Siapa yang menyangka band yang debutnya dicemooh kritikus bisa menjadi legenda? Black Sabbath, sang pelopor heavy metal, mengalami pasang surut yang luar biasa di era 70-an. Dari melahirkan genre musik baru hingga mendepak vokalis ikonik mereka, Ozzy Osbourne, dekade itu penuh dengan drama dan inovasi. Gitaris Tony Iommi berbagi cerita menarik tentang perjalanan mereka, mengungkap tantangan dan kemenangan di balik panggung.
Mencetak Sejarah, Dicibir Kritikus: Awal Mula Black Sabbath
Album debut Black Sabbath (1970) ternyata tidak disambut dengan meriah oleh para kritikus. Iommi ingat betul betapa pedihnya membaca ulasan-ulasan negatif itu. Bayangkan, album pertama Anda, dan semua majalah musik hanya menulis "sampah!" Tentu saja menyakitkan, tapi mereka belajar untuk menerimanya. Kuncinya adalah kepercayaan diri. Mereka percaya pada musik mereka, dan itu yang membuat mereka terus maju. Iommi tak keberatan jika ada yang tidak menyukai musik mereka, asalkan jangan sampai dikatakan bahwa tidak ada yang menyukai mereka.
Dari Zurich ke "War Pigs": Proses Kreatif yang Tak Terduga
Tur Eropa pertama Sabbath ternyata sangat berpengaruh dalam membentuk sound album kedua mereka, Paranoid, khususnya lagu ikonik "War Pigs." Mereka manggung di Zurich selama beberapa minggu yang terasa seperti keabadian. Malam pertama, tempat itu penuh sesak, tapi malam-malam berikutnya sepi seperti kuburan. Penonton mereka hanya terdiri dari beberapa PSK dan seorang pria aneh yang suka melakukan handstand di depan panggung. Kondisi inilah yang memaksa mereka untuk berjam session dan menulis lagu baru, termasuk "War Pigs."
Arena Besar, Masalah Besar: Gear Malfungsi di Amerika
Kesuksesan Sabbath di Amerika membawa tantangan baru, terutama masalah teknis dengan gear mereka. Iommi bercerita tentang pengalamannya di Spectrum, Philadelphia. Gedung itu dulunya adalah arena ice skating, dan mesin-mesin pendingin di belakang panggung sangat mengganggu peralatannya. Suara gitarnya berubah menjadi suara bising yang mengerikan. Bahkan, ia bisa mendengar siaran radio taksi melalui ampli-nya! Alhasil, konser-konser itu menjadi mimpi buruk baginya. Teknologi memang kadang menyebalkan.
Clearwell Castle: Menemukan Inspirasi di Kegelapan
Album Sabbath Bloody Sabbath (1973) dianggap sebagai salah satu karya terbaik mereka, tetapi proses pembuatannya penuh perjuangan. Iommi mengalami writer's block yang parah. Mereka memutuskan untuk mencari tempat yang terpencil, dan akhirnya memilih Clearwell Castle di Gloucestershire. Mereka memasang peralatan di ruang bawah tanah kastil, yang ternyata penuh dengan dungeon. Begitu berada di sana, riff untuk lagu "Sabbath Bloody Sabbath" langsung muncul. Atmosfer menyeramkan di dungeon itu menginspirasi mereka untuk menciptakan mahakarya.
Technical Ecstasy: Eksperimen yang Kontroversial
Album Technical Ecstasy (1976) menampilkan sound yang lebih eksperimental, yang sebagian besar merupakan hasil karya Iommi bersama keyboardist Gerald Woodroffe. Saat personel lain masih tidur, Iommi dan Gerald sudah menulis materi baru. Mereka merekam album itu di Miami, yang mungkin bukan ide terbaik. Studio yang mereka gunakan juga digunakan oleh Bee Gees dan Eagles. Iommi bahkan sempat bergaul dengan Barry Gibb. Kabarnya, Eagles sampai harus angkat kaki karena Sabbath terlalu berisik! Kolaborasi yang tak terduga.
Never Say Die!: Akhir Sebuah Era Bersama Ozzy
Never Say Die! (1978) menjadi album terakhir Sabbath bersama Ozzy Osbourne sebelum ia dipecat. Iommi menggambarkan proses rekaman album itu sebagai masa yang menyedihkan. Mereka menyewa studio di Toronto tanpa melihatnya terlebih dahulu. Ternyata, studio itu terlalu mewah dan tidak cocok untuk mereka. Iommi bahkan menyuruh untuk membongkar karpet karena membuat suara di studio terdengar "mati." Mereka harus berlatih di bioskop yang sangat dingin di pagi hari, dan baru merekam di studio pada malam hari. Kondisi yang tidak ideal.
Van Halen: Generasi Baru yang Membara
Selama tur promosi Never Say Die!, Sabbath mengajak Van Halen sebagai band pembuka. Ini menjadi pengalaman yang pahit bagi Sabbath, karena mereka seringkali "ditelan mentah-mentah" oleh Van Halen yang muda dan bersemangat. Iommi mengakui bahwa mereka sudah lelah dan band mereka tidak lagi "benar." Eddie Van Halen menjadi salah satu teman baik Iommi. Eddie adalah gitaris pertama yang Iommi dengar menggunakan teknik tapping. Van Halen tampil sangat energik di atas panggung, sementara Sabbath merasa seperti orang tua jika dibandingkan. Van Halen selalu menonton Sabbath dari samping panggung, seolah ingin belajar. Mereka bekerja keras dan berhasil. Sabbath merasa sudah mencapai batas mereka pada saat itu.
Kesimpulan: Warisan Abadi Black Sabbath
Perjalanan Black Sabbath di era 70-an penuh dengan tantangan, kontroversi, dan inovasi. Dari album debut yang dicibir hingga kehilangan vokalis ikonik, mereka berhasil melewati badai dan meninggalkan warisan abadi di dunia musik heavy metal. Pelajaran penting: Percaya pada diri sendiri, berani bereksperimen, dan jangan takut pada kritikus.



