Dunia Game dan Hollywood: Cinta Rumit yang (Mungkin) Akan Berakhir?
Tahun 2025 sepertinya akan menjadi periode yang menarik, meskipun sekaligus bikin deg-degan bagi para penggemar game dan film. Setelah beberapa kali gagal dalam debutnya di dunia game, Hollywood kembali menunjukkan ketidakpastiannya terhadap industri ini. Apakah ini akhir dari cinta yang tak berujung, atau baru permulaan dari drama percintaan yang lebih kompleks?
Warner Bros. Discovery (WBD) baru saja menutup tiga studio game, sebuah langkah yang cukup mengejutkan bagi banyak pihak. Keputusan ini seakan menjadi pengingat pahit bahwa meski Hollywood terus mencoba merambah dunia game, komitmennya masih jauh dari kata aman. Banyak yang bilang, keputusan ini bukan kejutan, melihat beberapa kegagalan WB Games sebelumnya, termasuk "Suicide Squad: Kill the Justice League" yang menyebabkan kerugian hingga $200 juta.
Kita bisa melihat bagaimana gelombang perubahan di industri game AAA mendominasi awal tahun 2025. Penutupan studio game WB ini menjadi pukulan berat bagi perusahaan game yang paling mapan di Hollywood, di luar Sony PlayStation. Ini jelas menunjukkan dinamika industri yang terus berubah. Kita bisa bayangkan, seperti pasangan yang terus mencoba menemukan formula yang tepat untuk menjaga hubungan tetap langgeng.
Sementara itu, studio lain seperti Disney telah mundur dari pengembangan dan penerbitan game sejak 2016. WBD sendiri sedang menggandakan pengembangan IP (Intellectual Property) internal untuk studio game mereka yang tersisa, yang kemungkinan akan membuat mereka menjadi licensor yang lebih besar di industri ini. Mungkin model bisnis lisensi yang lebih aman dan menguntungkan bagi mereka.
Memahami Gelombang Perubahan Industri Game Hollywood
Jika Skydance Group berhasil mengakuisisi Paramount Global, mereka mungkin akan mengambil alih lahan yang ditinggalkan. Namun, Skydance Interactive lebih dikenal di dunia game VR. Sementara, divisi AAA New Media mereka masih berusaha merilis game debut mereka. "Marvel 1943: Rise of Hydra" dijadwalkan rilis pada tahun 2025, kita tunggu saja.
Kemudian, ada Bad Robot Games yang juga belum memulai debutnya di ranah AAA. Mereka baru-baru ini bermitra dengan Konami pada tahun 2023 untuk game mobile "Silent Hill: Ascension", yang sayangnya tidak mendapatkan respons positif. Blumhouse, meskipun mencoba meniru model bisnis anggaran rendah namun menguntungkan yang mereka miliki, belum juga berhasil menciptakan kesuksesan seperti film "Paranormal Activity".
Netflix, si Pemberani atau Hanya Pencoba?
Jangan lupakan Netflix. Dengan kantong yang tebal dan basis pelanggan lebih dari 300 juta, Netflix memiliki keunggulan yang tak terbantahkan sebagai pendatang baru di bidang game. Namun, Netflix juga mengubah strategi mereka, mundur dari upaya AAA untuk meluncurkan IP mereka sendiri, dan beralih ke model game berbasis seluler dan berbasis cloud yang terkait dengan film dan acara TV mereka, seperti "The Electric State: Kid Cosmo" dan "The Electric State" yang akan tayang pada 14 Maret nanti, dengan biaya produksi lebih dari $300 juta.
Di sisi lain, Hollywood masih bisa membanggakan adaptasi sukses dari IP game. Kita akan segera melihat "A Minecraft Movie" dari Warners yang akan tayang pada 4 April, diikuti dengan kembalinya "The Last of Us" HBO pada 13 April. Film "Until Dawn" dari Sony juga akan dirilis pada 25 April. Apakah ini akan menjadi momentum baru bagi adaptasi game?
Adaptasi Game: Antara Harapan dan Kenyataan
Namun, minat pada IP game ini tidak semanis yang dibayangkan. Terlepas dari keberhasilan "The Last of Us" dan serial "Fallout" dari Amazon, banyak pelaku industri tradisional tampak ragu untuk terus mengembangkan serial TV baru berdasarkan game. HBO tampaknya tidak memiliki rencana serupa, meskipun memiliki IP game ternama dalam daftar program mereka saat ini. Demikian pula, Peacock tidak mengembangkan apa pun berdasarkan game setelah menambahkan "Twisted Metal" ke daftar program aslinya.
Paramount juga punya program TV yang diadaptasi dari game yang sedang dikembangkan, setelah membatalkan "Halo" di Paramount+. Namun, "Golden Axe" hanya akan menjadi serial animasi di Comedy Central. Mungkin, mereka mencoba pendekatan yang lebih aman dan hemat biaya.
Walaupun begitu, animasi bisa jadi sangat mahal, sama halnya dengan "Arcane" yang membuktikan hal tersebut untuk Netflix dan Riot Games. Kita lihat saja, strategi seperti apa yang paling efektif.
Adaptasi Game ke Layar Lebar: Harapan Baru?
Masa depan adaptasi game tampaknya lebih menjanjikan di ranah film. Kesuksesan "The Last of Us" dan "Fallout" di platform streaming memang menggembirakan, tetapi belum bisa menandingi pendapatan lebih dari $1 miliar yang diraih oleh "The Super Mario Bros. Movie" dua tahun lalu. Film tersebut secara efektif melahirkan waralaba film baru yang akan kembali pada tahun 2026 dari Universal, yang juga memiliki sekuel "Five Nights at Freddy's" yang dianggarkan secara sedang yang akan dirilis Desember mendatang, juga dari Blumhouse.
Bahkan di luar bidang game, Netflix telah mengurangi visi mereka untuk adaptasi IP game yang ambisius. Serial TV live-action yang direncanakan untuk "Horizon Zero Dawn" sudah dibatalkan. Adaptasi film "BioShock" yang sudah lama direncanakan, dari sutradara "Hunger Games" Francis Lawrence, dikabarkan sedang dikerjakan ulang sebagai proyek yang lebih kecil. Hal ini sejalan dengan langkah eksekutif film baru Netflix, Dan Lin, yang menjauhi upaya dengan anggaran berlebihan seperti "The Electric State".
Kesimpulan: Masa Depan dengan Banyak Tanda Tanya
Dapat disimpulkan, Hollywood memang lebih memperhatikan game daripada sebelumnya. Namun, prioritas penghematan biaya dari industri film dan TV akan terus bertentangan dengan operasi in-house game dan upaya lebih lanjut untuk membawa IP game ke media tradisional. Akankah cinta rumit ini berakhir bahagia, atau hanya menjadi bagian dari sejarah panjang industri hiburan? Pertanyaan itu, jawabannya ada di tangan kita sebagai penikmat.