Dark Mode Light Mode

Cryptosis – Ulasan Kematian Langit: Sangkakala Kiamat

Kematian Kosmik: Apakah Thrash Metal Masih Relevan di Era Sekarang?

Gimana, masih pada dengerin musik cadas, kan? Atau jangan-jangan, playlist kamu isinya cuma lagu-lagu yang viral di TikTok? Waduh, jangan sampai deh! Nah, kali ini kita mau ngomongin soal thrash metal, genre musik yang dulu nge-hits banget, tapi sekarang kok kayaknya mulai meredup. Tapi, tunggu dulu, apakah thrash metal benar-benar mati? Atau, dia hanya berevolusi?

Siapa sih yang gak kenal Cryptosis? Band asal Belanda ini, dengan album terbarunya Celestial Death, mencoba membuktikan bahwa thrash metal masih punya taji. Mereka nggak cuma jualan kecepatan dan distorsi, tapi juga mencoba meramu elemen-elemen lain. Mereka mencoba untuk keluar dari zona nyaman.

Jangan Takut Bereksperimen

Album ini sebenarnya Bionic Swarm dijadikan sebagai fondasi, tapi kali ini mereka lebih berani bereksperimen. Ada nuansa melodeath ala Gothenburg dan juga bebunyian post-metal yang bikin suasana jadi lebih "kosmik". Tapi tenang, mereka tetap mempertahankan skill dan kualitas musikalitas yang tinggi. Permainan drum yang ngebass itu masih jadi andalan, apalagi ditambah kreativitas dalam penggunaan cymbal dan part-part blasting yang di luar pakem thrash pada umumnya. Jangan lupakan juga synthesizer yang semakin dominan.

Gak cuma itu, vokal Laurens Houvert juga masih garang. Dengan kombinasi riff-riff gahar, album ini berhasil menyajikan pengalaman yang seru, sekaligus menantang. Jadi, kalau kamu tipe orang yang suka musik keras, tapi juga pengen denger sesuatu yang beda, Celestial Death bisa jadi pilihan. Jangan lupa, beberapa trek pada album ini punya kekuatan untuk membuat kamu ikut bergoyang dan mengangguk-angguk.

Antara Kejeniusan dan Kebosanan

Album Celestial Death ini, secara keseluruhan, emang cukup memanjakan telinga. Walaupun durasinya cuma sekitar 42 menit, tapi isinya padat dan berisi. Struktur album ini juga cukup unik, dengan adanya instrumental yang mengawali dan mengakhiri, serta membagi album ini menjadi dua bagian yang simetris. Di bagian awal ada komposisi non-thrash yang lebih eksperimental, sementara di bagian kedua lebih fokus pada nge-thrash dan bikin semangat.

Tapi, nggak semua percobaan itu berhasil. Beberapa bagian terasa kurang fokus dan malah bikin bosan. Misalnya, penggunaan synth yang terlalu lama. Tapi terlepas dari itu, Cryptosis patut diapresiasi karena berani keluar dari zona nyaman dan mencoba sesuatu yang baru.

Kembalinya Kekuatan Thrash

Di sisi lain, ada tiga lagu di bagian kedua album ini yang mengingatkan kita kenapa Cryptosis pantas diperhitungkan dalam percaturan thrash metal modern. Misalnya lagu "Reign Of Infinite", yang dibuka dengan riff yang membakar, dan hentakan drum yang bikin semangat. Ada juga instrumental di tengah album yang memberikan jeda sebelum kemudian kembali nge-thrash. "In Between Realities" juga jadi salah satu highlight, dengan chorus yang mudah diingat. Ditutup dengan "Cryptosphere" yang mengarah ke thrash ala Symphony X.

Album ini memang nggak gampang dicerna buat pendengar awam. Butuh beberapa kali putar supaya bisa benar-benar menikmati. Tapi, kalau kamu mau sedikit berusaha, kamu akan menemukan permata tersembunyi di dalamnya. Cryptosis seakan berhasil menemukan formula mereka sendiri dalam thrash metal modern.

Sebuah Penemuan Kembali?

Secara keseluruhan, Celestial Death menawarkan sesuatu yang berbeda. Album ini berhasil memadukan berbagai elemen, mulai dari thrash yang gahar, prog yang twisty, hingga atmosfer yang bikin merinding. Cryptosis sepertinya sudah berhasil menghindari jebakan thrash metal modern, dan menciptakan identitas mereka sendiri.

Jadi, apakah thrash metal masih relevan? Jawabannya: tergantung. Tergantung bandnya, cara mereka berinovasi, dan seberapa besar mereka berani keluar dari pakem. Cryptosis, dengan Celestial Death, membuktikan bahwa thrash metal belum mati. Ia hanya berubah.

Penilaian Akhir?

Sebagai penutup dari semua ini, Cryptosis menunjukkan kelasnya sebagai salah satu band thrash metal yang patut diperhitungkan di era sekarang. Album ini menawarkan pengalaman yang unik, dan membuktikan bahwa thrash metal masih punya tempat di hati para penggemar musik keras.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Core Keeper: Pembaruan Bags and Blasts Hadir 10 Maret, Tawarkan Pertarungan Boss Terbesar!

Next Post

Sekjen Vietnam To Lam Kunjungi Sekretariat ASEAN Perdana Kalinya, Perkuat Hubungan Regional