Musik

Biopik Michael Jackson: Keluarga Bela Habisan, Kritikus 'Nggak Suka'

Biopik Michael Jackson: Keluarga Bela Habisan, Kritikus 'Nggak Suka'
Biopik Michael Jackson: Keluarga Bela Habisan, Kritikus 'Nggak Suka'

Sang Raja Pop legendaris, Michael Jackson, kini tengah menjadi sorotan lagi, bukan karena gerak tari yang memukau atau harmoni vokal yang menawan, melainkan karena sebuah film biografi yang kabarnya menuai kontroversi sebelum penayangannya. Judulnya, Michael, seolah berbisik tentang keagungan, namun keluarga Jackson justru sibuk meredam riuh rendah kritik media yang mulai berseliweran. Sebuah pertunjukan bela diri ala keluarga kerajaan, membela mahakarya seni mereka dari tudingan yang menyeruak bagai jurus-jurus lawan di arena pertandingan.

Dua keponakan MJ, TJ dan Taj Jackson, yang notabene adalah putra Tito Jackson dan tergabung dalam duo 3T, mendadak tampil sebagai garda terdepan. Melalui media sosial, mereka meluncurkan pernyataan dukungan yang begitu kuat, seolah membalas serangan para kritikus yang dilancarkan sebelum filmnya sempat ditonton khalayak luas. Kritik tersebut mengarah pada fakta bahwa film ini terkesan mengabaikan sisi kelam Jackson, seperti berbagai tuduhan pelecehan seksual yang menghantuinya, bahkan memotong alur cerita di tahun 1988. Sebuah pilihan naratif yang, tentu saja, memicu perdebatan sengit.

Media Jangan Pikir Bisa Mengontrol Narasi

Taj Jackson, sang sulung dari keluarga Tito, dengan tegas menyuarakan ketidakpuasannya terhadap media. Melalui utas tweet yang menggelegar, ia menegaskan, "Media, sudah cukup. Kalian tidak bisa lagi mendikte siapa Michael Jackson sebenarnya." Ia melanjutkan, biarlah publik yang akan menilai sendiri setelah menonton film tersebut. "Kalian tidak akan bisa mengendalikan itu," tambahnya, sambil menyiratkan bahwa para kritikus yang kini melontarkan pandangan negatif harus bersiap untuk menelan ludah sendiri. Sebuah pernyataan yang sarat muatan emosional dan janji "balas dendam" ala kerabat dekat.

Pernyataan serupa juga dilontarkan oleh TJ Jackson. Ia mengungkap rasa bangganya dengan mengatakan, "Saya akan pergi ke bioskop dalam beberapa jam untuk menonton film yang sudah saya lihat berkali-kali. Kenapa? Karena saya bangga." Ia menambahkan, momen ini adalah kesempatan berharga untuk merasakan energi luar biasa yang akan memenuhi teater. "Paman saya pantas mendapatkan ini, sepupu saya telah berjuang keras untuk ini, dan para penggemarnya yang setia berhak mendapatkannya," ujarnya. Ini bukan sekadar film, melainkan pengingat atau pengenalan ulang tentang sosok MJ yang sesungguhnya. Sebuah seruan yang membuat penonton semakin penasaran.

Dalam unggahan lain, TJ tak ragu memberikan pujian setinggi langit untuk film tersebut. "Saya senang dunia akan melihatnya. Esensi paman saya tertangkap dengan sempurna, dan Jaafar benar-benar luar biasa," tulisnya, memberikan apresiasi yang tulus. Ia merasa bahwa film ini berhasil menangkap "jiwa" dari Michael Jackson, dan penampilan Jaafar Jackson, putra Jermaine Jackson yang memerankan pamannya, patut diacungi jempol.

