in

Percaya Dengan Teori Konspirasi

Padahal, kalau orang percaya akan teori konspirasi, memangnya kenapa?

Belakangan ini banyak orang yang membahas tentang teori konspirasi. Dimana sebetulnya hal tersebut sudah saya rasakan dan ketahui sejak lama. Entah benar atau tidak, saya tidak peduli.

Bukan hanya membahas, namun banyak juga yang menertawakan tentang teori konspirasi. Saya sendiri kadang ikut-ikutan mengolok-olok teori konspirasi yang apasih itu. Tapi bukan berarti dunia ini bersih dari konspirasi. Selalu ada persengkokolan jahat atau baik yang berjalan di belakang kita.

Repotnya adalah, sedikit-sedikit semakin banyak orang menuduh sesuatu sebagai konspirasi. Melihat sesuatu yang berbentuk segitiga dituduh penganut dajjal atau iluminati.

Tau nggak yang lebih berbahaya? Konspirasi yang benar-benar sudah terpampang dikehidupan, namun tidak diangap sebagai konspirasi. Apa yang kita saksikan langsung dengan mata kepala sendiri saja pun terkadang belum tentu sesuai dengan apa yang kita pikir. Framing ada di mana-mana, bahkan tanpa perlu dari kacamata media massa sekalipun.

Contoh hal yang paling sederhana: Konglomerat yang memberi hadiah jutaan rupiah kepada penulis yang bersedia menulis tentang lingkungan, bisa jadi merupakan bos sebuah perusahaan tambang yang selalu menebangi hutan secara ugal-ugalan dan merusak lingkungan.

Tetapi, itu bukan berarti saya serta merta menggugurkan keyakinan saya akan keberadaan konspirasi dalam kehidupan ini. Apalagi pengalaman hidup telah banyak memberikan bukti. Lagipula, konspirasi tidak melulu soal kejahatan, bukan? Ada kalanya konspirasi cuma sekadar keusilan. Malah ada pula konspirasi yang dilakukan demi kebaikan.

Dalam lingkup kehidupan anak SD saja konspirasi itu ada. Misalnya, pelaku perundungan di dalam kelas kadang-kadang sulit dilacak oleh guru, terutama ketika sang pelaku merupakan murid paling bandel yang paling ditakuti teman-temannya.

Akan ada murid lain yang dijadikannya “tumbal” dan dipaksa untuk berpura-pura sebagai pelaku, sementara ia tetap aman dari hukuman guru. Ya, murid itu adalah saya sendiri sewaktu belajar di madrasah dulu.

Di dalam keluarga, ibu dan ayah, dibantu adik perempuan, bersekongkol menjodohkan anak laki-lakinya dengan anak tetangga. Masih banyak lagi contoh konspirasi sederhana yang tujuannya baik yang ada di sekitar kita.

Bila pun kita memang kebelet sekali ingin ikut tertawa soal keberadaan teori konspirasi, saya kira titik sasaran yang paling tepat adalah sikap orang-orang yang kelewat gemar memakai metode cocoklogi, yang memaksakan diri dalam mengait-ngaitkan sesuatu dengan kejahatan terselubung.

Yang bikin saya heran, di antara banyak pihak yang menganggap percaya teori konspirasi sebagai suatu kekonyolan, media-media massa pun termasuk ikut-ikutan.

Memanfaatkan momentum, banyak media massa lantas berlomba-lomba menayangkan artikel yang isinya menyudutkan teori konspirasi dan orang-orang yang mempercayainya.

Padahal, kalau orang percaya akan teori konspirasi, memangnya kenapa?

Percaya pada teori konspirasi pada dasarnya senafas dengan sikap skeptis; sikap untuk tidak percaya begitu saja pada apa yang tampak di permukaan. Dan sikap skeptis ini (semestinya) ada pada diri seorang jurnalis.

Tak usah jauh-jauh. Dalam memberitakan kasus penangkapan narkoba berkilo-kilo gram saja, seringkali jurnalis cuma sekadar mengutip omongan polisi dalam konferensi pers—sambil bisa jadi pulang bawa amplop.

Sangat jarang ada wartawan yang mau (bahkan kepikiran pun tidak) menelusuri kemungkinan adanya keterlibatan aparat penegak hukum di dalam bisnis narkoba yang ia beritakan tersebut.

Di sisi lain, saya juga yakin bahwa jurnalis yang percaya pada keberadaan konspirasi pun tak sedikit. Tetapi, mereka “dibungkam”, “dipaksa” untuk tidak perlu repot-repot mencari kebenaran. Mereka cukup dilarutkan saja dengan tugas-tugas liputan rutin sesuai desk masing-masing.

Jadi intinya, kalau kita memang merasa punya nalar yang kritis, seharusnya kita tidak boleh serta merta menganggap sepele saat mendengar frasa teori konspirasi. Pun terhadap orang-orang yang percaya, adalah goblok kita ketika kita tergesa-gesa mengatai mereka “goblok”.

Supaya tak gampang menertawai, yang perlu kita ingat satu: konspirasi itu selalu bersifat terselubung, sistematis, senyap, rumit, dan mengendap-ngendap. Semakin besar misi yang hendak dicapai oleh para pelakunya, semakin terselubung dan sistematis dan rumit pulalah konspirasi itu dijalankan.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Hari Gini Masih Minder?

Pendidikan Seks Itu Penting Diajarkan Sejak Dini, Mengapa?