Bisnis Hutan: Selamat Datang di Era "Hijau" yang Lebih Gelap
Pernah nggak sih kamu mikir, kenapa isu lingkungan selalu jadi topik hangat tapi kok hutan masih aja ditebang? Nah, ada nih program namanya REDD+ yang tujuannya sih keren, buat negara-negara di belahan bumi selatan dapet duit kalau mau jaga hutan. Tapi, realitanya nggak semulus itu, guys. Mari kita bedah, kenapa investasi triliunan rupiah buat selamatkan hutan, isinya cuma drama.
REDD+, singkatan dari "Reducing Emissions from Deforestation and Degradation," dibuat dengan semangat yang membara: memberi insentif finansial ke negara berkembang agar mereka melindungi hutan. Bayangin, kamu nggak nebang pohon, eh malah dapet duit. Tapi, kenyataannya, uangnya nggak selalu sampai ke orang yang seharusnya.
REDD+ : Janji Manis di Atas Kertas
Program ini dimulai dengan harapan besar, dianggap sebagai solusi cepat dan murah untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Tapi, ternyata, pelaksanaannya jauh lebih rumit dan mahal dari yang diperkirakan. Ibaratnya, kayak beli sepatu online, fotonya sih bagus, pas dateng…hmm, beda ekspektasi.
Penelitian bertahun-tahun nunjukin, banyak aktor yang terlibat di REDD+, mulai dari pemerintah, LSM, sampai perusahaan swasta. Masalahnya, kekuatan mereka nggak imbang, dan ini ngebuat kemajuan buat stop deforestasi jadi sulit. Yang kuat makin berkuasa, yang lemah makin terpinggirkan. Miris, kan?
Kekuatan Politik dan Aroma Duit yang Menggiurkan
Deforestasi terus terjadi, seringkali didorong oleh kepentingan politik dan ekonomi yang kuat. Lembaga pemerintahan, kepentingan aktor yang dominan, serta ide dan informasi yang saling bertentangan tentang hutan, jadi penghalang utama perubahan. Ujung-ujungnya, hutan cuma jadi komoditas.
Satu hal yang bikin geleng-geleng kepala, data populasi penduduk sering kali dijadikan patokan untuk laju deforestasi. Ini membuat asumsi keliru bahwa pertumbuhan penduduk selalu menjadi penyebab utama hilangnya hutan. Padahal, belum tentu juga, kan?
Kegagalan di Balik Gemerlap Janji
Selama 15 tahun berjalan, REDD+ punya banyak celah. Mulai dari kurangnya transparansi, janji palsu kepada masyarakat adat dan lokal, konflik hak tanah, sampai proyek yang gagal total. Sudah gitu, ada juga klaim palsu yang bikin geleng-geleng kepala.
Ada juga sih negara yang berhasil mengurangi deforestasi, kayak Brasil yang sukses menekan angka deforestasi hingga 80% dalam kurun waktu tertentu. Tapi, hasil positif ini sering kali nggak bertahan lama akibat perubahan rezim politik. Mirip cinta monyet, manisnya cuma sebentar.
Mengapa Perubahan yang Diinginkan Sulit Tercapai?
REDD+ memang punya beberapa dampak positif, seperti mendorong reformasi kebijakan di beberapa negara. Tapi, perubahan yang signifikan untuk menjaga hutan tetap berdiri sepertinya masih jauh. Pengakuan terhadap hak-hak masyarakat adat dan lokal juga belum berbuah manis.
Contohnya, di Brasil dan Indonesia, pengurangan deforestasi pernah terjadi. Tapi, menjaga perubahan itu tetap jadi tantangan besar. Sekarang, muncul pertanyaan kritis: Apakah REDD+ dan pasar karbon bisa benar-benar membawa perubahan yang berarti?
Kapitalisme Hijau: Selamat Datang atau Selamat Jalan?
Dorongan global menuju "pembangunan" ekonomi dan penguatan ekonomi neoliberal telah menyebabkan pemanfaatan alam yang berlebihan. Hal ini merusak peran hutan yang seharusnya dikelola oleh masyarakat adat dan lokal. Akhirnya, lingkungan hidup seakan hanya dijadikan objek untuk investasi dan keuntungan pribadi.
REDD+ semakin berorientasi pasar, fokus pada kredit karbon, modal, uang, dan pasar. Padahal, yang paling penting adalah keadilan ekologis. REDD+ seharusnya lebih fokus pada emisi dan pemerataan. Ini yang kemudian jadi pertanyaan utama: Apakah model bisnis yang berorientasi profit ini bisa menyelesaikan masalah lingkungan?
Perubahan yang Diinginkan: Bisakah Terwujud?
REDD+ pada dasarnya diharapkan mendorong perubahan transformatif dalam pengelolaan hutan. Tapi, yang terjadi malah sektor swasta dan mekanisme keuangan yang sebenarnya menjadi pemicu deforestasi, justru menjadi agen utama perubahan. Aneh, kan?
Sekarang pertanyaannya, bisakah para broker karbon REDD+ dan industri keberlanjutan yang berorientasi profit menjalankan bisnis "di luar kebiasaan"? Dan, perubahan itu bisakah dipertahankan jika mereka jadi tidak menguntungkan dalam jangka pendek?
Kesimpulannya, kita perlu terus mempertanyakan apa makna dari perubahan-perubahan ini, dan siapa yang diuntungkan. Ambisi "transformasi" sangat berisiko diambil alih oleh aktor yang menikmati untung dari status quo. Yang dulu bertujuan mengubah segalanya, malah bisa kembali ke bisnis seperti biasa, dengan deforestasi, degradasi hutan, dan emisi yang terus meningkat.