Dark Mode Light Mode

Implikasi: Konflik Kim Kardashian, Kanye West, dan Mantan Istrinya

Taylor Swift dan Drama yang Menginspirasi Album “reputation”

Rasanya, dunia hiburan memang nggak pernah kehabisan drama, ya? Apalagi kalau sudah melibatkan nama besar seperti Taylor Swift. Album reputation yang sangat dinanti-nantikan ternyata punya latar belakang cerita yang cukup kompleks. Intinya, album ini menceritakan tentang cinta yang tumbuh di balik layar, sementara citra publik Swift hancur berantakan. Ditambah lagi, ada banyak lagu yang mengungkapkan betapa sakit hatinya Swift akibat ulah Kim Kardashian dan Kanye West.

Awal Mula Perseteruan: Insiden di MTV VMA 2009

Semua bermula dari insiden di MTV Video Music Awards 2009. Saat itu, Swift memenangkan penghargaan Best Female Video. Namun, Kanye West merasa Beyoncé yang seharusnya menang. Tanpa basa-basi, ia naik ke panggung, merebut mikrofon Swift, dan memberikan pengakuan pada Beyoncé. Meskipun sempat berbaikan di tahun 2015, perseteruan mereka kembali memanas setahun kemudian. Emang ya, luka lama itu susah sembuhnya.

Lagu "Famous" Kanye West dan Lirik yang Menghina

Pada awal 2016, Kanye West mengadakan pesta peluncuran album ketujuhnya, The Life of Pablo, di Madison Square Garden. Momen yang paling banyak dibicarakan adalah saat ia memutar lagu "Famous." Lagu itu berisi lirik yang merendahkan Taylor Swift. West bahkan mengklaim bertanggung jawab atas ketenaran Swift. Waduh, egois banget, ya? Namun, Swift dengan cepat menegaskan bahwa ia tidak menyetujui lagu tersebut.

Snapchat-Gate: Kim Kardashian Ungkap Rekaman Telepon

Pada 17 Juli 2016, Kim Kardashian membocorkan rekaman percakapan telepon antara Taylor Swift dan Kanye West di Snapchat. Tentu saja, rekaman itu sudah diedit sedemikian rupa sehingga seolah-olah Swift menyetujui lirik lagu "Famous." Padahal, menurut perwakilan Swift, doi hanya menyetujui beberapa bagian saja, dan tidak dengan kalimat "that b***." Duh, kok bisa ya temen sendiri di-”gitu”-in?*

Munculnya Tagar #TaylorSwiftIsOverParty

Sebelum publik tahu kebenarannya, Kardashian dan West berhasil memutarbalikkan opini publik. Swift yang saat itu berada di puncak karier, tiba-tiba jadi sasaran kebencian. Tagar #TaylorSwiftIsOverParty pun muncul di Twitter. Keluarga Kardashian ikut meramaikan dengan menyebutkan bahwa hari itu adalah National Snake Day, yang kemudian membuat kolom komentar Instagram Swift banjir emoji ular. Nggak kebayang, sih, rasanya gimana diteror sebegitunya.

Kembalinya Taylor Swift dengan Era "reputation"

Setelah menghilang dari sorotan publik, Swift kembali dengan album reputation pada Agustus 2017. Comeback yang sangat dinantikan ini ditandai dengan semua postingan di media sosialnya yang dihapus, lalu muncul video cuplikan bagian tubuh hewan yang akhirnya mengarah ke gambar ular. Doi seolah ingin menunjukkan bahwa dirinya telah berubah menjadi sosok yang lebih kuat dan tak peduli dengan omongan orang. Di album ini, Swift benar-benar tampil sebagai sosok yang penuh "kebencian", merespons balik segala drama yang menimpanya.

Taylor Swift Jadi Sosok "Villain"

Dalam video musik "Look What You Made Me Do," ia mengejek semua kritik publik yang diterimanya selama setahun terakhir. Ia seolah berkata, “Oke, kalau kalian mau aku jadi villain, aku akan jadi villain. Kalian mau aku jadi ular? Oke, aku akan jadi ular." Lagu-lagu seperti "I Did Something Bad" dan "This Is Why We Can't Have Nice Things" menjadi bukti bahwa Swift tidak lagi menjadi korban, melainkan sosok yang berani melawan.

Album reputation ini benar-benar jadi momen penting bagi karier Swift. Doi nggak lagi mencoba menyenangkan semua orang, tapi lebih fokus pada dirinya sendiri. Ia menunjukkan bahwa pengalaman buruk itu bisa mengubah seseorang menjadi lebih kuat. Bahkan, dalam album The Tortured Poets Department (TTPD), dia menulis lagu "thanK you aIMee" yang secara tersirat menceritakan tentang pengalamannya. Itu membuktikan bahwa badai pasti berlalu, dan pelajaran hidup selalu ada.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Peter Moore: Perang Konsol PlayStation vs Xbox Dulu Sehat, Kini Meredup

Next Post

Kanker Payudara: Mayoritas Ditemukan Terlambat, Implikasi Serius bagi Kesehatan