Sang Kritikus Menganggapnya Hagiografi

Di sisi lain, David Fear, seorang kritikus dari Rolling Stone, justru memberikan gambaran yang sangat berbeda. Ia mendeskripsikan film Michael sebagai sebuah hagiography atau pujian berlebihan yang tak terbayangkan. Bahkan, ia menyoroti sebuah adegan di mana pengacara Jackson menyatakan keyakinannya bahwa sang bintang akan menjadi yang terhebat. "Ini bukanlah sebuah film biografi sungguhan," tulisnya. "Ini adalah Passion of St. Michael, yang disajikan dengan kesetiaan luar biasa dan penekanan pada penderitaan sekaligus bakat Jackson yang tak terbantahkan."

Ia melanjutkan kritiknya dengan nada sarkas, "Mengutip salah satu lagu Jackson: Tolong hentikan. Kami sudah cukup." Analogi "Passion of St. Michael" sungguh telak menggambarkan pandangan Fear. Ia melihat film ini lebih sebagai sebuah penggambaran kesakralan dan keagungan seorang figur, ketimbang potret kehidupan yang seimbang antara sisi terang dan gelap. Sebuah perspektif yang kontras dengan klaim keluarga Jackson mengenai penangkapan esensi sang bintang.

Film yang dikerjakan bertahun-tahun ini memang mengundang berbagai spektrum opini. Para kritikus menilai, dengan membatasi narasi hingga 1988 dan mengesampingkan kontroversi yang lebih pelik, film ini justru kehilangan kesempatan untuk memberikan pemahaman yang utuh tentang kompleksitas seorang Michael Jackson. Mereka berpendapat bahwa sebuah biopik yang jujur seharusnya tidak hanya menampilkan sisi gemilang, tetapi juga merangkul seluruh aspek kehidupan sang subjek, termasuk bayang-bayang kelam yang tak terhindarkan.

Tentu saja, pandangan keluarga Jackson yang begitu membela film ini dapat dipahami dari sudut pandang loyalitas keluarga. Mereka ingin menampilkan Michael Jackson versi yang mereka yakini, yaitu sang seniman jenius yang sering kali disalahpahami dan menjadi korban dari narasi publik yang bias. Upaya ini, meskipun penuh niat baik, justru memicu perdebatan tentang batasan antara penghormatan artistik dan kewajiban faktual dalam sebuah karya biografi.

Menariknya, kritik terhadap film yang belum dirilis ini justru menciptakan sebuah hype tersendiri. Pernyataan Taj dan TJ Jackson berhasil memancing rasa penasaran khalayak luas, membuat pertanyaan tentang apa sebenarnya yang disajikan dalam film Michael semakin mengemuka. Apakah film ini akan mampu membalikkan keadaan dan membuktikan klaim keluarga, ataukah kritik para peninjau yang lebih tajam akan terbukti lebih akurat? Jawabannya, tentu saja, akan terungkap saat film ini resmi menghiasi layar lebar.

Perseteruan antara narasi keluarga dan kritik media ini mencerminkan kompleksitas dalam menggambarkan figur publik yang legendaris namun kontroversial. Setiap sudut pandang menawarkan sebuah interpretasi, dan film Michael tampaknya akan menjadi medan pertempuran interpretasi tersebut. Apakah film ini akan menjadi sebuah karya yang merangkul seluruh sisi Michael Jackson, ataukah ia hanya akan menjadi ode bagi sang raja yang terkesan mengabaikan kenyataan? Waktu, dan tentu saja, para penonton, yang akan memberikan putusan akhir yang paling otentik.

Apapun hasilnya, polemik seputar film Michael ini telah berhasil menarik perhatian global. Ini bukan sekadar tentang film biografi, melainkan sebuah diskusi yang lebih luas mengenai bagaimana sejarah seorang figur publik dibentuk, diinterpretasikan, dan akhirnya disajikan kepada publik. Sebuah pelajaran berharga tentang bagaimana seni dan realitas sering kali berjalan beriringan, namun tak jarang pula berselisih pandangan.

Redaksi Tujuhcahaya

Media house digital independen yang mengeksplorasi jurnalisme investigatif, teknologi, kultur urban, musik, dan dinamika sosial masyarakat modern berpedoman pada standar jurnalisme berkualitas.