Dark Mode Light Mode

Kerentanan Indonesia terhadap Bencana dan Minimnya Upaya Mitigasi

Indonesia, negara kepulauan yang kita cintai ini, seringkali menjadi berita utama bukan karena prestasi gemilang atlet atau inovasi teknologi, melainkan karena rentetan bencana alam yang seolah tak pernah berhenti. Miris, tapi itulah kenyataannya. Kita berdiri kokoh di atas lempeng tektonik yang aktif, yang membuat kita rentan terhadap gempa bumi, tsunami, hingga letusan gunung berapi yang memukau sekaligus mematikan.

Sebagai negara yang katanya punya julukan "Zamrud Khatulistiwa", Indonesia memang punya pesona alam yang luar biasa. Tapi, di balik keindahannya, ada ancaman nyata yang siap memangsa kapan saja. Coba bayangkan, setiap tahun, Jakarta dan beberapa kota lain seperti Semarang, selalu punya agenda rutin banjir. Kayak udah jadi acara tahunan aja, ya kan?

Pendidikan Bencana: Cuma Jadi Pelajaran Mendadak?

Kamu tahu nggak, kalau Jepang itu contoh negara yang sangat peduli sama pendidikan kebencanaan? Mereka punya kurikulum khusus di sekolah, bahkan sering ada latihan evakuasi. Nah, di Indonesia? Pendidikan semacam ini masih seperti sesuatu yang mewah.

Di Indonesia, kebanyakan pengetahuan soal bencana itu munculnya cuma pas ada bencana. Setelah gempa, baru deh pada sibuk kasih pelatihan singkat. Tapi, setelah itu? Ya, langsung lenyap tak berbekas.

Kemiskinan: Bencana Ganda bagi Masyarakat

Faktor lain yang memperparah masalah ini adalah tingginya tingkat kemiskinan. Banyak orang yang terpaksa tinggal di daerah rawan bencana, seperti pinggiran sungai, pantai, atau lereng bukit karena keterbatasan ekonomi. Mereka ini yang paling sering jadi korban ketika bencana datang.

Contohnya, saat gempa Cianjur 2022 kemarin, komunitas-komunitas yang kurang mampu menjadi pihak yang paling menderita. Di Jakarta juga sama, banjir tahunan selalu menghantam daerah-daerah miskin, di mana warga tak punya pilihan selain tetap tinggal di sana. Pilihan yang sulit, ya kan?

Anggaran Dipangkas, Keselamatan Diabaikan?

Hal yang lebih bikin geleng-geleng kepala lagi adalah ketika pemerintah malah memangkas anggaran untuk badan-badan yang seharusnya menangani bencana. Ironisnya, lembaga yang paling terdampak adalah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Padahal, BMKG ini sangat penting untuk memberikan peringatan dini soal cuaca ekstrem dan potensi gempa bumi.

Pemotongan anggaran ini tentu saja berdampak buruk. Akurasi ramalan cuaca dan deteksi gempa bisa menurun, yang berarti masyarakat jadi semakin rentan terhadap bencana. Prioritasnya kok malah ke yang lain, sih? Beberapa program yang disorot pemerintah malah dinilai kurang efektif.

Kearifan Lokal: Pelajaran Berharga yang Terlupakan

Untungnya, ada beberapa komunitas di Indonesia yang punya kearifan lokal untuk menghadapi bencana. Coba tengok masyarakat Simeulue, Aceh, yang punya tradisi "Smong" untuk mengingatkan soal tsunami. Berkat pengetahuan ini, jumlah korban jiwa di Simeulue saat tsunami 2004 jauh lebih kecil dibanding daerah lain.

Sayangnya, kearifan lokal semacam ini seringkali hanya jadi cerita dari mulut ke mulut. Pemerintah sepertinya kurang tertarik untuk mengintegrasikannya ke dalam kebijakan nasional. Padahal, ini bisa jadi solusi yang sangat efektif, lho.

Saatnya Berbenah: Jangan Cuma Jadi Penonton

Kita semua tahu, Indonesia punya risiko bencana yang sangat tinggi. Tapi, solusinya juga bisa kita wujudkan bersama. Pendidikan kebencanaan yang berkelanjutan, anggaran yang cukup untuk penanganan bencana, dan penggabungan kearifan lokal adalah langkah-langkah penting yang harus kita ambil.

Selain itu, kita juga perlu mengatasi kesenjangan ekonomi agar masyarakat yang kurang mampu punya akses ke tempat tinggal yang lebih aman. Jangan sampai bencana terus berulang tanpa ada solusi yang real. Intinya, kita jangan cuma jadi penonton, tapi jadi bagian dari solusi untuk Indonesia yang lebih tangguh bencana.

Pemerintah dan masyarakat harus bergandengan tangan. Jangan sampai kita terus-terusan jadi korban, ya kan?

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Whitechapel: Himne di Whitechapel Dalam Diskonansi

Next Post

Kontroversi Brit Awards: Sabrina Carpenter dan Charli XCX picu 825 aduan Ofcom, sorotan tajam bagi citra acara