Kamu tahu, kan, rasanya ketika kamu lagi semangat-semangatnya mau hidup sehat dan ramah lingkungan, eh, tiba-tiba ada berita yang bikin mood langsung turun drastis? Nah, berita tentang rencana pemerintah yang mau kasih konsesi hutan konservasi itu persis kayak gitu, deh. Kok bisa, sih, hutan yang seharusnya dijaga malah mau dikasih ke pihak lain?
Rencana Kementerian Kehutanan buat ngasih konsesi di kawasan konservasi ini, jujur, bikin kita mikir keras. Prioritasnya sebenarnya apa, sih? Kok, seolah-olah kepentingan bisnis dan ekonomi lebih penting daripada komitmen nyata buat restorasi hutan? Padahal, kita semua tahu, hutan itu paru-paru dunia, aset berharga yang nggak ternilai harganya.
Kementerian Kehutanan, melalui Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, lagi nyusun draf peraturan menteri tentang restorasi kawasan konservasi. Rencananya, mereka mau kasih konsesi restorasi hutan selama 30 tahun atau bahkan lebih. Katanya, sih, ini solusi yang saling menguntungkan antara pemerintah dan dunia usaha. Pemerintah dapat manfaat dari restorasi kawasan konservasi yang rusak, sementara dunia usaha dapat carbon credit, atau hak untuk emisi karbon yang bisa diperdagangkan.
Hutan Konservasi: Dijual Demi Cuan?
Nah, di sinilah mulai muncul pertanyaan-pertanyaan kritis. Mekanisme carbon trading ini kan memungkinkan perusahaan buat beli izin buat menghasilkan emisi sebagai kompensasi atas pengurangan karbon di tempat lain. Tapi, sering kali, carbon credit cuma jadi alat kompensasi tanpa benar-benar ngurangin polusi. Perusahaan gede, bukannya ngurangin emisi sendiri, malah cuma perlu beli carbon credit buat menciptakan ilusi keberlanjutan. Kayak beli tiket buat masuk surga, padahal kelakuan masih sama.
Rencana pemerintah ini jelas-jelas bertentangan sama komitmen buat mencapai target emisi nol bersih di tahun 2060. Faktanya, emisi karbon Indonesia terus naik, bahkan mencapai 41,6 miliar ton di tahun 2024. Ironisnya, pemerintah malah makin mempermudah para "produsen emisi" buat terus ngepolusi lingkungan, asalkan mereka bisa menebusnya lewat sistem carbon offset dengan beli carbon credit. Ujung-ujungnya, duit lagi yang bicara.
Greenwashing? Atau Memang Sengaja?
Tapi, ada lagi nih ancaman di balik skenario konsesi ini: penyalahgunaan dan kepentingan tersembunyi. Perdagangan karbon menawarkan potensi keuntungan yang besar. Nggak heran kalau banyak perusahaan yang bilang siap buat merestorasi kawasan konservasi. Pemerintah, sepertinya, malah terburu-buru mengakomodasi kepentingan mereka dengan nyusun aturan main yang membuka pintu buat eksploitasi lebih lanjut. Mungkin ini yang namanya "bisnis ramah lingkungan".
Ini jelas cara pemerintah buat lepas tanggung jawab atas perlindungan hutan. Restorasi kawasan konservasi seharusnya nggak diperdagangkan dengan pihak swasta cuma buat keuntungan ekonomi. Pihak swasta, tentu saja, boleh ikut serta dalam upaya restorasi. Tapi, keterlibatan mereka harus sesuai sama prinsip-prinsip konservasi yang ketat, bukan buat melegitimasi kerusakan lingkungan yang lebih besar.
Pemerintah seharusnya lebih hati-hati dan transparan dalam meninjau ulang rencana regulasi ini. Hutan konservasi itu paru-paru negara ini dan juga dunia. Jangan sampai ambisi buat keuntungan jangka pendek justru berujung pada kehancuran ekosistem yang tak ternilai harganya. Meskipun, kalau dipikir-pikir, bisa jadi pemerintah memang sengaja melakukan greenwashing. Jangan heran, banyak hal bisa disulap jadi "hijau" kalau ada duitnya.
Mengapa Kita Harus Peduli?
Pertanyaan mendasar yang harus kita tanyakan adalah: Kenapa kita, generasi Z dan milenial, harus peduli banget sama isu ini? Jawabannya sederhana: karena kita yang akan merasakan dampaknya langsung. Perubahan iklim, polusi, hilangnya keanekaragaman hayati, semua itu bukan cuma cerita di koran atau layar kaca. Ini adalah masalah nyata yang akan memengaruhi kualitas hidup kita, bahkan kelangsungan hidup planet ini. Jangan sampai kita cuma jadi penonton yang pasrah.
Kita nggak bisa lagi cuma diam dan menerima begitu saja kebijakan yang merusak lingkungan. Kita harus bersuara, menuntut transparansi, dan mendorong pemerintah untuk bertindak lebih bertanggung jawab. Kita harus mendukung inisiatif-inisiatif yang pro-lingkungan, mulai dari hal-hal kecil seperti mengurangi penggunaan plastik, sampai mendukung gerakan-gerakan yang lebih besar.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Lalu, apa yang bisa kita lakukan sebagai individu? Banyak! Mulai dari mengedukasi diri sendiri tentang isu-isu lingkungan, hingga menyebarkan informasi ke teman-teman dan keluarga. Kita bisa mendukung produk-produk yang ramah lingkungan, mengurangi konsumsi energi, dan ikut serta dalam kegiatan-kegiatan konservasi. Sekecil apapun tindakan kita, kalau dilakukan bersama-sama, pasti akan berdampak besar.
Pemerintah adalah wakil kita. Mereka seharusnya bekerja untuk kepentingan rakyat, termasuk menjaga lingkungan hidup kita. Jangan biarkan mereka mengambil keputusan yang merugikan kita. Kita harus terus mengawasi, mengkritisi, dan menuntut perubahan. Karena, masa depan planet ini ada di tangan kita.
Ini bukan cuma soal hutan, ini soal masa depan kita.