Maksud hati ingin membangun sanitasi yang layak di tempat pengungsian, seorang warga malah menemukan ‘kejutan' eksplosif dari masa lalu. Bayangkan saja, sedang asyik menggali lubang untuk septic tank, tiba-tiba cangkul membentur benda keras yang ternyata bukan batu biasa, melainkan belasan granat aktif peninggalan era Perang Dunia II. Kejadian ini sontak membuat panik warga lain yang tengah mengungsi dari erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Well, ini definisi sebenarnya dari gali lubang ketemu bahaya.
Peristiwa tak terduga ini terjadi di Desa Konga, Kecamatan Titehena, tempat sebagian warga lereng Gunung Lewotobi Laki-laki mencari perlindungan sementara. Erupsi gunung yang terjadi sejak akhir tahun lalu memang memaksa ribuan warga meninggalkan rumah mereka demi keselamatan. Kehidupan di pengungsian tentu penuh keterbatasan, termasuk soal fasilitas sanitasi, sehingga pembuatan septic tank menjadi salah satu kebutuhan mendesak bagi para pengungsi.
Namun, siapa sangka, upaya memperbaiki kondisi hidup di tengah bencana alam justru membuka kotak pandora berisi sejarah kelam peperangan. Penemuan ini terjadi pada hari Selasa, ketika seorang pengungsi pria tengah bekerja menggali tanah untuk keperluan pembangunan fasilitas sanitasi komunal tersebut. Tak tanggung-tanggung, benda-benda berbahaya itu terkubur hanya sekitar satu meter di bawah permukaan tanah, area yang cukup sering dilalui atau bahkan diinjak oleh para pengungsi lainnya.
Kepanikan pun tak terhindarkan saat menyadari bahwa benda-benda yang ditemukan bukan sekadar besi tua biasa. Ratusan butir amunisi dan belasan granat yang tampak sudah berkarat namun diduga masih aktif tersebar di dalam lubang galian. Para pengungsi yang sudah cukup cemas karena ancaman erupsi gunung, kini dihadapkan pada potensi bahaya ledakan dari peninggalan perang yang terkubur puluhan tahun lamanya. Situasi ini jelas menambah beban psikologis mereka.
Menanggapi laporan warga, aparat keamanan gabungan dari Kepolisian Resor Flores Timur dan personel TNI segera bergerak cepat menuju lokasi. Langkah pertama adalah mengamankan area penemuan agar tidak ada warga yang mendekat dan berpotensi menjadi korban. Keberadaan benda-benda eksplosif aktif di tengah pemukiman sementara pengungsi jelas merupakan prioritas keamanan tertinggi saat itu juga. Safety first, bahkan dari bahaya yang datang dari bawah tanah.
Juru Bicara Polres Flores Timur, Inspektur Satu Anwar Sanusi, mengonfirmasi kejadian tersebut dan langkah-langkah yang telah diambil. Menurutnya, penanganan temuan ini dilakukan dengan sangat hati-hati mengingat kondisi granat yang masih aktif. Proses identifikasi awal dan pengamanan lokasi menjadi fokus utama tim gabungan di lapangan sebelum tindakan lebih lanjut dapat dilakukan oleh tim ahli penjinak bom.
Gali Septic Tank Malah Panen Granat Aktif
Setelah dilakukan pemeriksaan awal dan pendataan oleh petugas di lokasi, terungkap jumlah temuan yang cukup signifikan. Total ada 16 buah granat dan 393 butir amunisi berbagai kaliber yang berhasil diangkat dari lubang galian tersebut. Seluruh benda temuan ini dalam kondisi berkarat dimakan usia, namun statusnya sebagai bahan peledak aktif tetap menjadi perhatian utama pihak berwenang. Bukan main, ini seperti menemukan gudang senjata mini warisan zaman baheula.
Granat yang ditemukan kemudian diidentifikasi sebagai granat tipe 97, sebuah jenis granat tangan yang banyak digunakan pada masa Perang Dunia II. Dengan panjang sekitar 9,6 sentimeter dan berat masing-masing 65 gram, desainnya cukup khas dan menjadi petunjuk kuat mengenai asal-usulnya. Penemuan ini seolah menjadi kepingan puzzle sejarah yang muncul kembali di tengah situasi darurat bencana alam modern.
Melihat bentuk dan jenisnya, kuat dugaan bahwa granat dan amunisi ini merupakan sisa-sisa pertempuran atau logistik yang ditinggalkan atau sengaja dikubur selama periode Perang Dunia II di wilayah tersebut. Flores Timur, sebagai bagian dari Kepulauan Nusa Tenggara, memang memiliki catatan sejarah terkait pendudukan dan pertempuran pada masa itu. Siapa sangka, jejaknya masih bisa ‘menyapa' kita dengan cara yang cukup bikin jantung berdebar kencang.
