in ,

Kekerasan Finansial Mulai Merebak

Kekerasan finansial bukanlah hal baru. Namun banyak diantara kita yang belum akrab dengan istilah ini. Kita lebih akrab dengan kekerasan fisik atau kekerasan verbal oleh pasangan, ketimbang kekerasan finansial.

Fenomena kekerasan finansial mulai banyak dibicarakan ketika perkembangan layanan jasa pinjaman online menjamur. Fintech Lending secara gampang dan sembarangan memberikan pinjaman ke nasabah. Sedangkan para nasabah  yang mendapatkan pinjaman dengan syarat ringan, biasanya abai (baca: malas) dalam membayar tagihan. Parahnya lagi, nasabah diteror dari segala platform komunikasi.

Sama dengan dunia asmara, kekerasan finansial di dunia asmara juga muncul karena faktor yang sama dengan fintech lending. Salah satu pasangan terbiasa mengucurkan dana, dan lawan pasanganya terbiasa menikmati kondisi itu. Hal yang paling sering kita jumpai adalah stereotip bahwa cowok harus nraktir ceweknya setiap kali nge-date merupakan bentuk penekanan dan kekerasan finansial.

Terkadang, salah satu pihak menuntut untuk dibeliin sesuatu yang entah mahal atau terjangkau. Jika tidak dikabulkan akan marah, minimal ngambek. Hal seperti itulah yang membuat salah satu pihak pasangan ini merasa tertekan dan diharuskan untuk mengorbankan sejumlah materi untuk pasanganya.

Komunikasi memang penting, tapi perlu di ingat, menyamakan mindset lebih penting. Semisal, si perempuan belum bekerja dan kebetulan masih kuliah, sedangkan pasanganya sudah bekerja dan berpenghasilan. Kemudian si pria selalu bayarin ketika ngedate. Haruskah si perempuan ini split bills dengan kondisi yang belum berpenghasilan itu? Sekali lagi ini masalah mindset. Kalau si perempuan mempunyai mindset split bills, dia akan nawarin “makan nasi warteg deket kampus yuk, gantian aku yang bayarin” atau “eh ini parkirnya aku aja yang bayar”.

Sadar diri saja sih. Ini berlaku baik untuk cewek atau cowok. Diskusikan baik-baik, kapan gantian mbayarin. Kalian ngedate bareng, seneng sedih bareng, masa ya apa-apa hanya sepihak yang merasakan. Senyamanya saja, jangan sampai ada pihak yang nggak nyaman.

Pacaran itu hanya untuk orang dewasa, baik dewasa secara umur, pemikiran, dan juga finansial. Kalau dari awal belum ada kedewasaan di point tersebut, mending jangan pacaran dulu apalagi sampai berencana menikah. Pacaran itu latihan untuk menuju masalah berikutnya, yaitu menikah.

Masalah di pernikahan lebih kompleks. Kekerasan finansial di dalam dunia pernikahan juga lebih beragam bentuknya. Hanya saja, pemakluman di dalam rumah tangga ini yang menyebabkan kekerasan finansial menjadi tidak terlihat. Anehnya, kebanyakan pelaku kekerasan finansial disini justru dari pihak suami.

Iya betul, suami memang yang bertanggung jawab dalam mencari nafkah. Tidak sedikit harga diri semua merasa tergores ketika istri bekerja. Sampai-sampai suami menyuruh istrinya untuk berhenti bekerja hanya untuk menyelamatkan harga dirinya. Padahal bisa saja seorang istri bekerja untuk eksistensi dalam karier, bukan semata-mata untuk mencari uang. Berjuang bersama di dalam rumah tangga bukan berarti membatasi impian istri atau pasangan.

Hal sepele yang menurut kita wajar, ternyata itu juga merupakan ciri-ciri kekerasan finansial. Suami menuntut makan enak, namun uang belanjanya sangat terbatas dan jumlahnya jauh dari kata cukup. Parahnya, si suami ini menyuruh istri untuk membuat laporan sekecil apapun uang yang digunakan. Ini merupakan tindakan yang semena-mena dan jangan didiamkan saja.

Kekerasan finansial yang lagi lumayan ramai adalah suami sering menggunakan tabungan keluarga untuk kepentingan dirinya sendiri. Misal: buat beli mainan robot. Duh.. 🤦

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Kita Tujuhcahaya

Cara Menulis Yang Bagus