in

Melawan Polusi Yang Terus Mencuat

Sosmed udah sesak sama polusi netizen, in real life masih mau ditambah polusi-polusi yang lain juga?

Maraknya kendaraan bermotor di Indonesia memang menimbulkan banyak polemik di masyarakat. Lihat aja, sekarang gampang banget untuk bisa membeli kendaraan, didukung dengan harga yang murah namun sebenarnya menghilangkan beberapa fitur keamanan untuk penumpangnya.

Lusa kemarin, Selasa (25/6), Jakarta heboh dengan beberapa cuitan dan Instagram story yang mengeluhkan keadaan buruknya polusi. “Lah kirain Jakarta ada kabut, padahal udah jam 08.00 pagi, ternyata asap,” cuitan salah satu warganet yang berada di Jakarta pada waktu itu. Berdasarkan IQAir AirVisual –aplikasi pemetaan kondisi udara, nilai AQI (Air Quality Index) di Jakarta mencapai 231 dimana AQI dibagi menjadi 6 tingkatan:

  • Nilai 0-50         : Good; ditunjukkan dengan warna hijau. Jarak pandang 5-10 km, tidak diperlukan perlindungan khusus.
  • Nilai 51-100     : Moderate; ditunjukkan dengan warna kuning. Beberapa polutan dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada sedikit kelompok orang missal pada orang yang sensitive terhadap ozon akan mengalami gangguan pernapasan. Jarak pandang 3-5 km.
  • Nilai 101-150   : Unhealthy for sensitive groups; ditunjukkan dengan warna orange.  Orang dengan penyakit paru, lansia, dan anak-anak sangat beresiko terpapar ozon dan bahan partikulat di udara.
  • Nilai 151-200   : Unhealthy; ditunjukkan dengan warna merah. Semua orang dapat terkena efek kesehatan. Jarak pandang 2-3 km, maka kurangi aktivitas di luar ruangan, gunakan masker di luar ruangan.
  • Nilai 201-300   : Very Unhealthy; ditunjukkan dengan warna ungu. Semua orang terkena gangguan kesehatan yang lebih berat. Jarak pandang <2 km.
  • Nilai 301-500   : Hazardous; ditunjukkan dengan warna marun.

AQI menjadi indeks yang menggambarkan tingkat keparahan kualitas udara di suatu wilayah. Menurut AirVisual, AQI dihitung berdasarkan enam jenis polutan utama, seperti PM 2.5, PM 10, karbon monoksida, asam belerang, nitrogen dioksida, dan ozon permukaan tanah.

Hal ini sempat dibantah oleh Kementerian KLHK dimana kualitas udara yang ada tidak buruk berdasarkan data KLHK. Karena pada batas sehat nasional, jumlah polusi di udara 2 kali lipat standar WHO. Make sense or not? Huh.

Ibaratnya gini, ketika standar internasional lebih tinggi dibanding standar nasional kenapa tidak diikuti saja? Toh justru lebih baik dan membuat kita lebih peka pada keadaan sekitar. Ketika sudah lebih dari standar, kita bisa beramai-ramai untuk mengurangi penyebab polusi udara, seperti menggunakan transportasi umum, memperbanyak kebun di seke liling (bisa dengan taman vertical atau taman dengan system hidroponik), mengurangi rokok, dan lain sebagainya.

Emm.. alih-alih penggunaan masker juga bukanlah solusi. Hal itu hanyalah alternatif penyelesaian masalah tanpa pencegahan. Mau sampai kapan kamu harus memakai masker?

Yuk, kita pikirkan bersama, kita hadapi dan kita tuntaskan dengan penuh gairah. Lakukan perubahan kecil sedari awal. Sedikit demi sedikit kita rubah pola kehidupan yang terasa merugikan Bumi.

Jadi, hal keren apa yang sudah kamu perbuat?

Lagi-lagi, S3 Digital Marketing Nih!

Demam Influencer di Indonesia, Apakah Bisa Bertahan Lama?