Ketika Kematian Menjadi Inspirasi Album: "Until the Light Takes Us"
Dunia musik memang penuh dengan kejutan. Ada yang menciptakan lagu cinta untuk gebetan, ada yang menulis tentang patah hati, tapi ada juga yang memilih kematian sebagai tema utama dalam albumnya. Yup, kamu gak salah baca. Jacob Ware, yang kini dikenal sebagai Rapt, baru saja merilis album kelimanya berjudul "Until the Light Takes Us," yang terinspirasi dari film dokumenter tentang musik black metal. Gimana, cukup ekstrem, kan?
Album ini bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan refleksi mendalam tentang akhir dari segala sesuatu. Dari lagu pembuka yang menenangkan hingga lagu-lagu yang dreamy, Rapt mengajak kita merenungkan tentang kematian, kehilangan, dan kegelapan yang menyelimuti hidup. Setiap lagu terasa berat, namun tetap ada sentuhan cahaya yang membuat album ini terasa begitu personal.
Rapt dan Perjalanan Spiritual yang Tak Terduga
Rapt, dengan gaya indie-folks yang khas, menyajikan musik yang menyentuh kalbu. Sentuhan piano yang lembut dan petikan gitar akustik yang mendayu-dayu menciptakan suasana yang begitu intim. Mungkin, inilah sisi lain dari seorang musisi yang dulunya dikenal dengan musik heavy metal-nya. Perubahan ini memang cukup drastis, tapi justru itulah yang membuat perjalanan karier Rapt semakin menarik.
Mungkin, pengalaman pribadinya tentang kesehatan yang kurang baik, terutama epilepsi yang dialaminya sejak remaja, memengaruhi pandangannya tentang kematian. Siapa sangka, pengalaman hidup bisa jadi sumber inspirasi yang tak terbatas, ya? Ungkapan tentang eksistensi setelah kematian yang terangkum dalam liriknya, mengisyaratkan perjalanan spiritual yang tak terduga.
"Until the Light Takes Us": Lebih dari Sekadar Album Patah Hati
Album ini seringkali dianggap sebagai rekaman tentang perpisahan. Namun, Rapt dengan tegas membantahnya, yang justru album ini lebih tentang akhir dari segala sesuatu. Ia menggambarkan bagaimana perubahan dalam hidup selalu hadir, baik disadari maupun tidak. Mungkin, ini juga yang kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari, ya? Bahwa, setiap berakhirnya satu hal, selalu ada hal baru yang menanti.
Rapt mengakui bahwa ia tidak memiliki sistem kepercayaan tertentu. Baginya, afterlife adalah sebuah ruang kosong yang damai. Dia melihatnya seperti sebelum kita lahir, di mana hanya ada sorotan momen-momen terbaik dalam hidup. Walau begitu ia memiliki sudut pandang yang luas mengenai dunia setelah kematian.
Metal vs. Indie-Folk: Perbedaan Unik dalam Berkarya
Perbedaan antara musik metal dan indie-folk yang saat ini digeluti Rapt, tak hanya terletak pada genre, tapi juga pada cara ia berinteraksi dengan audiens. Musik metal sangat efektif untuk menyalurkan emosi seperti frustrasi dan kemarahan. Namun, musik yang sekarang membawanya pada audiens yang lebih beragam. Ia merasa senang bisa berbagi karya dengan berbagai kalangan, dari anak muda hingga nenek-nenek yang sudah makan asam garam kehidupan. Karyanya mampu menyentuh banyak orang dari berbagai usia.
Bagi Rapt, pengalaman kreatif ini adalah tentang mempercayai insting. Ia tidak ingin terlalu memikirkan apa yang sedang ia kerjakan. Mungkin, ini juga bisa jadi pelajaran untuk kita semua, ya? Jangan terlalu keras pada diri sendiri, biarkan ide mengalir begitu saja, dan nikmati saja prosesnya.
Album ini juga berhasil mengantarkannya pada fase "tidak peduli lagi" dalam bermusik. Ia merasa sudah terlalu tua untuk menjadi orang baru yang penuh semangat, namun juga terlalu muda untuk menjadi bijak. Jadi, ia memilih untuk berada di tengah-tengah, di mana ia bisa berkarya dengan bebas. Ia tidak lagi terbebani oleh ekspektasi atau tekanan dari luar.
Rapt berencana untuk merilis single selama dua tahun ke depan. Hal ini ia lakukan untuk mencoba tantangan baru dalam bermusik. Keputusan ini menandakan bahwa ia ingin menciptakan sesuatu yang berbeda, tidak terikat oleh batasan album. Ia ingin karyanya lebih fleksibel dan relevan dengan perubahan zaman.