Dark Mode Light Mode

Richie Faulkner Judas Priest Ungkap Kerusakan Otak Permanen Akibat Stroke yang Dialaminya

Bayangkan ini: gemuruh riff gitar membelah udara, lautan penonton mengangguk serempak, dan di atas panggung, seorang dewa gitar sedang beraksi. Tapi tunggu dulu, di balik power stance dan kecepatan jari yang bikin melongo, ada kisah yang jauh lebih nge-rock dari sekadar musiknya. Kisah tentang bertahan hidup, tentang kerapuhan di balik jaket kulit, dan tentang bagaimana seorang Richie Faulkner dari Judas Priest hampir saja check-out lebih awal dari panggung kehidupan—dua kali.

Kita semua tahu Judas Priest, legenda heavy metal yang personelnya, jujur saja, sudah tidak bisa dibilang muda lagi. Rata-rata usia mereka bisa jadi lebih senior dari gabungan usia beberapa band indie baru. Di tengah para veteran ini, Richie Faulkner, sang gitaris yang bergabung pada tahun 2011, terasa seperti anak bawang dengan usianya yang "baru" 45 tahun. Ia membawa energi baru, cabikan gitar yang lebih fresh, dan image yang sedikit lebih muda untuk band legendaris ini.

Sebagai personel yang lebih muda dan terlihat bugar di panggung, kita mungkin berasumsi kondisi kesehatannya jauh lebih prima dibanding, katakanlah, Rob Halford yang sudah berusia 73 tahun. Logika sederhana, bukan? Usia muda seringkali identik dengan stamina dan kesehatan yang lebih baik, apalagi untuk seorang musisi metal yang dituntut punya fisik kuat saat tur. Namun, asumsi ini ternyata salah besar, guys.

Kenyataannya, Faulkner justru menyimpan cerita medis yang bikin bulu kuduk berdiri. Mungkin sebagian dari kita ingat insiden dramatis di Louder Than Life Festival, Kentucky, pada tahun 2021. Saat itu, di tengah-tengah lagu—iya, di tengah-tengah lagu—Faulkner mengalami kondisi yang sangat serius, nyaris merenggut nyawanya di atas panggung yang seharusnya jadi tempatnya bersinar.

Insiden itu bukan sekadar kram otot atau kelelahan biasa. Faulkner mengalami aneurisma aorta dan diseksi aorta. Dalam bahasa awam yang lebih gampang kita cerna, pembuluh darah arteri besar di jantungnya menggelembung seperti balon lalu pecah atau robek. Ini kondisi darurat medis tingkat dewa yang membutuhkan penanganan super cepat dan tepat.

Faulkner langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. Operasi jantung terbuka yang diperkirakan memakan waktu empat hingga lima jam, ternyata molor menjadi 11 jam! Dokter menemukan kondisi yang jauh lebih parah dari dugaan awal. Bayangkan saja, ia sampai membutuhkan empat kali transfusi darah untuk melewati operasi maraton tersebut. Survival instinct level metal god, memang.

Babak Kedua: Ketika Badai Belum Usai

Setelah operasi penyelamatan nyawa yang luar biasa itu, banyak yang mengira Faulkner sudah melewati masa kritisnya. Publik dan penggemar lega melihatnya bisa kembali pulih. Namun, sekitar setahun kemudian, terungkap bahwa ia harus menjalani operasi jantung terbuka kedua. Kali ini untuk memperbaiki "lubang di salah satu koneksi antara cangkokan sintetis dan aorta aslinya yang menyebabkan kebocoran." Gila, man. Cobaan seolah belum mau berhenti menghampirinya.

Namun, cerita mencekam ini ternyata masih punya plot twist lain yang baru-baru ini diungkap Faulkner dalam sebuah wawancara. Setelah operasi kedua dan masa pemulihan, saat sedang berjalan santai membawa anjingnya bersama sang kekasih, Mariah, sesuatu yang tak terduga kembali terjadi. Kejadian ini, menurut Faulkner, mungkin lebih buruk dampaknya, karena meninggalkan jejak permanen.

Awalnya, setelah kembali dari rumah sakit pasca operasi pertama, ia sempat merasakan keanehan. "Cerita panjangnya, kami kembali ke rumah sakit—ini sebulan setelah operasi—kami kembali, dan itu hal terakhir yang ingin saya lakukan. ‘Persetan dengan rumah sakit.’ Mereka menyelamatkan hidup saya, tapi saya sudah muak selama sebulan," kenangnya. Diagnosis awal adalah TIA (Transient Ischaemic Attack), atau stroke ringan.

