Indonesia Makin Dekat dengan OECD: Mimpi Jadi Negara Kaya Raya?
Indonesia, negara kepulauan dengan sejuta pesona, baru saja mengumumkan bahwa mereka selangkah lebih dekat dengan impian menjadi anggota penuh Organization of Economic Co-operation and Development (OECD). Sebuah kabar yang terasa seperti spoiler dari film yang sudah lama dinanti-nantikan, ya kan? Kabar ini tentu saja menimbulkan berbagai reaksi, mulai dari antusiasme hingga sedikit keraguan, mengingat jalan yang harus ditempuh untuk mencapai "negara kaya" ini tidaklah mudah.
Apa Sih OECD Itu dan Kenapa Indonesia Begitu "Ngebet"?
OECD, singkatnya, adalah klub eksklusif negara-negara maju yang punya standar tinggi dalam berbagai aspek, mulai dari ekonomi, kebijakan publik, hingga lingkungan. Mereka seperti "geng" elit yang punya aturan main ketat, dan Indonesia, dengan semangat membara, ingin sekali bergabung. Alasannya sederhana: menjadi bagian dari OECD diharapkan bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi, meningkatkan daya saing, dan secara ajaib membuat negara ini lebih menarik bagi investor asing. Siapa yang nggak mau kan? Walaupun, mungkin ada sedikit rasa khawatir tentang dampak "aturan ketat" ini pada kedaulatan ekonomi kita.
Langkah awal sudah dimulai dengan penyerahan initial memorandum, sebuah dokumen yang berisi penilaian diri Indonesia terhadap standar OECD. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Bapak Airlangga Hartarto, bahkan sampai blusukan ke Paris untuk bertemu dengan Sekretaris Jenderal OECD, Bapak Mathias Cormann. Usaha yang terlihat jelas, mengingatkan kita pada perjuangan mendapatkan tiket konser idola, nggak mau ketinggalan sedikitpun!
Mimpi Jadi Negara Maju?
Proses menuju keanggotaan OECD tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Indonesia harus melewati serangkaian review teknis yang ketat. Komite-komite OECD akan meneliti secara mendalam kebijakan dan regulasi Indonesia, dan mungkin akan ada banyak saran perubahan yang harus diikuti. Intinya, Indonesia harus membuktikan diri layak masuk ke "geng" ini dengan memenuhi semua persyaratan yang ada. Tantangan yang cukup berat, tapi bukan berarti tidak mungkin, kan?
Pemerintah bahkan telah memasukkan rencana aksesi OECD dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, sebuah bukti bahwa ini bukan hanya sekadar gimmick politik, tapi memang menjadi prioritas. Bahkan, Bapak Prabowo Subianto juga memasukkan hal ini dalam Asta Cita atau delapan misi utama kepresidenannya. Wah, benar-benar serius nih! Semoga saja langkah ini bukan cuma sekadar mimpi di siang bolong, ya.
Antara BRICS dan OECD: Pilih Mana?
Menariknya, upaya Indonesia menjadi anggota OECD ini terjadi di tengah keanggotaan Indonesia di BRICS, sebuah kelompok negara berkembang yang sering dianggap sebagai penyeimbang pengaruh negara-negara Barat. Bapak Prabowo sendiri sering menekankan keinginan untuk menjalin pertemanan dengan semua negara, sebuah diplomasi yang terlihat cukup fleksibel. Apakah ini berarti Indonesia sedang bermain di dua "kolam" sekaligus? Entahlah, yang jelas, kita berharap strategi ini bisa memberikan keuntungan maksimal bagi Indonesia.
Siap-Siap: Perubahan Itu Pasti
Perjalanan menuju OECD bukanlah tanpa konsekuensi. Indonesia harus siap menghadapi perubahan signifikan dalam berbagai aspek, mulai dari regulasi hingga praktik bisnis. Mungkin akan ada penyesuaian yang terasa tidak nyaman, tapi semua itu diharapkan akan membawa manfaat jangka panjang bagi masyarakat Indonesia, seperti peningkatan pendapatan dan kualitas hidup.
Pertemuan Bapak Airlangga dengan para duta besar negara-negara OECD di Paris menunjukkan bahwa pemerintah tidak main-main dalam upaya ini. Mereka ingin meyakinkan negara-negara anggota untuk memberikan dukungan penuh. Langkah yang patut diapresiasi, meskipun hasilnya belum pasti.
Bapak Cormann sendiri rencananya akan kembali mengunjungi Indonesia pada Oktober mendatang, sebuah tanda bahwa proses ini terus berjalan. Ia pernah mengatakan, "…proses akan berjalan secepat mungkin dan memakan waktu selama yang diperlukan." Menarik sekali.
Satu hal yang pasti, mimpi menjadi anggota OECD adalah cerminan dari ambisi Indonesia untuk menjadi negara maju. Sebuah mimpi yang membutuhkan kerja keras, komitmen, dan tentu saja, kesabaran.
Bahkan ketika kita menyaksikan proses ini. Apakah Indonesia sudah siap menghadapi persaingan dari negara negara OECD yang sudah lebih maju? Akankah Indonesia mampu mengejar ketertinggalan dan bersaing dengan mereka di panggung dunia? Atau jangan-jangan kita hanya akan menjadi penonton di tengah hingar bingarnya?
Dengan langkah-langkah yang diambil, kita berharap Indonesia akan semakin kuat secara ekonomi, lebih mampu menghadapi tantangan global, dan memberikan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang. Mari kita dukung usaha ini, sambil tetap kritis dan nggak lupa untuk terus memantau perkembangannya. Kita lihat saja nanti, apakah Indonesia berhasil mencapai impiannya atau malah nyungsep di tengah jalan.