Akhirnya, setelah berbulan-bulan jadi bahan gosip dan spekulasi panas di jagat maya, Nintendo resmi ngasih kabar gembira (atau bikin dompet menjerit?). Ya, suksesor konsol Switch yang legendaris itu siap meluncur tanggal 5 Juni nanti. Siap-siap rogoh kocek sekitar £395.99 di Inggris kalau mau adopsi si konsol baru ini di hari pertama. Sensasi penantian ini rasanya mirip nungguin update patch game favorit yang nggak kunjung datang, tapi akhirnya dikasih tanggal rilis juga.
Pengumuman ini tentu saja langsung jadi trending topic, mengakhiri penantian panjang para fans yang sudah nggak sabar. Sejak Switch pertama meledak di pasaran, pertanyaan soal "kapan generasi berikutnya?" selalu menggema. Nintendo, seperti biasa, cukup lihai menyimpan rahasia dapurnya rapat-rapat. Mereka berhasil membuat semua orang terus menebak-nebak, membangun hype yang luar biasa tinggi untuk menyambut era baru gaming portabel dari sang raksasa Jepang ini.
Kita semua tahu betapa fenomenalnya Nintendo Switch generasi pertama. Konsol hybrid ini sukses merevolusi cara kita bermain game, menawarkan fleksibilitas antara main di TV layar lebar atau dibawa ke mana-mana. Kesuksesan ini tentu saja memberikan tekanan tersendiri bagi penerusnya. Ekspektasi publik sudah melambung tinggi, menuntut inovasi tapi juga tetap mempertahankan soul yang membuat Switch begitu dicintai oleh jutaan gamer di seluruh dunia.
Menariknya, Nintendo tampaknya belajar dari pengalaman masa lalu, terutama saat transisi dari Wii ke Wii U yang, jujur saja, agak membingungkan banyak orang. Nama "Wii U" dan konsep tabletnya terasa kurang greget dan bahkan terlihat ketinggalan zaman saat dirilis. Kali ini, mereka memilih jalur yang lebih aman namun tetap menjanjikan. Nama "Switch 2" sendiri seolah jadi penegasan: ini adalah evolusi langsung, bukan revolusi yang membingungkan.
Saat pertama kali memegang Switch 2, impresi yang muncul adalah rasa familiar yang nyaman. Nintendo jelas ingin kita tahu bahwa ini adalah sekuel langsung dari Switch. Tombol-tombolnya terasa berada di tempat yang seharusnya, feel-nya mirip dengan pendahulunya. Namun, jangan salah, ada peningkatan signifikan yang langsung kentara, terutama pada bagian layar yang kini jauh lebih besar dan lebih sedap dipandang mata.
Desain yang mempertahankan form factor asli ini adalah langkah cerdas. Para pengguna Switch lama tidak perlu beradaptasi terlalu banyak dengan kontroler atau cara memegangnya. Ini meminimalkan learning curve dan membuat transisi terasa mulus. Keputusan ini menunjukkan Nintendo memahami betul apa yang disukai fans dari Switch original: sebuah konsol yang intuitif, nyaman, dan tentu saja, menyenangkan untuk dimainkan di berbagai situasi.
Kenalan Lebih Dekat: Seperti Apa Rasanya Main Switch 2?
Bicara soal pengalaman main, Mario Kart World yang dirilis bersamaan dengan konsol ini sukses memberikan kesan pertama yang fantastis. Semua ini berkat tenaga ekstra di bawah kap mesin Switch 2. Grafisnya terlihat spektakuler dibandingkan judul-judul Switch sebelumnya, meskipun kita masih bicara soal gaya visual cartoony khas Nintendo. Jangan salah sangka, meski lebih bertenaga, konsol ini bukanlah tandingan langsung untuk PlayStation 5, apalagi PS5 Pro dari segi raw power.
Namun, yang paling menonjol selama tiga kali balapan bukanlah sekadar grafis yang lebih kinclong atau kontroler barunya. Fitur andalan Nintendo kembali beraksi: membuat yang baru terasa familiar. Meski baru pertama kali menjajal Switch 2, rasanya auto-jago, langsung bisa meraih juara pertama berturut-turut, mungkin sedikit bikin iri orang di sekitar. Ini membuktikan Nintendo piawai meracik formula gameplay yang intuitif dan langsung nyetel dengan pemain lama maupun baru.
Sayangnya, kenikmatan ini datang dengan harga yang tidak bisa dibilang murah. Versi digital Mario Kart World dibanderol £66.99, sementara versi fisiknya lebih mahal £8 lagi, menjadi £74.99 yang lumayan bikin mikir. Ada juga opsi bundling konsol dengan game ini ter-install, yang mendorong harga konsol menjadi £429.99. Harga ini sontak menjadi perbincangan hangat di kalangan gamer.
Menurut pakar industri Christopher Dring, harga yang cukup menguras dompet ini dipengaruhi oleh biaya produksi cartridge dan dampak tarif impor. "Kartrid ini dibuat secara eksklusif di Jepang, negara yang baru saja terkena tarif 24% dari pemerintah AS, dan ancaman tarif tersebut mungkin telah memengaruhi keputusan harga Nintendo secara global," jelasnya. Di Amerika Serikat sendiri, Mario Kart World akan dihargai $79.99, dengan konsolnya dijual seharga $449.99 (atau $499.99 untuk paket bundling).
