan kecil, album ini tetap layak untuk didengarkan bagi para penggemar death metal dan thrash metal. Kalau Steel Druhm nanya pendapatku, aku bakal bilang album ini worth it.
Rating Akhir: Nggak Sampai Bikin Kuping Mimisan, tapi Lumayan Lah
Dengan rating 3.0/5.0, Violent Obliteration dari Biolence ini bisa jadi pilihan yang oke buat kamu yang lagi cari musik metal yang nggak cuma berisik, tapi juga punya pesan dan visi yang jelas. Album ini adalah bukti bahwa metal nggak harus selalu serius dan menakutkan. Kadang-kadang, metal juga bisa jadi lucu dan menghibur. Asal jangan keseringan aja dengerinnya, nanti tetangga komplain.



