Hijau Itu Gak Harus Lumut, Apalagi Kalau Soal Duit
Wahai anak muda, pernahkah kamu merasa dunia ini semakin aneh bin ajaib? Mulai dari influencer yang jualan skincare padahal mukanya lebih kinclong dari kualitas filter Instagram, sampai politisi yang hobinya tebar janji manis. Tapi, ada satu hal yang mungkin luput dari perhatian kita: perdebatan seru soal energi, khususnya energi hijau yang katanya bisa bikin dunia lebih sejuk daripada AC di kamar kosan.
Sekarang, bayangkan kamu lagi ngopi cantik di kafe sambil baca koran digital. Di sana, para pemimpin industri lagi pada ribut. Gara-garanya, Amerika Serikat, yang dulu sok-sokan jadi pahlawan lingkungan, sekarang malah minggat dari Perjanjian Paris. Alasannya? Katanya sih, mau fokus ke "kepentingan nasional" yang entah apa definisinya.
Jangan Mau Kalah Sama Negara yang Perang Dinginnya Udah Selesai
Persatuan Pengusaha Kawasan Indonesia (HKI) sampai turun tangan. Mereka dengan tegas bilang, "Jangan ikut-ikutan, dong!" Mereka menyadari betul, kalau Indonesia nge-cap energi hijau adalah sebuah keharusan. Bayangin, gimana mau narik investor asing kalau pabrik-pabrik kita masih ngebulin asap kayak kereta uap zaman baheula? Mereka bilang, kalau kita gak serius soal energi hijau, siap-siap aja nggak laku di pasar global.
Wakil Ketua HKI, Didik Prasetiyono, dengan lantang berkata kalau kawasan industri harus punya daya saing global. Bukan cuma jago kandang, tapi juga harus menarik investor asing yang sekarang ini pada ngebet energi ramah lingkungan. “Energi hijau itu wajib ada. Gara-gara Trump keluar [dari Perjanjian Paris], bukan berarti kita juga harus ikut keluar,” lanjutnya. Tegas, tapi tetap sopan.
Di sisi lain, Ketua HKI, Sanny Iskandar, juga ikut curhat. Katanya, banyak kawasan industri di Indonesia yang masih kekurangan pasokan energi dan air. Padahal, buat mereka, dua hal itu adalah "napas" kehidupan. Kalau pasokan gak stabil, gimana mau berkembang? Gimana mau narik investasi? Ibaratnya, mau jualan gorengan aja, minyaknya gak ada.
Birokrasi: Monster yang Bikin Bisnis Susah Tidur
Selain energi dan air, Sanny juga menyinggung soal birokrasi. Siapa yang tidak muak dengan keruwetan urusan perizinan? Menurutnya, penyederhanaan birokrasi, keringanan pajak, pembebasan bea masuk, dan kemudahan perizinan adalah kunci untuk menjaga daya saing. Kalau urusan perizinan aja rumitnya minta ampun, investor bisa kabur ke negara lain yang lebih friendly.
Bayangkan, kamu punya ide bisnis keren. Tapi, pas mau urus izin, malah disuruh bolak-balik ngurus dokumen. Capek, kan? Belum lagi kalau ada oknum yang minta "uang rokok" biar urusannya lancar. Inilah salah satu penyakit kronis yang harus segera diobati.
Energi Hijau: Bukan Cuma Soal Lingkungan, Tapi Juga Uang dan Kekuasaan
Penarikan Amerika Serikat dari Perjanjian Paris jelas bikin gaduh. Ini bukan cuma soal lingkungan, tapi juga soal ekonomi dan power. Negara-negara maju, termasuk Indonesia, harus pintar-pintar mengambil kesempatan. Saat Amerika Serikat mundur, peluang untuk leading di bidang energi hijau semakin terbuka lebar. Jangan sampai kita jadi penonton, sementara negara lain sibuk membangun masa depan.
Investasi di energi hijau bukan cuma soal menyelamatkan bumi, tapi juga soal menciptakan lapangan kerja baru, mengembangkan teknologi canggih, dan meningkatkan daya saing. Selain itu, energi hijau juga bisa bikin kita lebih mandiri, nggak tergantung sama negara lain. Ibaratnya, punya duit sendiri, nggak perlu ngemis sana-sini.
Mundur dari Perjanjian Paris memang hak Amerika Serikat. Tapi, bukan berarti kita harus ikut-ikutan. Kalau kita mau jadi negara maju, kita harus punya visi yang jelas. Kita harus berani mengambil keputusan yang berani. Kita harus berani berinvestasi dalam energi hijau.
Jangan Lupa, Hijau Juga Warnanya Duit
Perjanjian Paris sendiri adalah kesepakatan dunia untuk bersama-sama mengurangi emisi gas rumah kaca. Tujuannya, ya, biar bumi nggak kepanasan kayak di neraka. Penarikan Amerika Serikat dari perjanjian ini adalah hal yang menyedihkan. Tapi, di sisi lain, ini juga bisa jadi peluang buat Indonesia.
Masa Depan di Tangan Kita, Tapi Jangan Lupa Bayar Tagihan Listrik
Jadi, gimana guys? Apakah kita mau terus bergelut dengan energi fosil yang bikin polusi? Atau, kita mau beralih ke energi hijau yang lebih bersih, lebih berkelanjutan, dan lebih menguntungkan? Jawabannya ada di tangan kamu. Mari kita dukung investasi di energi hijau, dukung kebijakan yang pro-lingkungan, dan jadilah konsumen yang cerdas.
Ingat, masa depan ada di tangan kita. Tapi, jangan lupa bayar tagihan listrik, ya!