in

Pendidikan Seks Itu Penting Diajarkan Sejak Dini, Mengapa?

Sejak kecil kita pasti sudah dibiasakan untuk disiplin mulai dengan bangun pagi, merapikan kamar tidur, hingga tidak boleh tidur larut malam. Lazimnya pendidikan budi pekerti, sikap, dan kebiasaan bisa dengan mudah didapat baik dari lingkup keluarga maupun sekitar. Hal itu membuat kita mudah menyesuaikan diri dengan peraturan-peraturan yang ada di sekolah, kantor, bahkan masyarakat.

Namun, bagaimana dengan pendidikan seks? Apakah itu penting?

Di Indonesia, pendidikan seks masih menjadi hal yang tabu dan tidak umum untuk diperbincangkan. Hal ini dikarenakan masih sempitnya pola pikir masyarakat yang subjektif dengan beranggapan bahwa seks adalah kegiatan seksual berupa persetubuhan saja.  Perlu kita ketahui perbedaan dari masing-masing kata seks, seksual, dan seksualitas berikut.

Seks                 : Penamaan fungsi biologis (alat kelamin dan fungsi reproduksi) tanpa ada hubungannya dengan norma. Contoh: Penis dan vagina.

Seksual            : Aktivitas seks yang melibatkan organ tubuh lain baik fisik maupun non fisik.

Seksualitas      : Aspek-aspek terhadap kehidupan manusia terhadap manusia terkait faktor biologis, sosial, politik, dan budaya, terkait dengan seks dan aktivitas seksual yang mempengaruhi individu dalam masyarakat.

Sampai di sini paham? Oke, lanjut.

Pembicaraan semacam ini menjadi semakin menarik karena ekspresi seksualitas di dalam manusia diatur secara budaya dan dikemas oleh aturan moralitas. Antipati terhadap Pendidikan seks didorong adanya anggapan bahwa hal ini hanya akan memperbesar kemungkinan anak melakukan hubungan seks di bawah umur atau di luar pernikahan. Padahal, lingkup pembahasan pendidikan seks tidak hanya berkisar pada kegiatan bersenggama saja.

Karena kurangnya pendidikan seksual yang diajarkan oleh lingkungan sekitar, rasa penasaran yang timbul akan mendorong anak berusaha mencari informasi yang bisa kian tersesat akibat membaca sumber-sumber yang sembarangan. Alhasil, banyak dari mereka memiliki persepsi dan pemahaman yang keliru tentang jenis dan gejala PMS dan HIV/AIDS, akibat aborsi, masturbasi, dan juga jenis serta fungsi alat dan obat kontrasepsi.

Pendidikan seksual bertujuan untuk mengajarkan mengenai organ kesehatan reproduksi, penyakit menular seksual dan HIV/AIDS, kehamilan, dan kontrasepsi yang dapat digunakan. Hal ini juga bertujuan untuk menyadarkan pentingnya kesehatan reproduksi sehingga tindakan pelecehan seksual maupun penyakit menular dapat dicegah juga mengurangi dampak buruk dari penyerapan informasi yang tidak aman dan tidak kredibel dari internet.

Pendidikan seks sesungguhnya adalah pemahaman tentang diri kita sendiri. Dorongan dan hasrat seksual adalah hal yang sangat wajar, mengingat seks adalah kebutuhan biologis. Pendidikan seks berbicara tentang diri kita sendiri, tentang fungsi organ-organ reproduksi dan bagaimana cara menjaga alat kelamin kita agar tetap sehat. Tidak bisa dipungkiri bahwa selain menjadi makhluk social, manusia juga merupakan makhluk seksual yang bereproduksi dan menghasilkan keturunan. Pendidikan ini juga tidak boleh didasarkan kepada kecurigaan bahwa anak-anak akan melakukan hubungan seks sebelum saatnya. Sifat menutupi dan mengalihkan kepada sanksi agama menyebabkan anak akan menghindari untuk membicarakan seks.

Penting untuk diingat bahwa pendidikan seks bukanlah pornografi. Justru karena kurangnya pengetahuan akan seks, orang-orang akan mencari tahu lewat pornografi.

Pendidikan seks paling baik dimulai sejak dini oleh orang tua. Konten pendidikan sekspun harus disesuaikan. Sebagai contoh, orang tua dapat mengajarkan kepada anak-anaknya untuk mengenal bagian tubuh mana yang tidak boleh disentuh orang lain beserta alasannya, bukan sekadar haram atau zina. Namun, dukungan dari lingkungan sekitar dan pemerintahpun juga diperlukan agar mampu memaksimalkan pengetahuan seks tidak hanya untuk anak-anak, namun juga remaja dan orang dewasa.

Jadi, paham kan apa bedanya seks dan pornografi?

Percaya Dengan Teori Konspirasi

Lagi-lagi, S3 Digital Marketing Nih!