Dark Mode Light Mode

Pemulihan Dimulai Seiring Surutnya Banjir di Jakarta Raya

Banjir Jakarta: Air Surut, Tapi (Duit) Belum Tentu

Jakarta, kota yang katanya tak pernah sepi dari drama, kembali menyajikan pertunjukan air mata—sungguhan, kali ini. Setelah hujan mengguyur tanpa ampun, sebagian besar wilayah Jakarta dan sekitarnya berubah jadi kolam raksasa. Dan, seperti biasa, kita semua sibuk dengan drama kehidupan kita masing-masing.

Banjir kali ini, khususnya di Bekasi, merendam belasan kecamatan dan memaksa ribuan orang mengungsi. Dua nyawa dilaporkan melayang, menambah daftar panjang tragedi akibat bencana alam. Pak Tri, sang walikota Bekasi, dengan sigap mengunggah foto dirinya di media sosial, mengabarkan bahwa banjir sudah mulai surut. Tentu saja, karena media sosial adalah tempat terbaik untuk mengabarkan berita baik, kan?

Tim pembersihan dikerahkan, peralatan berat dioperasikan, dan pasokan air bersih dijanjikan. Tapi, benarkah solusi jangka pendek ini cukup? Apa yang bisa kita harapkan dari pemerintah selain janji-janji manis dan foto-foto aesthetic saat membersihkan lumpur? Pertanyaan-pertanyaan ini terus menghantui, seperti kenangan mantan yang tak kunjung hilang.

Ketika "Pemulihan" Hanya Jadi Kata Manis

Banjir memang surut, tapi dampak yang ditinggalkan tak semudah mengeringkan baju basah. Kerusakan infrastruktur, rumah yang terendam, dan trauma bagi para korban adalah masalah yang tak bisa selesai dalam hitungan hari. Anggota dewan mengingatkan pemerintah untuk tak hanya fokus pada kebutuhan dasar, tapi juga bantuan jangka panjang.

Renovasi rumah, pendidikan untuk anak-anak korban, dan pemulihan ekonomi adalah hal-hal yang krusial. Tapi, apakah pemerintah akan benar-benar memprioritaskan hal itu, atau hanya membuat janji manis untuk meredam kritik? Kita semua tahu jawabannya.

Bekasi: Korban "Pembangunan" yang Kurang Ajar

Bekasi, kota penyangga yang sering kali jadi bulan-bulanan, kembali jadi sorotan. Perencanaan kota yang buruk dan mitigasi bencana yang tak memadai disebut-sebut sebagai penyebab utama banjir kali ini. Sepertinya, Bekasi memang ditakdirkan jadi tempat pembuangan masalah Jakarta.

Alih fungsi lahan yang tak terkendali menjadi masalah serius. Data Kementerian Kehutanan menunjukkan bahwa pembangunan di Bekasi telah mengurangi luas daerah resapan air secara drastis. Akibatnya, air hujan tak punya tempat untuk meresap, dan meluap ke lingkungan sekitar.

Bencana Alam atau Ulah Manusia?

Greenpeace Indonesia menyerukan pemerintah untuk fokus pada mitigasi bencana, bukan hanya sibuk menanggulangi dampak banjir. Penanganan banjir bukan cuma soal memompa air dan menyalurkan bantuan. Ini adalah soal bagaimana kita memperlakukan lingkungan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dan bahkan melakukan operasi modifikasi cuaca. Tapi seperti yang kita tahu, mengubah cuaca hanya akan menutupi masalah, bukan menyelesaikan akar masalahnya.

Pemerintah memang sibuk dengan berbagai upaya. Tapi, sementara mereka sibuk, kita sebagai masyarakat juga ikut menyumbangkan solusi. Memperbaiki perilaku sehari-hari, peduli terhadap lingkungan, dan ikut mengawasi kebijakan pemerintah adalah langkah kecil yang bisa memberi dampak besar.

Apa yang Bisa Kita Harapkan?

Mungkin kita harus berhenti berharap pada solusi instan. Banjir di Jakarta bukan hanya masalah teknis, tapi juga masalah moral, sosial, dan lingkungan. Ini adalah cerminan cara kita memperlakukan kota, alam, dan sesama manusia.

Kita harus bertanya pada diri sendiri: Apakah kita mau terus membiarkan kota ini tenggelam, atau kita mau ikut berjuang untuk masa depan yang lebih baik? Pilihan ada di tangan kita. Jangan cuma jadi penonton yang sibuk berkomentar di media sosial.

Masa depan Jakarta dan sekitarnya yang bebas dari banjir adalah tanggung jawab kita bersama.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Gaga Akui Meme ‘Nachos Dipanaskan’, Bukti Kekinian Sang Bintang

Next Post

15 Album Wajib Dengar Rilis Maret 2025: Lady Gaga, Selena Gomez, JENNIE, Lucy Dacus & Lebih Banyak Lagi