Di tengah gempuran smartphone yang desainnya gitu-gitu aja, tiba-tiba muncul angin segar dari Motorola. Bayangkan, ponsel dengan casing belakang bertekstur kanvas? Yup, bukan kulit imitasi biasa atau plastik glossy yang sudah terlalu mainstream. Motorola Edge 60 Fusion hadir mencoba mencuri perhatian dengan sentuhan unik yang bikin kita bertanya, serius nih, kanvas? Sebuah langkah berani di segmen midrange yang persaingannya seperti medan perang tak berkesudahan.
Motorola, sebuah nama yang tak asing lagi di jagat teknologi, memang punya sejarah panjang dalam inovasi. Dari ponsel flip ikonik hingga eksperimen desain yang kadang out-of-the-box, mereka seolah tak pernah lelah mencari diferensiasi. Seri Edge sendiri diposisikan untuk mengisi celah antara ponsel flagship dan kelas menengah, menawarkan fitur premium tertentu dengan harga yang lebih bersahabat. Kehadiran Edge 60 Fusion menandai dimulainya generasi baru dari lini ini.
Pasar smartphone midrange saat ini memang sedang panas-panasnya. Banyak vendor berlomba menawarkan spesifikasi gahar dengan harga miring, membuat konsumen dimanjakan sekaligus bingung memilih. Di sinilah Motorola mencoba bermain kartu yang berbeda. Alih-alih hanya fokus pada perang spesifikasi di atas kertas, mereka menyuntikkan elemen gaya dan keunikan desain yang mungkin sulit ditemukan pada kompetitor di rentang harga serupa.
Munculnya Edge 60 Fusion adalah jawaban Motorola untuk pasar yang jenuh dengan desain monoton. Ponsel ini menjadi pembuka dari seri Edge 60, yang kemungkinan akan disusul oleh beberapa model lain, mengikuti pola tahun sebelumnya dengan seri Edge 50 yang punya lima varian. Ini menunjukkan komitmen Motorola untuk terus bermain di segmen midrange yang gemuk, namun dengan strategi yang sedikit berbeda dari biasanya.
Sebagai anggota baru keluarga Edge, Fusion membawa ekspektasi tertentu. Ia diharapkan mampu menyeimbangkan antara harga, performa, dan fitur, sambil tetap menonjolkan ciri khas Motorola. Tantangannya jelas: meyakinkan konsumen bahwa keunikan desain dan beberapa fitur unggulan cukup untuk menebus kompromi di sektor lain, terutama jika dibandingkan dengan rival yang mungkin lebih unggul di sisi chipset atau kamera.
Pertanyaan besarnya, apakah strategi fokus pada desain unik ini akan berhasil? Konsumen di segmen midrange seringkali sangat sensitif terhadap harga dan perbandingan spesifikasi. Namun, tak bisa dipungkiri, ada segmen pasar yang mendambakan smartphone yang tidak hanya fungsional tapi juga merefleksikan gaya personal mereka. Edge 60 Fusion jelas membidik ceruk pasar ini.
Perkenalan Edge 60 Fusion di pasar Inggris dengan harga £299.99 (sekitar $390 atau setara 6 jutaan Rupiah jika dikonversi langsung, tapi ingat harga bisa beda jauh kalau masuk sini ya!) menempatkannya di kategori yang cukup kompetitif. Dengan harga tersebut, ia harus bersaing ketat dengan banyak ponsel lain. Mari kita bedah lebih dalam apa saja yang ditawarkan ponsel berpenampilan nyentrik ini.
Desain Beda, Tahan Banting Pula?
Daya tarik utama Edge 60 Fusion tak diragukan lagi adalah pilihan finishing-nya. Varian warna "amazonite" (sebut saja biru kehijauan atau teal) hadir dengan tekstur faux-canvas alias kanvas imitasi yang unik. Sementara dua warna lainnya, biru dan pink, menggunakan finishing faux-leather atau kulit imitasi. Sebuah pilihan material yang jarang disentuh vendor lain, memberikan kesan artsy dan less mainstream.
Selain soal tekstur, Motorola juga memperhatikan aspek ketahanan. Ponsel ini dibekali sertifikasi IP68 dan IP69. Artinya? Ia bukan cuma tahan debu dan direndam dalam air (IP68), tapi juga tahan semprotan air bertekanan tinggi dan suhu tinggi (IP69). Jadi, kalau tidak sengaja tercuci atau kehujanan deras saat touring, ponsel ini punya peluang selamat lebih besar. Lumayan ‘kan, buat yang suka aktivitas outdoor atau agak ceroboh?