Penemuan ini juga menjadi pengingat bahwa di bawah tanah yang kita pijak, terkadang tersimpan lapisan sejarah yang belum terungkap, termasuk potensi bahaya yang menyertainya. Proses pembangunan, penggalian, atau bahkan aktivitas pertanian di beberapa wilayah memang berisiko mengungkap artefak atau sisa-sisa konflik masa lalu. Lesson learned: selalu waspada saat menggali, siapa tahu nemu ‘harta karun' berupa granat, bukan emas batangan.
Respons Cepat Aparat dan Nasib Granat Tua
Tindakan cepat dan terukur dari aparat gabungan TNI-Polri patut diapresiasi. Untuk mengantisipasi risiko terburuk, sebuah bunker sementara segera didirikan di lokasi yang cukup jauh dari area pemukiman pengungsi. Bunker ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara khusus untuk ke-16 granat aktif tersebut sambil menunggu kedatangan tim ahli penjinak bahan peledak (Jihandak).
Sementara itu, ratusan butir amunisi yang ditemukan telah dipindahkan dan diamankan di posko keamanan gabungan TNI-Polri yang berada di kompleks penampungan sementara. Pemisahan antara granat dan amunisi serta penyimpanannya di lokasi yang berbeda merupakan bagian dari prosedur standar keamanan untuk meminimalkan risiko jika terjadi insiden yang tidak diinginkan. Keamanan para pengungsi dan petugas menjadi prioritas nomor satu.
Langkah selanjutnya adalah menunggu kedatangan Tim Gegana Satuan Brimob Polda NTT yang akan diterjunkan langsung dari Kupang. Tim ahli inilah yang memiliki kapabilitas dan peralatan khusus untuk melakukan pemeriksaan lebih mendalam, identifikasi lanjutan, serta proses disposal atau penjinakan granat-granat tersebut secara aman. Proses ini membutuhkan keahlian tinggi dan tidak bisa dilakukan sembarangan.
Keberadaan bunker darurat dan pengamanan ketat di sekitar lokasi penemuan menjadi penting hingga Tim Gegana tiba dan mengambil alih penanganan. Koordinasi antara Polres Flores Timur, Kodim setempat, dan Polda NTT terus berjalan untuk memastikan seluruh proses berjalan lancar dan aman, tanpa menimbulkan kepanikan lebih lanjut di kalangan pengungsi yang sudah cukup tertekan.
Jejak Perang Dunia II yang Terkubur di Flores Timur
Penemuan granat Tipe 97 ini bukan sekadar insiden keamanan, tetapi juga membuka kembali lembaran sejarah Perang Dunia II di wilayah Flores Timur. Keberadaan artefak militer seperti ini menjadi bukti fisik aktivitas perang yang pernah terjadi di pulau tersebut puluhan tahun silam. Ini adalah pengingat nyata bahwa dampak konflik berskala global bisa meninggalkan jejak yang bertahan melintasi generasi, bahkan terkubur di bawah tanah pemukiman.
Wilayah Nusa Tenggara Timur, termasuk Flores, memang menjadi salah satu area strategis selama Perang Pasifik. Dokumentasi sejarah mencatat adanya pangkalan udara, pos-pos pertahanan, hingga pertempuran kecil di beberapa lokasi. Sangat mungkin granat dan amunisi yang ditemukan ini adalah bagian dari persenjataan pasukan Jepang atau Sekutu yang tertinggal, hilang, atau sengaja disembunyikan pada masa itu. Mungkin ada baiknya jika penelitian lebih lanjut tentang situs bersejarah dilakukan di area ini.
Kejadian ini juga secara tidak langsung memberikan ‘bonus' pelajaran sejarah bagi masyarakat setempat, khususnya generasi muda. Bahwa tanah yang mereka tinggali hari ini pernah menjadi saksi bisu peristiwa besar di masa lalu. Meskipun penemuan ini berawal dari kepanikan, ia juga bisa menjadi momentum untuk lebih memahami dan menghargai sejarah lokal serta potensi peninggalan masa lalu yang mungkin masih tersembunyi.
Kesimpulan: Bencana Alam dan ‘Kejutan' Sejarah
Penemuan belasan granat aktif dan ratusan amunisi peninggalan Perang Dunia II oleh pengungsi erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur adalah sebuah ironi yang menegangkan sekaligus menarik. Di tengah upaya mencari keselamatan dari ancaman alam, mereka justru berhadapan dengan ancaman buatan manusia dari masa lalu yang terkubur di bawah kaki mereka. Kejadian ini menyoroti pentingnya kewaspadaan dan respons cepat aparat dalam menangani situasi tak terduga yang melibatkan bahan peledak berbahaya, sekaligus menjadi pengingat akan lapisan sejarah yang tersembunyi di bumi pertiwi. Pelajaran pentingnya: selalu ada cerita di balik setiap jengkal tanah, kadang cerita itu bisa meledak.