Ketika Sang ‘Bassist' Nightwish Turun Panggung: Antara Metal, Depresi, dan ADHD
Siapa yang sangka kalau dunia gemerlap rock dan metal punya sisi kelam yang seringkali disembunyikan? Kabar terbaru dari dunia musik menguak cerita pilu dari Marko Hietala, mantan bassist dan vocalist dari band legendaris Nightwish. Lebih dari sekadar hengkang dari band, pengakuan Marko ini membuka tabir perjuangan melawan depresi, kecemasan, dan bahkan ADHD yang selama ini menjadi momok dalam hidupnya.
Marko Hietala dan Noora Louhimo tampil bersama membawakan lagu-lagu Nightwish, sebuah reuni yang mengharukan bagi para penggemar. Namun, di balik gemerlap panggung, ada cerita panjang tentang perjuangan batin yang dialami Marko. Keputusannya untuk meninggalkan Nightwish pada tahun 2021 bukan keputusan yang mudah. Ia mengaku sudah merasakannya sejak lama.
Mengapa Harus Pergi?
Keputusan untuk mundur rupanya bukan hanya soal ketidakcocokan dalam band, tapi juga akumulasi masalah kesehatan mental yang tak kunjung usai. Depresi dan kecemasan menjadi teman setia Marko selama bertahun-tahun, bahkan semakin memburuk dari waktu ke waktu. Bayangkan, berada di tengah jadwal tur yang padat, jauh dari rumah, dan harus terus menutupi perasaan yang sebenarnya.
COVID-19 rupanya menjadi titik balik bagi Marko. Di saat band lain merencanakan tur kembali, ia justru merasa tak sanggup. Ia merasa butuh istirahat, butuh waktu untuk menyembuhkan diri. Bagi Marko, tur hanya akan menambah beban stres dan membuatnya semakin tertekan. Siapa yang menyangka, di balik sosok yang kuat di panggung, ada hati yang rapuh?
ADHD: Musuh dalam Selimut?
Setelah memutuskan untuk mundur, Marko mengambil langkah berani: mencari tahu apa yang salah dengan dirinya. Ia pergi ke Spanyol, menjauh dari hiruk pikuk dunia musik dan rutinitas yang selama ini membelenggunya. Di Spanyol, ia berkonsultasi dengan psikiater dan akhirnya mendapat diagnosis, sebuah pengakuan bahwa ia mengidap Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder atau ADHD.
ADHD ternyata bukan sekadar soal kesulitan fokus atau hiperaktif. Bagi Marko, ADHD adalah perasaan berbeda yang membuatnya merasa tak mampu menghadapi tugas sehari-hari. Segala sesuatu terasa kacau, dan ia merasa terus-menerus tersesat. Mungkin ini juga yang dirasakan oleh banyak orang di luar sana?
Rekonsiliasi dengan Diri Sendiri
Setelah mendapatkan diagnosis dan memahami apa yang terjadi pada dirinya, Marko mengaku merasa lega. Ia akhirnya bisa memaafkan diri sendiri atas hal-hal yang tak bisa ia lakukan di masa lalu. Ia juga menjadi lebih mengerti orang lain yang mungkin tak selalu memahami keadaannya. Ternyata, memaafkan diri sendiri itu penting, ya?
Keputusan Marko untuk keluar dari Nightwish, meski berat, ternyata menjadi langkah awal menuju pemulihan. Ini adalah bukti bahwa kesehatan mental adalah prioritas utama, bahkan bagi seorang musisi rock. Kisah Marko adalah pengingat bahwa kita semua, tak peduli seberapa kuatnya kita terlihat dari luar, rentan terhadap masalah kesehatan mental.
Marko Hietala adalah cerminan bahwa perjuangan menghadapi masalah mental adalah perjalanan panjang. Dan di mana pun berada, kita bisa selalu pulang ke diri sendiri.