Bukan Cuma Mario Kart: Fitur Unik dan Gebrakan Donkey Kong
Tapi Switch 2 bukan hanya soal Mario Kart. Para fans pasti antusias menyambut Metroid Prime 4, game pertama dalam seri ini setelah penantian 18 tahun. Selain cara bermain standar menggunakan joystick untuk bergerak dan membidik, serta tombol "A" untuk menembak, ada fitur baru yang cukup signifikan dan out of the box. Kontroler Switch 2 bisa diputar, diletakkan di permukaan datar, dan digunakan layaknya mouse komputer kapan saja di tengah permainan.
Fitur mouse control optik ini terasa sangat intuitif, terutama bagi mereka yang terbiasa bermain game PC. Kemampuan untuk beralih mode kontrol secara on-the-fly tanpa perlu masuk ke menu adalah sebuah sentuhan rekayasa yang cerdas. Fitur ini juga muncul di game lain seperti Civilization VII, sebuah game strategi PC yang jelas mendapat manfaat besar. Namun, muncul pertanyaan soal ergonomi jangka panjang menggunakan kontroler sebagai mouse. Meski begitu, fakta bahwa fitur ini tertanam di perangkat keras membuka potensi Switch 2 menjadi rumah bagi port game PC di masa depan. Bahkan, kedua kontroler bisa digunakan sebagai mouse bersamaan, membuka kemungkinan menarik seperti di game basket kursi roda futuristik Drag x Drive.
Di sisi lain, Donkey Kong Bananza menandai kembalinya sang maskot gorila ke game platformer 3D miliknya sendiri setelah 25 tahun. Tekanan pada Nintendo tentu besar untuk menyajikan game yang sepadan dengan penantian panjang. Game ini bisa dibilang bergenre destruct-em-up, di mana pemain bisa menghancurkan sebagian besar lantai dan pemandangan di setiap level. Detail menarik lainnya adalah Donkey Kong mendapat sedikit makeover, tampil dengan wajah yang lebih ramah dan alis yang lebih lembut.
Namun, lagi-lagi kita dihadapkan pada berita harga. Versi digital Donkey Kong Bananza akan berharga £58.99, sedangkan versi fisiknya mencapai £66.99. Pola ini semakin jelas: Nintendo menawarkan banyak hal menarik bagi penggemar Switch, tetapi juga meminta imbalan yang tidak sedikit dari kantong mereka. Tampaknya era game dengan harga premium semakin menjadi standar baru di konsol ini.
Deretan Game Lama Rasa Baru dan Persaingan di Pasar
Beberapa judul lain yang sempat dicicipi adalah versi update dari Cyberpunk 2077 dan Yakuza 0. Keduanya merupakan game kelas berat di konsol pesaing yang sebelumnya dianggap terlalu kompleks untuk dijalankan di Switch original. Seperti game Switch 2 lainnya, keduanya tampil apik dan tentu saja mendapat keuntungan dari fleksibilitas hybrid konsol baru ini, bisa dimainkan di TV maupun portable. Kemampuan menjalankan game-game ini menjadi bukti peningkatan performa yang dibawa Switch 2.
Switch original pada dasarnya menciptakan genre konsol hybrid – perangkat yang berfungsi ganda baik sebagai konsol rumahan maupun sistem portabel. Namun, sejak peluncurannya di tahun 2017, lanskap industri game telah sedikit berubah. Kini, Switch 2 harus berhadapan dengan pesaing seperti Steam Deck, mesin hybrid lain yang punya kekuatan untuk memainkan sebagian besar game PC. Persaingan di segmen hybrid kini lebih ketat dari sebelumnya.
Menghadapi tantangan ini, Nintendo mengandalkan senjata andalannya: daftar panjang judul game eksklusif. Namun, ada benang merah yang terlihat jelas dalam strategi mereka kali ini: kontinuitas. Nama konsolnya adalah Switch 2, bukan nama yang benar-benar baru. Banyak dari game eksklusif yang dibanggakan adalah seri baru dari franchise yang sudah mapan, sementara yang lain adalah remaster dari game klasik modern, seperti Legend of Zelda: Tears of the Kingdom "Nintendo Switch 2 Edition" yang dijanjikan tampil lebih baik dengan resolusi dan frame rate lebih tinggi.
Nostalgia Mahal: Worth It Nggak Sih Switch 2?
Pengalaman singkat sekitar 20 menit menjajal game-game ini memang terasa menyenangkan dan menjanjikan. Grafis yang lebih tajam, performa yang lebih mulus, dan fitur-fitur baru seperti kontrol mouse memberikan kesan positif. Nostalgia yang dibalut dengan teknologi baru ini terasa begitu kental dan berhasil memikat dalam percobaan pertama. Nintendo tahu betul cara memainkan kartu nostalgia ini.
Akan tetapi, agar para fans merasa harga tinggi yang mereka bayarkan itu worth it, Switch 2 perlu menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar pengalaman sesaat. Ia butuh nilai jangka panjang yang mampu bertahan selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan gameplay. Apakah nostalgia premium yang ditawarkan Switch 2 cukup untuk memberikan kepuasan jangka panjang tersebut? Atau hanya akan jadi kesenangan sesaat yang mahal? Pertanyaan ini hanya waktu dan pengalaman gamer yang bisa menjawab.
Pada akhirnya, Nintendo Switch 2 hadir sebagai evolusi yang solid dari pendahulunya, mempertahankan formula hybrid yang sukses sambil memberikan peningkatan performa dan beberapa fitur inovatif. Strategi kontinuitas dan fokus pada franchise mapan serta nostalgia terasa kuat, namun dibayangi oleh harga konsol dan game yang tergolong tinggi. Pertaruhan Nintendo pada nostalgia dan loyalitas fans ini akan segera diuji saat konsol resmi meluncur Juni nanti, menentukan apakah sekuel ini mampu mengulang kesuksesan fenomenal sang kakak.