Secara fisik, Edge 60 Fusion versi Inggris tampil ramping dengan ketebalan kurang dari 8mm, cukup mengesankan mengingat baterai yang dibawanya. Desain modul kameranya juga terlihat modern dan menyatu mulus dengan bodi belakang. Meskipun materialnya imitasi, upaya Motorola untuk memberikan nuansa berbeda patut diapresiasi di tengah lautan ponsel berbahan kaca atau plastik.
Layar OLED Cerah, Baterai Cukup Tebal
Di bagian depan, kita disuguhi layar OLED berukuran 6.67 inci. Penggunaan panel OLED menjanjikan kualitas visual yang memanjakan mata dengan warna hitam pekat dan kontras tinggi, sebuah nilai tambah yang signifikan di kelas harganya. Ukuran layarnya juga cukup lega untuk menikmati konten multimedia atau scrolling media sosial sampai jempol lelah.
Soal daya tahan, model yang rilis di Inggris membawa baterai berkapasitas 5.200mAh. Kapasitas ini tergolong cukup besar dan seharusnya mampu menemani aktivitas seharian penuh. Menariknya, ada variasi spesifikasi internasional; beberapa pasar lain kabarnya mendapatkan versi dengan baterai lebih jumbo lagi, yaitu 5.500mAh, namun dengan konsekuensi bodi yang sedikit lebih tebal. Ada harga, ada rupa… atau ketebalan.
Kombinasi layar OLED yang biasanya lebih hemat daya dan baterai berkapasitas besar ini menjadi salah satu selling point penting. Bagi pengguna yang malas bawa power bank, kapasitas baterai Edge 60 Fusion bisa jadi pertimbangan serius. Sayangnya, informasi mengenai kecepatan pengisian dayanya belum terlalu detail di data awal ini.
Performa Midrange, Kamera yang ‘Menipu'?
Masuk ke bagian dapur pacu, Edge 60 Fusion menawarkan opsi RAM hingga 12GB dan penyimpanan internal hingga 512GB. Kapasitas ini tergolong sangat lega untuk kelas midrange, memungkinkan multitasking lancar dan penyimpanan banyak file tanpa khawatir kehabisan ruang. Namun, ada sedikit catatan di bagian chipset.
Ponsel ini ditenagai oleh MediaTek Dimensity 7300 atau 7400, tergantung pasar. Meski keduanya adalah chipset yang relatif baru, performanya masuk dalam kategori midrange standar, bukan yang terkencang. Ini bisa menjadi bottleneck potensial bagi pengguna yang butuh performa tinggi untuk gaming berat. Perbedaan antara 7300 dan 7400 pun disebut tidak signifikan, jadi performanya kurang lebih setara. Agak kentang mungkin buat main game AAA setting rata kanan.
Sektor kamera juga punya cerita unik. Jika dilihat sekilas, modul belakang tampak menampung empat lensa. Eits, jangan terkecoh! Dua ‘lingkaran' itu sebenarnya adalah lampu flash dan flicker sensor. Jadi, kamera fungsionalnya hanya ada dua: lensa utama 50 Megapixel dan lensa ultrawide 13 Megapixel. Sebuah konfigurasi yang cukup standar, tapi mungkin terasa kurang bagi yang berharap lebih banyak dari penampilannya.
Harga, Ketersediaan, dan Masa Depan Motorola
Seperti disebutkan, harga di Inggris cukup menarik (£299.99), namun ketersediaannya secara global masih tanda tanya besar, terutama untuk pasar seperti Amerika Serikat yang seringkali dilewati oleh seri Edge. Indonesia? Kita tunggu saja kabar baiknya, sambil berharap harganya tidak melambung tinggi jika benar-benar masuk. Seri Edge 60 ini diharapkan akan berkembang dengan model-model lain, mungkin ada versi Pro atau Ultra seperti generasi sebelumnya.
Sementara itu, Motorola juga dikabarkan sedang menyiapkan pembaruan untuk lini ponsel lipat Razr mereka. Rumor menarik menyebutkan kemungkinan adanya finishing kayu, mengingatkan kita pada Moto X rilisan 2014 yang ikonik. Ini seolah memperkuat dugaan bahwa Motorola sedang gencar bermain dengan material dan desain unik sebagai strategi diferensiasi mereka di berbagai segmen.
Secara keseluruhan, Motorola Edge 60 Fusion adalah tawaran yang menarik bagi mereka yang memprioritaskan desain unik, kualitas layar oke (OLED), ketahanan bodi (IP68/69), dan baterai besar. Namun, calon pembeli perlu menimbang kompromi pada sisi performa chipset yang standar dan konfigurasi kamera yang tidak semewah penampilannya. Ponsel ini adalah tentang tampil beda di tengah keramaian, sebuah pilihan gaya yang dibalut teknologi midrange.