Dokter meyakinkan bahwa itu "hanya" TIA dan memberinya obat. Ternyata, belakangan diketahui bahwa itu adalah stroke sungguhan. Sang kekasih, Mariah, menduga Faulkner sudah mengalami satu serangan di ambulans dalam perjalanan ke rumah sakit, meski Faulkner sendiri tidak mengingatnya. Ia hanya ingat mengalami serangan-serangan kecil setelah kejadian utama, seperti saat di kamar mandi tiba-tiba merasa pusing dan hampir jatuh.

Dampak Tak Terlihat: Ketika Tangan Tak Lagi Sama

Puncaknya terjadi saat jalan-jalan dengan anjingnya. "Itu jelas—Mariah bilang, ‘Wajahmu berubah, kamu tidak bisa bicara.' Rasanya seperti ada beban yang menarikku ke bawah. Aku akan jatuh jika dia tidak menahanku," ungkap Faulkner. Serangan inilah yang dikonfirmasi sebagai stroke yang lebih signifikan, bukan sekadar TIA. Perbedaan krusialnya? Kerusakan akibat TIA bisa pulih, sementara kerusakan akibat stroke bersifat permanen.

Setelah insiden stroke ini dan kembali menjalani tur bersama Judas Priest, Faulkner mulai merasakan ada yang tidak beres dengan kemampuan motoriknya, terutama tangan kanannya. Bagi seorang gitaris, apalagi gitaris band sekelas Judas Priest yang teknik permainannya bukan kaleng-kaleng, tangan adalah aset utama. Engine room, begitu ia menyebutnya. Tangan kanan yang bertugas memetik senar dan menjaga ritme mulai terasa berbeda.

"Ada sesuatu di tangan kanan saya—saya pikir itu cincin saya; saya memakai cincin konyol ini entah kenapa. Jadi saya lepas cincin itu. Saya pikir itu menghalangi sesuatu. Saya mengganti pick gitar saya. Ada sesuatu yang berbeda," jelasnya. Meskipun masih bisa menyelesaikan permainan, ia sadar ada yang aneh. Bahkan saat menyikat gigi pun ia merasakan hal yang sama di tangan dan kaki kanannya.

Kerusakan Otak dan Ketakutan Seorang Musisi

Pemeriksaan lebih lanjut mengonfirmasi ketakutannya. Hasil tes menunjukkan adanya kerusakan di sisi kiri otaknya, yang secara neurologis memengaruhi sisi kanan tubuh. "Untungnya, saya tidak bermain gitar dengan kaki, jadi tidak apa-apa. Saya bisa lolos dengan itu. Tapi tangan saya, jelas, itu engine room kami," ujarnya, mencoba menyelipkan sedikit humor getir. Semua keanehan yang ia rasakan di panggung kini masuk akal.

Kerusakan otak itu nyata dan permanen. "Saya pikir saya sudah mengalami kerusakan otak sebelumnya, tapi ini nyata. Ini hal kecil di sisi kiri," katanya. Namun, dampak "kecil" ini begitu besar bagi profesinya. Ia mulai merasa tidak nyaman dan takut. Ada kekhawatiran besar bahwa kondisinya akan terungkap dan memengaruhi kariernya serta kepercayaan dari banyak pihak.

"Ada banyak ketakutan dari sisi saya tentang ketahuan. Saya merasa mendapat banyak kepercayaan dari basis penggemar, dari perusahaan gitar, perusahaan senar. Mereka mendukung Anda… dan saya tidak ingin ada yang tahu, karena begitu mereka tahu, mereka akan kehilangan kepercayaan, mereka akan bail out," ungkapnya jujur. Ia merasa seperti penipu di atas panggung, khawatir penggemar akan menyadari permainannya tidak sama lagi, terutama pada bagian ritme yang kompleks. Bahkan saat rekaman album terbaru, Invincible Shield, ia kesulitan memainkan part gitar dari demo yang ia rekam setahun sebelumnya. Semakin ia berlatih, anehnya, permainannya malah terasa semakin buruk, bukan membaik.

Kisah Richie Faulkner adalah pengingat kuat bahwa di balik gemerlap panggung dan citra rockstar yang tak terkalahkan, ada manusia biasa dengan kerapuhannya. Namun, keberaniannya untuk terus bermain, menghadapi keterbatasan fisik akibat stroke dan kerusakan otak permanen, serta akhirnya berbagi kisahnya, menunjukkan kekuatan mental yang luar biasa. Ini bukan hanya cerita tentang bertahan hidup dari ancaman fisik, tapi juga tentang perjuangan melawan keraguan diri dan menemukan kembali cara untuk tetap bersinar meski dalam kondisi yang tak lagi sempurna. Heavy metal indeed saves lives, in more ways than one.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Akibat Tarif Trump, Pre-order Nintendo Switch 2 di AS Tertunda

Next Post

Di Balik Foto 'Awkward' Bill Gates: Ucapan Tak Terduga di Ultah ke-50 Microsoft