Paul McCartney dan Rockestra: Mimpi All-Star Band yang Hampir Jadi Nyata
Pernah membayangkan apa jadinya jika para dewa musik rock berkumpul dalam satu panggung? Bukan cuma sekadar jam session dadakan, tapi sebuah orkestra rock yang megah, dipimpin oleh salah satu personel The Beatles? Kalau kamu generasi rebahan yang lebih akrab dengan playlist Spotify, mungkin ide ini terdengar absurd. Tapi, bagi para pencinta musik sejati, ini adalah mimpi yang hampir jadi kenyataan. Mari kita bedah kisah epik Paul McCartney dan proyek Rockestra-nya.
Setelah Beatles Bubar: Mencari Identitas Baru
Setelah The Beatles bubar pada tahun 1970, pertanyaan besar menghantui setiap personelnya: Mau ngapain lagi? Bagi Paul McCartney, jawabannya ternyata tidak mudah. Terbiasa berada dalam grup yang solid dan menghasilkan karya fenomenal, membangun sesuatu yang lebih baik terasa seperti misi mustahil. Tapi, bukannya menyerah, McCartney justru mencoba segala cara, sibuk dengan berbagai proyek musik.
Dimulai dengan album solo yang jujur dan eksperimental, McCartney, yang dirilis hanya seminggu setelah pengumuman bubarnya The Beatles. Kemudian, ia berkolaborasi dengan sang istri, Linda McCartney, menghasilkan album Ram. Well, meski pada awalnya kurang mendapat apresiasi, album ini kini dianggap sebagai perayaan cinta keluarga yang tulus.
Kebangkitan Wings: Legenda Terbentuk
Enggak butuh waktu lama bagi McCartney untuk kembali membentuk band. Setahun setelah The Beatles selesai, lahirlah Paul McCartney and Wings, atau lebih dikenal sebagai Wings. Bisa dibilang, Wings adalah proyek paling sukses McCartney setelah The Beatles. Band ini berhasil menggaet penggemar dari kalangan Beatles mania maupun fans Wings sendiri. Bahkan, Wings punya andil dalam menciptakan soundtrack film James Bond, "Live and Let Die," yang masih enak didengar hingga sekarang.
Paul McCartney Bring Together a Ridiculously Impressive Supergroup
Nah, puncak dari segala eksperimen musik McCartney adalah ketika ia memutuskan untuk membuat supergroup level Avengers. Grup yang diberi nama Rockestra ini berisikan para legenda musik rock. Penasaran siapa saja anggotanya? Siap-siap tercengang!
Anggota Rockestra:
- Paul McCartney
- Linda McCartney
- John Bonham
- Pete Townshend
- David Gilmour
- Robert Plant
- James Honeyman-Scott
- John Paul Jones
- Bruce Thomas
- Hank Marvin
- Gary Brooker
- Ronnie Lane
- Denny Laine
- Kenny Jones
- Tony Ashton
- Laurence Juber
- Martin Jenner
- Steve Holley
- Speedy Acquaye
- Tony Carr
- Ray Cooper
- Morris Pert
- Howie Casey
- Thaddeus Richard
- Tony Dorsey
- Steve Howard
Bayangin, John Bonham (drummer Led Zeppelin) satu panggung dengan David Gilmour (gitaris Pink Floyd)! Gila, kan? Mereka semua berkumpul untuk merekam satu lagu, "Rockestra Theme," yang berdurasi hampir tiga menit.
Rockestra Hampir Saja Lebih Dahsyat
Meskipun daftar pemainnya sudah bikin ngiler, ternyata Rockestra hampir saja lebih epic lagi. Beberapa musisi legendaris sebenarnya diundang, tapi sayangnya gak bisa ikut. Contohnya, Ringo Starr yang sedang berada di luar negeri. Beberapa anggota Yardbirds juga diundang, tapi Jeff Beck, Jimmy Page, dan Eric Clapton gak bisa hadir. Jeff Beck malah lebih mementingkan kontrol atas penampilannya. Hmm, tipikal seniman.
Sayangnya, drummer legendaris Keith Moon juga gak bisa bergabung karena keburu meninggal dunia. Padahal, gaya drumming uniknya sangat dinanti-nantikan menambah warna khas The Who.
Satu Lagu, Sejuta Kenangan
Kenapa hanya satu lagu? Ternyata, proyek Rockestra ini awalnya dibuat buat memenuhi visi McCartney tentang kolaborasi musik yang out of the box. Itu bukan sebuah band, melainkan sesi rekaman untuk sebuah proyek. Tapi, para musisi yang terlibat tampaknya sangat menikmati prosesnya. Pada tahun 1979, banyak dari mereka yang kembali tampil membawakan "Rockestra Theme" di konser untuk Kampuchea.
Intinya, proyek Rockestra ini adalah bukti bahwa kreativitas tak mengenal batas. Meski cuma menghasilkan satu lagu, dampaknya tetap terasa hingga sekarang. Bahwa, impian menggabungkan para legenda musik rock dalam satu panggung, well, setidaknya pernah hampir terwujud. Semoga saja suatu saat nanti ada lagi proyek kolaborasi musik seheboh ini.