Lady Gaga: Mayhem – Kekacauan yang Terencana dengan Sempurna?
Entah kenapa, berita tentang album baru Lady Gaga selalu terasa seperti undangan ke sebuah pesta. Sebuah pesta yang dijamin akan penuh kejutan, penampilan yang over the top, dan tentunya, musik yang membuat telinga berdendang. Dan kali ini, "Mayhem" bukan sekadar undangan biasa, melainkan tiket VIP ke dunia Gaga yang paling liar.
Mari kita tarik napas dalam-dalam sebelum kita masuk lebih jauh. Gaga, setelah mengalami sedikit "perjalanan spiritual" di album terakhirnya "Chromatica", rupanya kembali ke akar pop yang dicintai para penggemarnya sejak awal. Tentu saja bukan berarti kita akan kembali ke era "Just Dance" yang sederhana. Kali ini, Gaga mencoba mengembalikan esensi ekses yang menjadi ciri khas dirinya.
Album ini menjadi bukti nyata bahwa Gaga benar-benar mengerti bagaimana cara membuat pernyataan. Single "Abracadabra" menjadi pembuka yang sempurna dengan synth-pop yang kuat dan hook vokal yang… yah, bisa dibilang, sangat Gaga. Terdengar agak absurd, tapi itulah yang membuatnya begitu menarik.
Gaga vs. Tren: Siapa yang Menang?
Sebenarnya, pertanyaan ini sudah terjawab sejak awal karier Lady Gaga. Ia selalu berada di depan tren, atau mungkin, membuat trennya sendiri. "Mayhem" adalah bukti jelas. Di saat banyak artis berlomba-lomba menciptakan lagu singkat untuk TikTok, Gaga justru menyajikan lagu-lagu dengan durasi yang cukup panjang, hampir seperti mini-epik. Siapa yang berani melawan?
Kita disuguhkan berbagai macam gaya musik. Mulai dari "Garden of Eden" yang mengulang gaya vokal ala "Poker Face", hingga sentuhan ala Prince di "Killah", dan bahkan sedikit sentuhan dark melodrama ala Michael Jackson di "The Beast". Gaga seperti sedang bermain-main dengan berbagai persona, dan kita, sebagai pendengar, hanya bisa menikmati pertunjukannya.
Jangan lupakan pula para "Little Monsters", panggilan sayang untuk penggemar Gaga. Album ini seolah menjadi surat cinta untuk mereka. "Perfect Celebrity" mengingatkan kita pada Gaga di awal karier, dengan lirik yang terasa battle-hardened. Bagian gitar yang menghentak mengingatkan kita bahwa nama panggungnya diambil dari lagu Queen.
Kolaborasi yang (Mungkin) Tak Terduga
Gaga tidak sendirian dalam menciptakan "Mayhem". Ia bekerja sama dengan produser-produser ternama seperti Andrew Watt (Rolling Stones, Post Malone) dan Cirkut (Charli XCX, Rosé). Hasilnya? Paduan antara dance-pop yang membara dan sentuhan stadium rock yang megah.
Lagu-lagu seperti "Don't Call Tonight" (yang rasanya harus dinyanyikan di depan 70.000 layar ponsel) dan "Zombieboy" (yang bahkan mencoba meniru Debbie Harry-nya Blondie) membuktikan bahwa Gaga tidak takut bereksperimen. Ada juga "How Bad Do U Want Me" yang sejenak mengingatkan kita pada era "1989"-nya Taylor Swift.
Dan sebagai penutup "Die With A Smile" yang merupakan duet dengan Bruno Mars terasa seperti penutup yang sempurna, seperti hidangan pencuci mulut setelah pesta makan yang luar biasa.
Apakah Ini Album Gaga Terbaik?
Pertanyaan yang sulit, tapi mari kita coba jawab. "Mayhem" terasa seperti reuni dengan teman lama yang kadang-kadang bicara ngawur, tapi kita tetap mengerti apa yang ingin disampaikannya. Album ini adalah tentang kejujuran, tentang sisi rentan Gaga yang tersembunyi di balik kostum dan panggung megah.
Di saat Gaga menyanyikan, "river in my eyes, I’ve got a poem in my throat" di lagu "LoveDrug", kita tahu ia sedang mengungkapkan kesedihan dan kebingungannya. Seventeen tahun setelah "Just Dance", Lady Gaga tetap menjadi agen kekacauan yang terencana dengan sempurna di dunia pop. Ia tetap menjadi dirinya yang unik, tanpa kompromi. Dan itulah yang membuat kita, para penggemar, terus jatuh cinta padanya.